Masyarakat Paska Gumunan

Mukadimah Gambang Syafaat Juli 2019

Hari-hari ini, orang-orang berebut menjadi orang yang digumuni. Orang-orang rela berbuat sesuatu yang tampak aneh agar digumuni banyak orang. Misalnya, saat tema ini ditulis. Media sosial ramai membicarakan video seorang ibu berjilbab sambil berjongkok mengisi suara anjing dalam lagu. Dalam video sebelumnya, seorang ibu itu juga memeragakan isi lagu yang ia dengarkan. “Iki ibune sopo,” kata mbak-mbak di depan kami mengomentari video tersebut. Orang-orang tekekek melihat video tersebut. Pasalnya, selama ini citra seorang ibu penuh dengan keanggunan dan kewibawaan. Lalu tiba-tiba jagat media sosial menghadirkan cuplikan video seorang ibu-ibu yang bersuka rela berbagi kegembiraan tanpa peduli citra buruk akan menimpanya.

Di video lain misalnya, ada seorang anak muda hendak membagi biskuit oreo ke gelandangan. Demi mendapat perhatian banyak orang di media sosial, si anak muda itu menyisipi odol di tengah-tengah oreo. Adegan gelandangan memakan biskuit itu direkam si anak muda. Si anak muda yang sedang membuat konten itu ngakak, si gelandangan merasa tersiksa, warganet yang waras akalnya murka. Dalam kadar yang tidak pas, menjadi orang yang digumuni justru mengorbankan kewarasan. Kita sering kebablasan dan menabrak kepatutan.

Memang membuat sesuatu yang baru agar orang lain wah dan gumun tentu sah-sah saja. Asal tahu batas mana yang pantas, mana yang kelewat batas. Media sosial memancing kita menjadi orang yang digumuni. Atau kalau tidak bisa membuat konten digumuni, kita bersemangat menyebar konten-konten yang membuat orang gumun. Atau kalau tidak bisa membuat dan menyebar, kita yang menjadi bagian masyarakat yang menggumuni saja.

Gumum tentu boleh-boleh saja, selama produk dari gumun itu baik untuk diri sendiri dan orang lain. Tapi ya, kalau bisa sesuatu yang kita gumuni adalah peristiwa-peristiwa yang memang pantas kita gumuni. Agar orang-orang yang berebut rasa gumun dari kita tidak bablas menjadi orang yang melewati kewajaran. Lantas, kalau kita sudah gumun, kita ngapain? Nah, itu yang nanti kita sinauni.

Buku Cak Nun