Melepas Eyang Surtinah ke Pemakaman

Senin (22/7) Eyang Surtinah, Ibunda Yai Toto Rahardjo dimakamkam di pemakaman desa Lawen, Pandanarum, Banjarnegara. Suasana duka menyelimuti kediaman Eyang Surtinah. Selain dari pihak keluarga, para tetangga pun berkumpul. Pukul 7 pagi, jenazah dimandikan oleh ibu-ibu kampung Lawen, kemudian dikafani, lalu setelah selesai dikafani, jenazah pun disholatkan.

Ketika seseorang meninggal dunia, maka orang-orang terdekat pun akan mengisahkan kenangan-kenangan indah yang tidak terlupakan semasa hidup. Begitu juga dengan Eyang Surtinah ini. Ayahanda Yai Toto Rahardjo, yaitu R. Soebarno adalah Lurah pertama desa Lawen, menjabat selama 44 tahun. Semasa hidup, Eyang Surtinah pun sangat setia mendampingi suaminya sebagai kepala desa Lawen.

Bu Wahya berkisah, bahwa Pak R. Soebarno adalah orang yang sangat welas asih, ringan tangan, bahkan mengorbankan aset keluarga demi kepentingan rakyat. Sementara sang Ibu, Eyang Surtinah adalah seorang istri yang sangat memperhatikan kondisi keluarga warga desa Lawen.

Cikal bakal SALAM (Sanggar Anak Alam) pun bermula di desa Lawen ini. Tepat di depan rumah Eyang Surtinah, sebuah bangunan berdiri, 2 lantai, yang dimanfaatkan sebagai laboratorium ilmu SALAM. Bangunan yang ada saat ini adalah bangunan baru, karena beberapa tahun lalu runtuh karena tanah longsor.

Jam menunjukkan pukul 9 pagi, informasi didapatkan bahwa proses penggalian liang kubur telah selesai, jenazah pun segera diberangkatkan menuju pemakaman.

Jarak antara kediaman Eyang Surtinah dengan lokasi pemakaman cukup jauh, dan harus melalui jalanan yang menanjak dan beberapa tanjakan bahkan cukup curam. Alhamdulillah, cuaca terang pagi tadi, sehingga proses pemakaman pun berlangsung lancar. Eyang Surtinah dimakamkan tepat di sebelah makam sang suami, Eyang R. Soebarno.

Setelah dimakamkan, kemudian warga dan kerabat yang turut mengantarkan jenazah Eyang Surtinah pun berdoa bersama. Kesedihan di wajah Yai Toto Rahardjo tidak tertahankan. Air mata menetes, melepas orang yang sangat ia cintai.

Kisah yang diceritakan oleh Rizky pada tulisan sebelumnya sangat membekas dalam hati Yai Toto Rahardjo. Kehilangan Ibunda tercinta adalah peristiwa yang sangat membuat sedih Yai Toto Rahardjo, belum pernah Yai Tohar terlihat sangat sedih seperti ini sebelumnya.

Yaa ayyatuhannafsu-l-muthma`innah, irji’ii ilaa rabbiki rodliyatan mardliyah, fadkhulii fii ‘ibadii wadkhulii jannatii.

Buku dan Merchandise