Melingkar, Bersalaman, Berpelukan, dan Berbisik Pesan

Semua orang disuruh berdiri. Melingkar. Saling rapat satu sama lain. Mbah Nun berdiri di tengah-tengah orang yang melingkarinya. Mbah Nun mengucapkan pesan-pesan yang menggelegar kepada segerombolan anak muda di sekelilingnya itu. Semua orang tertunduk mendengarnya. Dan sesekali air mata anak-anak muda itu tumpah juga. Air mata itu semakin menderas kala Mbah Nun bergantian memeluk mereka satu per satu dan masing-masing orang mendapat bisikan pesan.

“Itu yang dilakukan Mbah Nun saat dulu pamit pulang dari Mandar,” kenang Pak Hamzah Ismail menceritakan momen tak terlupakan bersama teman-teman Teater Flamboyant dan Mbah Nun. Saat itu Mbah Nun baru pertama kali bersinggungan dengan mereka secara langsung. Mbah Nun tinggal selama beberapa hari di Mandar. Dan, saat waktunya Mbah Nun akan pulang ke Jogja, Mbah Nun berpamitan dengan cara yang berkesan. Dari cara itu, kata Pak Hamzah lagi, kami tahu Mbah Nun sangat mencintai kami dan kami juga mencintai Mbah Nun. Sebuah tulisan berjudul “Hujan Menangis” ditulis oleh Mbah Nun menggambarkan suasana 3 hari pertama kalianya Mbah Nun menginjakkan kaki di Tanah Mandar. Tulisan itu bisa dijumpai pada buku Slilit Sang Kiai.

Cerita itu saya dengar dari Pak Hamzah tiga jam sebelum rombongan “Rihlah ke Tanah Mandar, Perjalanan Rindu dan Cinta” kembali menempuh perjalanan pulang ke rumah masing-masing. Pak Hamzah, juga Abah-abah Simpul Maiyah Papperandang Ate, tahu betul perasaan kami begitu berat meninggalkan bumi Mandar yang dengan sangat tulus menjamu tamunya. Tentu ketulusan itu tidak diberikan oleh orang-orang Tinambung — daerah yang kami tempati di Mandar — atas dasar kesamaan kita sama-sama penggiat Simpul Maiyah. Keramahan dan kebaikan orang Mandar dalam menjamu tamu, kata Abah Amru Saddong, berlaku kepada siapa saja yang datang ke Mandar. Entah Anda dari penggiat-jamaah Maiyah atau bukan, orang Mandar akan memberikan kebaikan dan ketulusannya.

Sangat masuk akal jika kemudian atas dasar prinsip hidup itulah Mbah Nun tanpa ragu pernah memproklamirkan di hadapan orang banyak, “Saya orang Mandar yang lahir di Jombang.” Sebab, prinsip hidup orang Mandar adalah memberlakukan kebaikan dan ketulusan kepada siapa saja, tidak pilih jenis suku, agama, dan organisasinya. Sebuah pedoman hidup yang sering ditunjukkan Mbah Nun dalam aktivitas Sinau Bareng atau Maiyahan.

Malam terakhir di Mandar sedikit banyak cerita kami mendengarkan di balik mengapa Mbah Nun pernah mendaku sebagai orang Mandar terkuak. Mbah Nun tidak hanya mengucapkan pernyataan itu saat di Mandar saja, tetapi juga di tempat-tempat lain di Jawa. “Saat saya mengetahui itu, saya percaya kalau Emha memang tidak main-main dengan perkataannya,” kata Abah Amru, salah satu generasi pertama Teater Flamboyant di Mandar.

Banyak cerita Mbah Nun di bumi Mandar, tetapi hanya sebagian kecil saja yang sempat tersampaikan. Semua orang, terkhusus masyarakat Maiyah, perlu tahu biografi Mbah Nun di Mandar. Sebagian jejak Mbah Nun masih bisa kita napak tilasi, yakni rumah-rumah tempat Mbah Nun menginap; gedung tempat Mbah Nun pentas membaca puisi dan juga menampilkan teater; sungai tempat Mbah Nun pernah berendam tengah malam bersama anak-anak muda Mandar saat itu.

Kedatangan rombongan “Rihlah ke Tanah Mandar, Perjalanan Rindu dan Cinta” selain bertujuan bersilaturahim dengan sesepuh penggiat Simpul Maiyah Papperandang Ate, juga mengumpulkan cerita-cerita Mbah Nun di Mandar. Apa yang Mbah Nun lakukan, di mana tempat yang pernah Mbah Nun singgahi, dan cerita-cerita unik apa saja yang pernah dialami beliau di Mandar.

Tiga hari tentu waktu yang terlalu singkat untuk mengetahui itu semua. Sampai saat kami sedang asyik-asyiknya mendengarkan sebagian cerita Mbah Nun di Mandar, tiba-tiba hari sudah Sabtu, dan kalender berganti halaman ke tanggal 23. Kami mau tidak mau harus pamit pulang.

Malam perpisahan pun digelar secara sederhana dan dikonsep seperti cara Mbah Nun berpamitan. Semua tamu rombongan disuruh berdiri melingkar. “Tamu diam di tempat, biar kami yang berputar,” pinta Abah Hamzah Ismail.

Satu per satu Abah-abah penggiat Papperandang Ate menyalami kami, merangkul erat-erat tubuh kami, dan membisikkan pesan-pesan ke telinga kami.

Saya tidak cukup kuat tegar menghadapi ini. Saya merelakan saja air mata saya tumpah melihat abah-abah yang baru saya kenal tiga hari lalu, memeluk saya dengan air mata yang mengalir lancar dari kelopak matanya, dan membisikkan pesan ke saya.

“Tolong kalau ketemu Mbah Nun di Jawa, sampaikan salam saya,” bisik Abah Hamzah dengan suara lirih.

“Jangan lupa terus berpikir positif,” kata Bang Aslam.

“Selamat jalan, sampai berjumpa di Tanah Mandar,” kata Abah Latappa.

“Saya tunggu kau datang ke sini lagi, Nak,” kata Pak Abu Bakar.

Malam terakhir di Mandar, kami dilepas sebagaimana dulu mereka melepas Mbah Nun: melingkar, bersalaman, berpelukan, berbisik pesan.

Terima kasih, Mandar.

Buku dan Merchandise