Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng ke-4114

Mbukak Lawang Gawe Sinau Bareng

Liputan Singkat Sinau Bareng di Lapangan Desa Asrikaton, Pakis, Malang, Kamis, 26 September 2019

Pukul 18.30 WIB, lapangan Asrikaton Kecamatan Pakis Kabupaten Malang sudah tampak ramai. Terdengar pula suara musik dari atas panggung. Rupanya, Pak Dhe-Pak Dhe KiaiKanjeng sedang melakukan cek sound.

Membangun Kesadaran

Sebelum lapangan Asrikaton dipadati oleh para jamaah, tampak ada tali-tali rafia yang membagi lapangan menjadi beberapa bagian. Ada yang bertuliskan ibu-ibu. Mungkin maksudnya, wilayah yang dibatasi tali rafia itu dikhususkan untuk ibu-ibu. Untuk lebih memudahkan mengatur dan menertibkan jamaah, barangkali seperti itu maksud panitia membagi dan membatasi lapangan Asrikaton malam itu.

Yang menjadi pertanyaan, apakah praktiknya memang demikian? Tidak. Seperti Sinau Bareng sebelum-sebelumnya, jamaah laki-laki dan perempuan berbaur menjadi satu. Tidak ada pengkhususan ataupun pembatasan wilayah. Lantas, apakah ini menjadi masalah? Apakah jamaah menjadi tidak tertib dan tak teratur? Tidak juga. Semua baik-baik saja.

Barangkali ini adalah bagian dari buah pembelajaran yang diberikan dalam setiap Maiyahan. Setidaknya, kalau ingin mengubah seseorang, kita bisa menggunakan arah up and down, kita gunakan kekuasaan untuk menciptakan aturan-aturan yang harus ditaati. Cara ini memang relatif lebih cepat mengubah seseorang. Tapi, tunggu dulu. Apakah orang-orang melakukan sesuatu atas dasar kerelaan atau karena takut akan aturan? Kalau memang karena terpaksa, dan bukan atas dasar sukarela, maka jangan berharap keadaan tersebut akan bertahan lama. Bisa saja sekarang aturan ditaati, tapi kalau sudah keterpaksaan-keterpaksaan itu memuncak, tinggallah kita menunggu reaksi bom waktu yang sudah tak lagi sabar menunggu.

Sementara itu, dalam Sinau Bareng, kita diajarkan untuk membangun kesadaran. Kita diberikan kemerdekaan untuk melakukan sesuatu atas dasar kesadaran bukan karena keterpaksaan. Perubahan melalui cara ini mungkin memang tak secepat ketika menggunakan aturan. Akan tetapi, kalau kesadaran itu memang sudah tertanam kuat, ia bisa bertahan jauh lebih lama dibandingkan dengan ketika kita melakukan sesuatu hanya karena takut akan sanksi atas aturan yang diberikan. Sekarang terserah kita, lebih memilih yang cepat tapi sesaat, ataukah lebih memilih sedikit lebih bersabar dalam proses, akan tetapi hasilnya jauh lebih bertahan.

Kemerdekaan dalam bersikap juga tampak pada dialog yang dilontarkan Mbah Nun kepada jamaah malam itu. “Ngrokok iku apik ta gak, Rek?” Pada saat para perokok terus dibombardir dengan ancaman bahaya merokok, Mbah Nun mengajak jamaah untuk kembali melihat diri. Menemukan kesadaran atas apa yang menjadi keputusan. Bahaya ataupun tidak, semua kembali ke masing-masing diri. Ada yang tubuhnya memang diciptakan cocok dan tahan merokok, ada juga yang sebaliknya, mendapatkan dampak negatif saat merokok, misalnya. Semua tak sama dan tak bisa dipukul rata. Tugas kita yang berusaha untuk mengenali dan mencarinya. “Kita yang menentukan batasan berdasarkan keadaan.”

“Sing gak oleh iku lek koen nyolong, merendahkan martabat orang, membunuh orang.” Kurang lebih, itulah poin penting yang diingatkan Mbah Nun agar kita tak sampai melakukannya. Semoga, kita senantiasa dijaga agar tak sampai mengambil hak milik orang lain, menjatuhkan harkat martabat orang lain, dan menghilangkan nyawa orang lain. Secara tidak langsung, melalui cara ini Mbah Nun mengajak jamaah untuk memperkuat keimanannya kepada Tuhan. Karena bagaimanapun, orang beriman adalah mereka yang senantiasa berupaya menjaga keamanan orang-orang di sekitarnya. Aman dari segi harta, jiwa, maupun nyawanya.

Di awal Sinau Bareng, jamaah diajak berdialog untuk memperoleh mufakat. Bahwa tema besar pengajian malam itu adalah, “Mimpin awak’e dhewe supaya legawa.” Malam itu semua sepakat, bahwa apapun yang akan dilakukan harus ada hubungannya dengan tujuan yang ingin kita dapatkan. Nyanyi, dolanan, semua harus berkaitan dengan tema pengajian.

Pada hal-hal yang sekecil ini, Mbah Nun sangat teliti. Betapa halus pembelajaran yang diajarkan Mbah Nun. Melalui kelembutannya, Mbah Nun melatih jamaah agar terbiasa menentukan tujuan sebelum berjalan. Dan kita harus setia akan tujuan selama perjalanan. Bahwa semua yang kita lakukan, semata-mata agar semakin mendekatkan kita dengan tujuan.

Sinau Carane Sinau

Pendidikan tidak melulu soal kata-kata. Dalam Sinau Bareng, Mbah Nun mengajak untuk mengalami. Karena bagaimanapun, seperti yang diajarkan Mbah-Mbah terdahulu, ilmu iku kelakone kanthi laku.

Malam itu jamaah dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan wilayah tempat duduknya. Ada yang sepakat menamakan kelompoknya dengan Sambel Pencet, Sambel Korek, Sambel Trasek, dan Sambel Tomat.

Pemberian nama kelompok ini pun bukan tanpa maksud dan tujuan. Menurut Mbah Nun, filosofi pemberian nama ini adalah bagian dari proses belajar dari fase makhluk hidup. Sebelum belajar mlumah, mengkurep, mbrangkang, dan yang lainnya, terlebih dulu bayi diberi nama.

Masing-masing kelompok saling bergantian mempertunjukkan kekompakannya dalam melafalkan kalimah tauhid. Laa rabba illallah. Laa maalika illallah. Laa ilaha illallah. Muhammadar rasulullah. Kalimat-kalimat itu digaungkan saling berganti, menggema di langit lapangan Astikaton yang menjadi saksi atas kemesraan jamaah yang terlalu indah untuk sekadar dikalkulasi.

Melalui adegan ini, Mbah Nun mengingatkan jamaah agar sebisa mungkin wirid menggunakan asma-asma agung Allah. Bukan hanya laa ilaha illallah. “Supaya fungsi Allah berperan semua”.

Mbah Nun juga meminta para bapak muspika yang duduk di atas panggung untuk menilai kekompakan setiap kelompok. Meskipun semua kompak, tapi pasti tetap ada gradasinya.

Kebetulan pada sesi pertama yang paling kompak adalah kelompok Sambel Trasek yang menyuarakan kalimah laa ilaha illallah.

Menariknya, Mbah Nun mengajak jamaah untuk tidak serta merta mengamini hasil penilaian itu. “Balapan iku menang isa kerana pembalap e, ya isa uga menang kerana motor e.” Kurang lebih demikian Mbah Nun menganalogikan. Bahwa bisa saja kelompok Sambel Trasek tadi tampak paling kompak karena sudah terbiasa melafalkan laa ilaha illallah. Selanjutnya, Mbah Nun mengusulkan untuk mengulangi ‘perlombaan’ itu dengan mengubah lafadl yang disuarakan. Yang awalnya kelompok Sambel Pencet melafalkan laa rabba illallah ganti menjadi laa ilaha illallah. Begitu seterusnya.

Lagi-lagi, Sinau Bareng ini mengajarkan bagaimana sebaiknya kita sinau, cara sinau yang sebaiknya kita coba tiru melalui hal-hal yang semenyenangkan ini. Selain itu, Mas Doni dan Pak Jijit juga memesrai jamaah melalui dolanan yang melatih konsentrasi dan kuda-kuda jamaah. Masih dengan empat kelompok tadi, masing-masing menyanyikan lagu yang iramanya mirip. Semua dipersilakan menyenandungkan lagunya masing-masing, tapi hanya ditunjuk saja yang boleh sampai bersuara, lainnya menyanyi dalam hati saja. Agar kalau sewaktu-waktu ditunjuk, sudah siap menyuarakan nyanyiannya.

Juga dolanan jamuran. Melalui dolanan ini, jamaah juga dilatih jiwa kepemimpinannya. Diasah kekreatifan berpikirnya. Dan masih banyak lagi pengasahan-pengasahan yang diberikan melalui sesi-sesi Sinau Bareng malam itu. Dari hal-hal semacam ini, sangat tampak bagaimana Sinau Bareng ini sangat serius urun ndandani Indonesia.

Tak heran jika di awal sebelum Sinau Bareng, saat Mbah Nun mempersilakan para bapak Muspika memperkenalkan diri dan menyampaikan harapan yang didapat dari sinau bareng ini, ada yang berharap setiap tahun Mbah Nun berkenan membersamai mereka sinau bareng kembali di tempat yang sama seperti malam itu. “Semoga tanggal 26 September tahun depan, Mbah Nun berkenan hadir kembali ke sini.” Saking interest-nya, ada juga salah satu bapak Muspika yang bertanya kepada saya mengenai jadwal-jadwal Sinau Bareng. “Mbak, besok ini di mana lagi? Ini di youtube ada?”

Workshop-workshop terus diberikan sampai hari sudah berganti tanggal. “Ini belum sinau bareng, iki lagi mbukak lawang gawe sinau bareng.” Demikian Mbah Nun menuturkan sesaat sebelum memungkasi Sinau Bareng malam itu. Berhubung ini baru memasuki sinau cara untuk sinau, semoga ada kesempatan untuk kita mengalami Sinau Bareng kembali. Biar semakin jangkep laku kita ini.

Buku Cak Nun