Mandar Di Hati, Rindu Kami Kembali

Menjelang ujung hari dari napak tilas perjalanan Mbah Nun di Tanah Mandar, semakin meneguh dan mengkristal rasanya cinta Mandar kepada kami, pun sebaliknya cinta kami kepada saudara-saudara Mandar. Kami menemukan kristal cinta Mandar dari Bunda Cammana. Cinta beliau berpendar-getar kuat kepada Kanjeng Nabi dan syafaatnya menebar ke seluruh masyarakat Mandar. Kami sangat merasakan pancaran cinta itu sehingga ketika kami disambut alunan rebana oleh remaja binaan Bunda Cammana, kami mulai merasakan getaran cinta itu.

Ketika kaki kami pertama kali memijak di lantai papan Rumah Bunda, kami terharu biru terbawa pada nuansa dan getaran surga cinta Cahaya Muhammad. Kami diajak bersholawat dengan hati yang tergetar, mengalami langsung pertemuan cinta dengan Sang Cahaya. Menitik air mata bahagia dari pelupuk. Hati kami semakin dibuat tenteram oleh shalawat yang dilantunkan Bunda Cammana. Ketika kami datang, Bunda dalam keadaan kurang sehat. Bunda memohon kami untuk ikut mendoa supaya Beliau, Mbah Nun, dan seluruh Jamaah Maiyah diberi kesehatan dan keselamatan oleh Allah.

Kemudian Mas Wakijo memimpin doa, dan kami semua pun berdoa bersama-sama. Mas Wakijo mengungkapkan kesan kerinduannya. Ia mengaku sudah memendam rindu selama tujuh tahun untuk datang ke Tanah Mandar. Dan hari itu cita-cita tersebut tercapai. Berjumpa langsung dengan seseorang yang pernah mendapat predikat Maestro Rebana oleh pemerintah pusat pada tahun-tahun yang lalu itu. “Kami ini sangat beruntung bisa sowan di rumah Sang Kekasih Kanjeng Nabi,” begitulah ungkapan Mas Wakijo dengan raut wajah trenyuh. Sepanjang sowan Ia tak bisa menyembunyikan linangan air mata.

Bunda mengajak kami memasuki ruh syair shalawat cinta kepada Kanjeng Nabi. Di dalam syair yang Bunda lantunkan termaktub pesan, “Dunia ini hanya tempat singgah, akhirat yang utama. Meneguhkan tentang tauhid, bahwa harus berpegang teguh kepada kalimat La Ilaha Illallah. Sabar, menegakkan shalat, bersatu dalam kebenaran, tidak memandang remeh siapapun dan semoga diberi keselamatan bagi kita semua.”

Beliau juga berpesan kepada kami untuk mengikat cinta kami kepada Tanah Mandar, “Ketika kau pergi hendaklah kembali. Karena cintamu sudah tertanam di Tanah Mandar. Akan tumbuh kerinduan untuk datang kembali ke sini.”

Semua pesan syair shalawat itu menjadi sangu kami untuk selalu melahirkan kesadaran yang lebih bersih di dalam hati. Lalu kami pun berpamitan dari rumah kekasih Rasulullah di Desa Limboro itu. Kemudian, Lautan cinta tulus dari saudara-saudara Maiyah anggota Teater Flamboyan masih belum berhenti, kami diajak beramai-ramai untuk mengukir kenangan dan pengalaman untuk mengunjungi sebuah tempat yang sangat indah di sana, yakni ke Pantai Dato’ yang berada di Majene.

Aih, pemandangannya indah seindah cinta, air lautnya bening sebening ketulusan. Mencebur mandi, memotret panorama dan menemani matahari mengakhiri tugasnya dalam sunset. Hingga waktu surup kami di sana, perjalanan berlanjut lagi ke Dondori Kafe. Dondori berarti berarti bulu perindu. Ini adalah kafe literasi kepunyaan salah satu anggota Teater Flamboyan juga. Disambut selayaknya saudara, kami berbincang berbagai topik di sana. Ada rak literasi yang menyediakan buku-buku berbagai pengetahuan yang dapat kami nikmati sinambi mengobrol bertukar pengalaman.

Kami benar-benar ingin mengungkapkan rasa terima kasih kami atas pelayanan tulus dan pancaran cinta yang begitu sungguh-sungguh dari saudara-saudara Maiyah di sana. Pokoknya kami ingin supaya kelak bisa “balas dendam” mencurahkan rasa cinta yang sama ketika kelak bergantian mereka yang berkunjung ke Jawa.

Tiba saatnya kami berkumpul untuk berpamitan. Kebersamaan kami diikat dengan persembahan syair Shalawat Mandar, Shalawat Badar dan Hasbunallah serta terakhir kami semua berdiri melingkar melantunkan Shohibu Baiti. Satu persatu kami bersalaman dan berpelukan sambil tak dapat menahan derai air mata. Selalu tidak suka dengan perpisahan, tetapi semoga “perpisahan” kali ini adalah justru merupakan awal dari pertemuan sambung pertalian baru ke depan.

Buku Cak Nun Majalah Sabana