Megatruh, Mengenang 1 Dekade Wafat W.S. Rendra

Mayoritas Anda sudah tidak asing dengan peribahasa: “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.” Tentu saja itu adalah peribahasa. Manusia mati meninggalkan nama pada faktanya tidak hanya meninggalkan nama saja. Kalau kita menggunakan istilah kekinian, maka kematian seseorang itu meninggalkan legacy.

Legacy itu tentu saja bermacam-macam bentuknya. Ada yang meninggalkan kesan baik dalam hubungan sosialnya, sifat-sifatnya, nilai-nilai luhurnya. Atau seperti Si Burung Merak yang lihai, rupawan namun tenang; W. S. Rendra yang meninggalkan legacy berupa karya-karya sastranya yang abadi. Sebutlah; Sajak-sajak Cinta, Sajak-Sebatang Lisong, Sajak Orang Lapar, Sajak Rajawali, Sajak Pertemuan Mahasiswa; adalah sedikit dari legacy yang ditinggalkan oleh Si Burung Merak.

Siang tadi, bertempat di Gedung PPHUI (Pusat Perfilman H. Usmar Ismail) Jakarta, Cak Nun didapuk menjadi salah satu narasumber dalam acara Rindu Rendra Megatruh. Bersama Adhie M. Massardi.

Adhie M. Massardi memiliki kesan tersendiri terhadap sosok Rendra. Sebagai Budayawan, disebut oleh Adhie M. Massardi, Rendra adalah sosok yang sangat konsisten menjadi oposisi pada setiap rezim. Tidak mengherankan jika Rendra beberapa kali, bahkan sering, dicekal oleh rezim Orde Baru. Menurut Adhie, ini dikarenakan Rendra memiliki daya tarik tersendiri untuk membangkitkan semangat perlawanan terhadap penguasa sehingga dapat menjadi satu ancaman bagi Orde Baru. Perlu diingat, karya satra pada saat itu adalah media paling manjur untuk mengungkapkan kritik sosial kepada penguasa yang lalim.

Hadir juga siang tadi, Pak Taufik Ismail yang membacakan puisi karyanya yang khusus diciptakan untuk Rendra. Pak Taufik hadir bersama istri. Selain anak-anak dan kerabat dari Alm. W.S. Rendra, hadir juga artis senior Adi Kurdi yang turut menyambut kehadiran Cak Nun di lokasi acara.

Cak Nun memang memiliki hubungan yang sangat erat dengan Rendra. Menjelang akhir hayat Rendra, Cak Nun bersama Mbak Via intens mengunjungi dan menemani Rendra, baik ketika masih di Rumah Sakit maupun ketika sudah dibawa pulang ke rumahnya di bilangan Kelapa Gading. Persahabatan antra Cak Nun dengan Rendra terjalin sangat lama. Pada zamannya, Rendra adalah seorang bintang utama di dunia sastra. Siapa yang tidak terpukau dengan Rendra ketika ia membaca puisi. Sematan “Si Burung Merak” jelas mengidentikkan bahwa sosok Rendra adalah seorang penyair yang sangat mempesona. Melalui persambungan dunia sastra, Cak Nun memilikii persahabatan sangat erat dengan Rendra.

Seperti yang sudah kita simak tulisan sebelumnya; Rendra-Emha, Patembayan Kebudayaan, pada tulisan itu secuplik kisah eratnya persahabatan antara Cak Nun dengan Rendra tergambar jelas. Bahkan pada wilayah yang sangat privat sekalipun, Rendra menjadikan Cak Nun sebagai rujukan.

Bagaimana Cak Nun menjadi “mursyid” bagi Rendra dalam proses mengenal Allah adalah salah satu bukti betapa Cak Nun memiliki tempat istimewa di hati Rendra. Bagaimana Cak Nun “ngajari” Rendra untuk wiridan Qul Huwal-Lahu Wahid, yang merupakan kristalisasi dari penjelasan Cak Nun mengenai perbedaan antara Ahad dengan Wahid.

Saat itu, Cak Nun menjelaskan kepada Rendra bahwa Wahid itu adalah konsep manunggal, menyatu, dan integral. Sementara Ahad adalah konsep Tunggal, Yang Satu, Allah dengan Maha Eksistensinya. Penjelasan yang dijabarkan oleh Cak Nun saat itu membuat Rendra menangis sejadi-jadinya. Rendra seperti menemukan sebuah kesadaran Tauhid yang sebelumnya belum pernah ia alami. Situasi di mana ia merasa sangat menyatu dan tidak berjarak antara dirinya dengan Allah. Di akhir hayatnya, Rendra sangat spiritual.

Satu hal yang sangat disayangkan oleh Cak Nun adalah bahwa anak-anak muda hari ini tidak banyak yang mengenal Rendra. Mengenal dalam arti yang sebenarnya. Padahal, Rendra telah meninggalkan legacy yang begitu banyak. Dan bersyukur kita di Maiyah memiliki Marja’ Maiyah seorang Emha Ainun Nadjib, yang pada konteks ini memiliki segudang cerita tentang Rendra yang sarat akan nilai-nilai kehidupan, dan kita bisa mendapatkannya dari beliau.

Dalam rangka mengapresiasi sekaligus mengungkapkan ketakdziman terhadap sosok W.S. Rendra, Cak Nun tadi siang menyampaikan bahwa akan menyarankan kepada seluruh Simpul Maiyah agar ada gelaran Maiyahan di bulan November ini untuk menampilkan karya-karya Rendra dalam berbagai jenis kreativitas.

Pada sosok Rendra, Cak Nun memiliki concern tersendiri agar anak-anak muda hari ini mengenal sosok Si Burung Merak. Seperti yang diungkapkan oleh Adi Kurdi tadi siang di forum ini, Rendra hakikatnya tidak meninggalkan kita. Melalui karya-karyanya, Rendra masih bersama kita.

Buku Cak Nun Majalah Sabana