Mari Menyimak Kegelisahan Horor Nevi

Menurut saya, seni itu kan sebuah dunia yang diciptakan oleh manusia. Dalam hal ini, seni lukis umpamanya, adalah sebuah dunia yang diciptakan oleh pelukisnya tetapi juga ciptaan itu bisa dihadirkan di dalam kehidupan. Sehingga dia juga mempengaruhi dinamika kehidupan. Nah, pelukis membuat karyanya dalam situasi, dalam konteks, dia menciptakan seauatu, yang tidak ada menjadi ada. Hasil ciptaanya itu dihadirkan dalam kehidupan yang real umpamanya seperti pameran ini.

Makna dari kehadiran seni yang merupakan ciptaan manusia itu dalam kehidupan ini, akan muncul ketika kita mencoba berdialog dengan pelukisnya, atau senimannya yang menghasilkan ciptaan tadi itu.

Apa maknanya? Tergantung masing-masing orang merasakannya atau melihatnya dari sudut pengalaman dan wawasan. Tapi kalau di dalam sebuah pameran, kehadiran karya seni itu kita mencoba juga memahami apa sih yang diinginkan sang seniman ini dalam karya-karyanya. Maka mungkin penting juga artinya latar belakang, sejarah, lingkungan dan pengalaman hidup dari sang seniman.

Kalau saya mencoba melihatnya, hampir semua lukisan yang dipamerkan ini memberi suasana kegelisahan yang… Horror begitu heheheeee…. Nah itu kenapa begitu? Mungkin sang pelukisnya bisa nanti menceritakan.

Intinya adalah seni itu tidak ada kalau tidak diciptakan oleh manusia. Seni hanyalah suatu dunia atau suatu karya, suatu benda yang diciptakan oleh manusia, apapun seninya itu. Baik seni lukis, seni musik, seni tari, seni drama, seni sastra. Semua itu adalah sesuatu yang tak ada, kemudian diciptakan oleh manusia. Maknanya adalah pada bagaimana dia dihadirkan kembali dalam kehidupan. Nah, kalau seni lukis, salah satu upaya menghadirkan itu adalah dengan pameran ini dan sebaiknya memang berdialog dengan senimannya.

Karena kalau kita melihat karya seni dari sudut pandang sejarah aliran, terus teknik-teknik melukis umpamanya kalau seni lukis, itu dunia yang diciptakan itu menjadi miskin. Kekayaannya itu justru karena ada sesuatu yang ingin dia sampaikan lewat lukisan-lukisannya itu.

Itulah sebabnya perlunya dialog di dalam menghadirkan kembali karya-karya ciptaan para seniman itu.

Saya kira begitu.

Buku Cak Nun Majalah Sabana