Makna Al-Abshar

Dalam al-Qur’an surat al-An’am ayat 103, Allah mengatakan La tudrikuhul absharu wa huwa yudrikul abshar wa huwal lathiful khobir. Ayat ini disebut pula oleh Mbah Nun dalam beberapa Sinau bareng terakhir seperti di Sinau Bareng di RS Sakina Idaman dan sebelumnya di Sinau Bareng di Klambu Penganten Grobogan. Juga beberapa kali di Mocopat Syafaat. Dua puluhan tahun silam, ayat ini merupakan salah satu bagian dari wirid/dzikir yang pernah diberikan Mbah Nun untuk lingkungan internal KiaiKanjeng.

Ayat ini berbicara mengenai mata atau penglihatan, di mana ditegaskan di situ bahwa mata tidak akan pernah bisa melihat Allah, tetapi Allah melihat semua mata/penglihatan itu, dan Allah maha lembut dan mengetahui. Ayat ini sebagaimana umum telah kita ketahui menegaskan sifat Allah yaitu sebagai Dzat yang tidak bisa dilihat, sekaligus ayat ini menunjukkan terbatasnya kemampuan penglihatan manusia, apalagi tujuan yang hendak dilihat adalah Allah.

Menafsirkan ayat ini, Mbah Nun mengambil dua makna dari kemungkinan makna yang didapat dari kata al-abshar yaitu mata/penglihatan fisikal dengan kedua mata yang kita punya dan penglihatan dalam arti metodologi, perspektif, atau pendekatan-pendekatan. Menurut Mbah Nun, pendekatan-pendekatan apapun tak bisa dipakai untuk melihat Allah, tetapi Allah bisa melihat semua pendekatan manusia atau alat-alat sekecil apapun yang dimiliki manusia untuk melihat.

Dengan al-abshar yang dipahami sebagai metodologi, perspektif, dan pendekatan-pendekatan, kandungan makna ayat ini bisa digali lebih jauh. Apalagi, jika kita mengaitkan dengan ayat berikutnya yakni ayat 104 yang dengan lugas mengatakan, qad jaa’akum bashaairu min rabbikum faman abshara falinafsihi wa man ‘amiya fa‘alaiha wa ma ana ‘alaikum bi hafidl. Dalam terjemahan di peroleh arti, “Sungguh, bukti-bukti yang nyata telah datang dari Tuhanmu. Barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka dialah yang rugi. Dan aku (Muhammad) bukanlah penjaga(mu).”

Bashair yang serumpun dengan kata abhsar diartikan sebagai bukti-bukti yang nyata, atau jika kita bahasakan secara lain adalah fenomena-fenomena yang dapat kita lihat dengan pendekatan-pendekatan (abshar) tertentu. Namun, sesuai dengan arah ayat 104 ini, Allah kemudian menengara banyak di antara manusia yang tak mau menggunakan pendekatan (akal, ilmu, dll), dan malahan cenderung membutakan diri dari fenomena tersebut. Tidak mau melihat. Memalingkan pandangan.

Dengan begitu kita dirangsang untuk berpikir manakah di antara eksposisi peran Allah melalui kuasa dan kasih sayang-Nya yang kita belum melihatnya, menyaksikannya, dan mesnyukurinya. Tidakkah kita gunakan abshar kita untuk menangkap dan menyadari itu semua sentuhan Allah atas hidup kita. Ataukah kita bersikap membutakan diri alias mendisfungsikan abhsar kita, sebab kalau kita jujur dengan abshar kita, nafsu atau kepentingan-kepentingan duniawi kita akan terhalangi.

Maka kiranya mudah kita pahami bila kita kaitkkan dengan Sinau Bareng, bahwa sebenarnya Sinau Bareng juga merupakan ikhtiar di mana Mbah Nun mengajak kita semua untuk mengembangkan abshar kita dalam membaca berbagai fenomena, realitas, sejarah, gejala, bunyi, nada, dan apapun saja yang tampak di depan mata kita maupun di depan indera pengrasa kita. Bisa kita katakan, Sinau Bareng mengembangkan abshar, tapi juga sekaligus meluaskan cakupan bashair.

Tentu saja, ayat 103 surat al-An’am ini luas pemaknaannya. Tidak hanya pada arah yang barusan kita bicarakan yaitu apakah manusia mau menggunakan abshar-nya ataukah tidak terhadap paparan kekuasaan dan kasih sayang-Nya. Apakah dengan bukti nyata pertolongan-Nya dalam perjalanan hidup kita, kita jujur mengakui ataukah mengingkarinya, atau malah menyembunyikannya. Tetapi juga berhubungan dengan teologi (sebagai rumusan atau formulasi) yang coba menggambarkan sifat-sifat Allah dan peran-perannya di dalam kehidupan yang pada hakikinya tak akan pernah benar-benar bisa menjangkau Allah, tetapi Allah melihat semua rumusan itu. Melihat dalam arti mengetahui mana di antara teologi itu yang dibangun diatas kejujuran dan mana teologi yang dibangun untuk menciptakan otoritas-otoritas agama dan membangun kekuasaan atas manusia yang lain. Semua Allah ketahui dengan al-lathief-Nya.

Namun, di sini kita terutama adalah mencatat makna yang disampaikan Mbah Nun atas kata al-abhsar ini, yaitu pendekatan, metodologi, perspektof, dan teknologi yang dapat digunakan untuk melihat dan membaca ragam fenomena. Arti ini kita tambahkan dalam daftar bahan tafsir dan tadabbur kita atas ayat-ayat al-Qur’an. kita juga melihat bahwa sering kali setiap membaca dan coba memahami makna ayat al-Qur’an, Mbah Nun sangat antusias, bergairah, dan segera loading berbagai asosiasi yang bekerja dalam pikiran beliau.

Saat sejenak mengurai ayat 103 surat al-An’am di Sinau Bareng di depan masjid Baitus Said Klambu Penganten Grobogan bulan lalu, Mbah Nun sampai sangat imajinatif meneruskan penafsirannya atas al-abshar ini, “Semua yang Anda dengar atau lihat itu ruang-ruang kosong. Sel-sel, quark, adalah hampa. Anda adalah kumpulan kekosongan-kekosongan.” Itu loading Mbah Nun atas kata abshar yang seperti mengatakan kepada kita bahwa jika abshar/penglihatan mampu digunakan untuk menembus realitas sampai yang terkecil, maka yang terjumpai hanyalah kekosongan. Ketiadaan. Sebab yang ada hanyalah Allah.

Bagaimana dengan loading kita?

Yogyakarta, 9 September 2019

Buku Cak Nun Majalah Sabana