Membaca Yang Tak Tertulis

Boleh jadi, umat manusia bisa hidup secara dewasa, mandiri, dan kreatif ketika dibiarkan membaca dan memahami ayat-ayat yang tak tertulis ketimbang membaca ayat-ayat tertulis.

Pasalnya, spekulasi multitafsir dalam membaca dan memahami ayat-ayat tak tertulis lebih dapat diminimalisir ketimbang spekulasi multitafsir yang muncul dalam membaca dan memahami ayat-ayat yang tertulis. Ini diperkuat dengan kenyataan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad Saw diperintahkan membaca, padahal tak ada naskah yang tertulis hingga saat itu. Kalaupun ada naskah yang tertulis, beliau tetap tidak dapat membacanya karena beliau ummi, tidak mengenal bacaan yang tertulis.

Tetapi, yang jelas, beliau membaca ayat-ayat yang tak tertulis, yang menghantarkan beliau kepada kegemaran melakukan khalwat, semedi, perenungan, dan merasakan kehadiran Tuhan.

Lainnya

Tadabbur sebagai Wirid Al-Qur‘an

Substansi, Bukan Kulit

Tanda-Tanda

Tidak Boleh Melaknat

Buku dan Merchandise