Membaca Laku Hidup Mbah Nun (Kesaksian Abah Hamim Ahmad)

Wawancara Penggiat Damar Kedhaton dengan Abah Hamim Ahmad, kawan seperjalanan Mbah Nun sejak di Berlin

Denyut kehidupan khas perkampungan pesisir begitu kental terasa, ketika kami berenam–pegiat Simpul Maiyah Damar Kedhaton–berjalan menyibak keramaian Pasar Desa Campurejo. Orang lalu-lalang menenteng barang belanjaan. Sepeda motor tua dijagang tengah, joknya ditindih sekarung beras. Suara biji timbangan bersaing dengan serunya tawar-menawar antara pembeli dan penjual. Sesekali debu mengepul bercampur asap knalpot dan cipratan tepung. Di depan toko perlengkapan sekolah dan alat tulis, sesosok pria mengumbar senyum anggun menyambut kami.

“Sik ta’tutupe dhisik,” ujarnya setelah kami bergantian nyucup punggung tangannya. Gradak…gradak, pintu harmonika ditarik turun. Sejurus kemudian kami diajak melingkar di ruang tengah sebuah rumah kecil, persis di depan tokonya. Pagi itu, di kawasan Panceng, Gresik, kami sowan Abah Hamim Ahmad.

Secuil demi secuil kisah ia tuturkan. Ia turut menjadi saksi dan teman seperjalanan Mbah Nun di Berlin, Jogja dan Jombang. Kiranya, penggalan jejak laku Mbah Nun sedari masa muda, penting untuk dicatat dan diingat. Abah Hamim mengingatkan akan pentingnya menjadikan cerita ini sebagai referensi keteladanan, alih-alih sekadar penyubur kekaguman. Berikut kami sajikan petikannya.

Setahu kami, Mbah Nun saat muda mendapatkan kesempatan belajar di Belanda, tapi kenapa kemudian lebih memilih tinggal di Berlin?

Bagi mahasiswa di kawasan Eropa, pada era itu Berlin adalah Jogja-nya Eropa. Berlin menjadi kiblatnya kaum intelektual. Pergumulan pemikiran dan ideologi berlangsung di sana. Saya kira Cak Nun dengan ketajaman pertimbangannya, sengaja memilih kota ini. Selain itu, suasana pergaulannya juga lebih egaliter daripada kota-kota lain di Eropa. Cak Nun tidak meninggalkan Belanda. Ia rajin bolak-balik naik kereta dari Leiden ke Berlin.

Karakter atau sikap hidup seperti apa yang tampak diugemi Mbah Nun ketika bersama Njenengan di Berlin?

Cak Nun itu hidupnya sangat tidak terpengaruh dengan uang, tapi terpengaruh dengan masa depan. Jadi saat orang sibuk kerja, sibuk memenuhi keinginannya, beli pakaian atau apa, ia tak terpengaruh. Tak pernah sekalipun terjadi ia bertanya pada teman, “wah bajumu kok bagus, beli di mana?”. Jauh dari hawa materialisme. Jadi ia hampir tak pernah bekerja, cukup mengandalkan beasiswa, tapi juga tak pernah meminta-minta atau nebeng sana sini. Ia mandiri. Honor dari ia menulis di berbagai koran, langsung dikirim untuk keluarga di Indonesia. Saya melihat, di situ ia berpuasa dari keinginan yang lezat-lezat. Berpuasa sepanjang hidupnya di Jerman. Jarang orang bisa melakukan seperti itu. Di Berlin telur sangat murah. Kami sekali beli satu krat itu. Sehari-hari yang paling akrab di perut kami ya telur ceplok. Ketika saya sedang punya uang banyak, saya tawari ia untuk beli ini itu, ia nggak pernah mau. Saya ajak makan, ia selalu memilih yang paling murah. Nasi goreng.

Ia terlatih untuk menggunakan daya fokusnya dengan baik. Acap kali saya dapati ia menyelesaikan tulisan serius, sambil mengobrol atau menonton siaran sepakbola di TV. Kesungguhannya dalam menuntaskan pekerjaan yang sedang dihadapi secara tepat dan cepat, patut dipelajari dan ditiru. Suatu ketika di Patangpuluhan, datang utusan dari media tertentu meminta Cak Nun menulis kolom. Karena waktu mendesak, dan ada agenda berikutnya di tempat lain, sementara Cak Nun juga tak ingin mengecewakan, maka tulisan langsung dikerjakan tuntas di hadapan si utusan. Selagi sempat, ia tak terbiasa menunda-nunda.

Kegiatan apa yang kerap dilakoni Mbah Nun dalam keseharian di Berlin?

Ia menghabiskan waktu lebih banyak untuk menulis, dan mencari informasi dengan cara berdialog dengan orang-orang tertentu. Juga menonton petunjukan teater. Seluruh pengalaman ia simpan rapi di alam bawah sadarnya. Kelak 10-15 tahun berikutnya, ia jadikan itu sebagai pustaka hidupnya. Segala aktivitas yang ia jalani mencerminkan sikap bahwa ia begitu menomorsatukan keilmuan. Karena yang memberikan pengaruh utama dalam hidupnya adalah masa depan. Masa depan kan macam-macam; kecemerlangan karir, hidup berkecukupan, kemaslahatan umat, keberadaban kehidupan, dan sebagainya.

Sepulang dari Mesir dan Jerman, panjenengan kemudian tinggal di Jogja. Turut membersamai Mbah Nun berproses di Kota Pelajar tersebut. Bisakah dibagi kepada kami penggalan-penggalan kisah di Jogja?

Ketika pulang ke Indonesia, saya mengalami kebimbangan. Saya harus memilih, bergabung dengan Rendra (di Jakarta) atau Cak Nun di Jogja. Meskipun mendapat tawaran tempat tinggal di Jakarta, akhirnya saya memilih mengontrak rumah di Jogja, dekat Patangpuluhan. Pergaulan di Jogja lebih setara. Komunikasi antar komunitas seniman berjalan dengan baik. Prinsipnya duduk sama rendah berdiri sama tinggi.

Rumah kontrakan Cak Nun tak pernah sepi. Selalu saja ada yang datang. Dari berbagai kalangan; seniman, aktivis LSM, mahasiswa, tokoh agama, tokoh politik. Patangpuluhan menjadi salah satu simpul sumber dan rujukan informasi tentang berbagai hal. Keseharian Cak Nun di Patangpuluhan sebagian sudah banyak diceritakan. Yang jelas, siapapun yang terlibat interaksi di Patangpuluhan, bisa menyimpulkan bahwa Cak Nun sangat pandai menghormati orang. Ia pintar ngestokna (dengan tulus menghargai/menghormati) orang lain.

Bisa diulas lebih lanjut perihal “ngestokna” itu, Abah?

Dengan siapapun, Cak Nun selalu bersikap hormat. Tidak pernah menganggap remeh orang. Dengan itu ia terampil mengambil nilai yang dititipkan Tuhan melalui orang lain. Makanya, setahu saya ia tak punya guru. Kalaupun memang punya, maka semua orang adalah gurunya. Tukang becak, kuli bangunan, sopir taksi, siapapun saja yang sedang ia jumpai, sekali memantik sebuah nilai, ia gandholi nilai itu sekuat tenaga. Salah satu output-nya adalah ia artikulasikan di kelak kemudian hari melalui tulisan dan ceramah.

Setahu saya, Cak Nun jarang, bahkan tidak pernah mau jadi imam shalat. Apalagi menawar-nawarkan diri. Tidak mungkin. Dulu saat keliling pementasan teater Lautan Jilbab, ketika tiba di Makasar, pas hari jumat. Takmir masjid raya di sana meminta Cak Nun jadi khotib. Ia menolak, dan memaksa saya. Jadilah saya yang naik mimbar. Hehe…

Bagaimana interaksi Mbah Nun dengan tokoh-tokoh lain di Jogja saat itu, Abah?

Selain sibuk memenuhi undangan banyak pihak dan produktif menulis, Cak Nun rajin bersilaturahmi dengan banyak tokoh. Saya kerap menemaninya berkunjung ke kediaman mereka. Sebut saja misalnya Pak Damardjati. Sejak selepas isya’ hingga jam dua dini hari, atau kadang menjelang subuh kita ngobrol-ngobrol. Berangkat tidak dengan membawa topik khusus untuk dibahas. Sekedar saling memancing saja, supaya tumbuh bersama. Pembicaraan berlangsung santai, kadang serius, berseling guyonan, itu biasa. Tokoh lain yang juga dikunjungi misalnya Kuntowijoyo dan Umar Kayam. 

Apakah sikap hidup berpuasa yang Abah saksikan sejak di Berlin, juga kuat terbawa pada sosok beliau di era Patangpuluhan, Abah?

Iya. Sampai sekarang Cak Nun itu terus berpuasa. Ia menerjemahkan ayat “la in syakartum la’azidannakum…  itu dengan berprinsip “bagaimana rezeki yang diberi Allah ini tidak bocor sedikitpun untuk kepentingan yang tidak benar”. 

Oh iya, yang datang ke Patangpuluhan itu macam-macam motifnya. Pernah itu suatu ketika datang dua orang dari Malang, bawa tas ransel besar. Saya tanya ada agenda apa mereka datang. 

“Saya minggat dari rumah, ingin tinggal di sini,” salah satu dari mereka menjawab.

“Lha kenapa kok milih di sini?”

“Iya. Saya ingin seperti Cak Nun. Kayaknya kok enak banget hidupnya”

“Trus maksude pingin jadi kayak Cak Nun?”

“Iya, Mas!”

“Tanpa proses?”

Mereka terdiam. Lalu saya kasih saran, “Sampeyan kalau mau minggat, jangan di sini. Salah alamat. Mengembara sana ke hutan. Sampeyan akan menemui banyak problem, pikiran akan bisa berkembang. Kalau di sini sampeyan nggak akan dapat apa-apa. Makan aja nggak ada.”

Semua yang ada di rumah tertawa, termasuk Cak Nun. Haha… Cerita semacam itu saya kira tidak hanya sekali dua kali terjadi. Banyak orang tidak melihat betapa keras tirakat puasa yang dijalani Cak Nun. Mereka hanya melihat yang tampak gebyar di permukaan saja.

Pernahkah mengalami peristiwa jenaka, lucu atau bahkan konyol bersama Mbah Nun? Mohon juga dibagi, Abah…

Sekitar tahun 1987 sampai 1990, di Patangpuluhan masih menggunakan televisi hitam putih ukuran 14 inchi. Di tengah asyiknya kita nonton, gambarnya sering tiba-tiba hilang. Tapi solusinya gampang agar gambarnya muncul kembali, semua sudah hafal; ditabok berkali-kali. Hehe…

Pernah suatu ketika saya dan Cak Nun melihat pertandingan piala dunia antara Mesir lawan Belanda. Tapi tidak di rumah. Ya gara-gara kondisi TV-nya seperti itu, kami memutuskan untuk nunut nonton di kantor Kedaulatan Rakyat. Berdesakan dengan orang-orang jalanan, menonton TV dari jendela yang terbuka lebar. Tidak ada orang yang mengenali sampai pertandingan usai karena penyamaran berhasil. Kami datang pakai celana dan berkerebong sarung.

Hehe…ada kisah yang lain, Abah?

Pada masa itu hidup kami memang sangat sederhana. Tapi sesekali wajar dong kita merindukan makanan yang enak, tapi murah. Ada warung di seberang hotel Ambarukmo. Agak jauh, tapi masakannya sangat memuaskan. Nasinya selalu panas dengan sambal tomat pedas. Bebas mengambil lalapan. Lauknya sih tetap ya, tahu tempe panas yang baru diangkat dari penggorengan. Banyak mahasiswa mendengar kabar kalau Cak Nun sering makan di situ. Sejak itu, warungnya menjadi laris.

Yang menggelikan adalah pengalaman yang ini. Bersama teman-teman Patangpuluhan, kita kan memang sering blusukan. Suatu waktu kita blusukan ke acara Sekatenan. Di sana ada bermacam panggung hiburan, termasuk panggung dangdut yang katanya sering tampil panas dan seronok. Kita penasaran ingin mengintip. Tapi saat baru sampai di dekat pintu masuk, penjaga karcis bergegas mengambil mic dan berteriak, “Alhamdulillah! Pada malam ini kita kedatangan budayawan besar! Selamat datang budayawan kota Jogjakarta!!!”

Sontak kami kompak berbalik arah. Meninggalkan arena dangdut dan langsung pulang menuju Patangpuluhan. Hahaha….

Berikutnya, pada era awal-awal majelis PadhangmBulan, Abah Hamim terlibat intens. Hal apa saja yang sekiranya patut kami ugemi dari masa-masa awal itu?

Yang mempersiapkan segala sesuatunya saat itu memang teman-teman dari Jogja semua. Selain keluarga yang di Jombang tentunya. Saya ingat saya pernah membawa sound system tambahan dengan power 2000 watt dari sini. Dibikin di sini, di Campurejo. Teman-teman dari Patangpuluhan ikut semua itu. Dua mobil tiga mobil selalu datang. Ambil peran jadi panitia. Jangan sampai lampu mati tidak ada yang mengurusi. Speaker jangan sampai tidak terdengar oleh jamaah paling belakang.

Waktu itu, kita semua yakin dan optimis bahwa forum pengajian ini akan menjadi sangat besar. Dan benar, pengajian dimulai dengan jamaah dua puluh lima orang, empat puluh orang, lalu ratusan, hingga puluhan ribu. Kan sepertinya nggak memungkinkan, lokasi yang sebegitu jauhnya dari kota didatangi sangat banyak orang. Tapi kami optimis.

Hal apa yang membuat terbit sikap yakin dan optimis itu, Abah? Apakah karena sosok nama Mbah Nun saat itu?

Ya karena tawakkal saja. Wis pokoké niat.

Saat itu belum ada sebutan Sinau Bareng, tapi kenyataanya kan ya sinau. Diawali dengan Cak Fuad membaca Al-Qur`an dan membahas terjemah dan tafsirnya. Jamaah berpikir dan kemudian ada yang bertanya tentang yang dibahas Cak Fuad tadi. Itu kan sinau. Lha kalau sudah menjurus ke Al-Qur`an, hubungan “ke atas”-nya kan cepat. Jika tawakkalnya bagus, bakal kuberi. Fadzkuruni adzkurkum, kan gitu. Akhirnya membludak. Saking membludaknya, pernah sampai pada musim panen, ada sawah yang rusak. Yang punya minta ganti. Ya diganti sama Cak Nun. Wong Cak Nun itu nggak pernah yang namanya merugikan teman. Orang besar dengan kiprah luas sekaliber Cak Nun, tidaklah berat untuk meminta maaf pada teman. 

Tahun pertama jamaah berasal dari sekitar Jombang. Ibu-ibu Muslimat, Aisyiah banyak yang hadir. Tahun kedua-ketiga mulai datang jamaah dari Tulungagung, Nganjuk dan sekitarnya. Tidak semua orang merasa cukup puas dengan model pengajian yang sudah ada. Di beberapa daerah terdapat pengajian rutinan saat itu; di Mojoagung, di Kediri misalnya. Tetapi ketika mereka tahu ada PadhangmBulan, mereka datang dan cocok. Kan memang PadhangmBulan ini khas. Tidak mereka temui di tempat lainnya. Tapi zaman memang bergerak. Kalau dulu mayoritas jamaahnya orang tua, dari kalangan pengikuti thariqat, kelompok ziarah kubur. Sekarang semuanya anak muda. 

Menurut pandangan Abah Hamim, hal apa gerangan yang mendorong anak-anak muda ini datang di pengajian Padhangmbulan dan forum-forum Maiyahan lainnya?

Orang yang usianya di bawah empat puluh tahun itu, istilahnya kan butuh pegangan yang “isa dicekel ceg” (sekali sahut langsung kena). Mereka memerlukan panduan untuk membangun kerangka berpikir dalam melihat kenyataan, hingga menyadari dan benaknya berbunyi “oh..ngene ta… oh ngunu..” (oh, begini…oh begitu…).

Saya menyebut masyarakat PadhangmBulan itu tidak diimingi apa-apa tapi mereka bisa mengatasi apa-apa. (Ahmad Irham Fauzi)

Buku Cak Nun