Mas Saka, Pernikahan Itu Perjuangan

“Bersuami-istri itu harus tak penah berhenti berjuang untuk sakinah. Tiap hari berjuang untuk sakinah, karena setiap hari pula selalu ada gangguan dari dalam maupun untuk menghilangkan sakinah dalam diri kita sendiri.” 

Cara dan suasana Pak Tanto merayakan pernikahan anaknya tak seperti biasanya acara resepsi pernikahan. Panggung kedua mempelai pengantin agak tinggi dan disertai dekorasi yang tak umum pula. Di antaranya, ada di situ tercantel topeng-topeng. Depan tempat duduk dua pengantin agak lebar sampai seukuran cukup untuk penampilan seni Komunitas Lima Gunung yang turut mangayubagyo acara kebahagiaan sang presidennya. 

Sementara itu di kanan kiri pengantin, tidak ada dua kursi buat orang tua kedua mempelai. Dua pengantin itu jadi benar-benar seperti di pajang. Pak Tanto sendiri terlihat tidak memakai setelan jas atau busana Jawa “formal”, melainkan mengenakan baju batik lengan panjang dan berpeci, dan tetapi tetap tampak style, sembari beliaunya lebih banyak menyambut dan menyapa para tamu. Juga, para tamu duduk tidak di kursi-kursi “modern”, tetapi di kursi-kursi kayu dan menghadap panggung tak ubahnya menonton pementasan, dan memang ada penampilan Komunitas Lima Gunung. 

Pendek kata, cara mensyukuri pernikahan Mas Saka dan Mbak Ika ini nyentrik, yang tentu equivalen dengan nyentriknya Pak Tanto itu sendiri. Cerminan manusia otentik dan merdeka. Selain Komunitas Lima Gunung, di antara jajaran tamu undangan tampak para sahabat dan kolega seperti Gus Yusuf Chudlori dan Gus Mansyur yang keduanya juga tampak terlibat berbincang-bincang dengan Mbah Nun. Meskipun disusun secara nyentrik dan khas Pak Tanto, suasana resepsi tersebut tetap bermuatan kekhidmatan juga, di antaranya karena Mbah Nun diminta untuk menyampaikan ular-ular atau nasihat perkawinan untuk kedua pengantin. 

Kepada Mas Saka dan Mbak Ika, Mbah Nun berpesan beberapa hal. Berangkat dari hal sederhana bahwa tantangan dalam hidup manusia adalah menghilangkan apa yang harus dihilangkan, mengurangi apa yang harus dikurangi, dan menambahi apa yang seharusnya ditambahi. Itu berlaku untuk orang menikah, individu, keluarga, bahkan negara. Pekerjaan utamanya adalah memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan, mencari apa yang harus dicari, menemukan apa yang harus ditemukan, mempertahankan apa yang harus dipertahankan, serta merawat apa yang harus dirawat.

“Biasanya kita bertengkar karena tidak sepakat mengenai apa yang harus dirawat dan apa yang harus dihilangkan. Suami-istri harus kudu wis nduwe perundingan sejak awal mengenai apa yang harus dirawat, apa yang harus dihilangkan, dan apa yang harus dipertahankan,” pesan Mbah Nun. 

Dalam ular-ular ini, Mbah Nun menyampaikan pesan secara dekat, persis seperti orangtua menasihati anaknya, dengan beberapa kali langsung menyebut namanya semisal, “Nah, Mas Saka…” Yang dinasihati pun menyimak dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya, sebagaimana dalam umumnya nasihat perkawinan, pesan masuk melalui terminologi sakinah, dan sebagaimana telah kerap disampaikan Mbah Nun, kali ini Mas Saka diajak memasuki tafsir baru mengenai Sakinah. Bahwa sakinah bukanlah sesuatu yang sudah nancep atau fixed. Tidak. Ia adalah sesuatu yang dituju secara terus-menerus. Artinya, sebagaimana hakikat hidup itu sendiri, untuk sakinah itu adalah dinamis adanya. Sehingga, orang bersuami istri perjuangannya terletak pada upaya sungguh-sungguhnya dalam berjuang menuju sakinah, sebagaimana terkutip di paragraf awal. 

Contohnya misalnya, di dalam bersuami-istri karena satu hal terjadi situasi tak sakinah, maka suami-istri mesti berjuang lagi untuk sakinah. Demikian seterusnya. Setiap kali ada hal yang bikin kurang sakinah, segera disusul dengan perjuangan untuk sakinah kembali. “Jadi pernikahan itu perjuangan. Efeknya adalah kenikmatan dan kebahagiaan, tetapi bisa juga situasi kurang akur, galau, sedih, dan menderita. Keduanya adalah bagian dari perjuangan. Maka, jangan menikah dengan tujuan kebahagiaan. Menikahlah dengan tujuan berjuang…,” pesan Mbah Nun. 

Oleh karena itu, lebih jauh Mbah Nun menegaskan, “Maka Mas Saka, di dalam dirimu ada yang abadi atau mutlak dan ada yang relatif. Misal wajah kita, yaitu bahwa ganteng itu relatif, sepuluh tahun lagi mungkin sudah berubah. Jangan berpedoman kepada yang tidak abadi, pada diri Anda masing-masing atau Anda berdua. Yang abadi adalah kepribadian, pengayoman, kasih sayang, dan komitmen yang tak pernah berhenti, karena komitmen itu bisa sampai ke akhirat.” 

Usai rangkaian acara, Mbah Nun diajak Pak Tanto untuk menilik Museum Lima Gunung yang berada satu komplek dengan rumah Pak Tanto. Museum yang dibangun dengan prinsip dan kurikulum sendiri, yang berbeda dengan bakunya museum yang dibangun pemerintah, seperti pernah Pak Tanto ceritakan di Mocopat Syafaat. 

Waktu kecil, sepertinya Mas Saka sudah pernah digendong dan bermain di depan Mbah Nun dan sekarang 26 tahun kemudian saat menikah sekarang ini, Mbah Nun pula yang memberi ular-ular. Spesial banget itu, Mas. Selamat menempuh hidup baru dan perjuangan menuju sakinah, sakinah, dan sakinah. (Helmi Mustofa)

Buku Cak Nun