Maiyah, Specialized in Having Fun

Liputan Majelis Maiyah Mocopat Syafaat, 17 Mei 2019

12 Ramadlan 1440 H tahun ini bertepatan dengan tanggal 17 Mei 2019 Masehi. Dan setiap tanggal 17 para jihadis pejuang kemesraan dan kegembiraan meluap-luap cintanya, tumpah di Majelis Mocopat Syafaat di TKIT Alhamdulillah, Kasihan, Bantul. Bulan ini pada malam hari ini, entah kenapa terasa kerinduan benar-benar memuncak, penuh dan meluap. Kalau dilihat dari kuantitas, maka itu bisa kita lacak gejalanya dari parkiran yang lebih penuh dari biasanya. Sedang bila dirasa-rasakan melalui penyelaman kedalaman, tampak sekali syahdu shalawatan lebih tajam. Terasa antusiasme para JM untuk turut mendendangkan shalawatan yang dibimbing oleh jajaran KiaiKanjeng di panggung lebih intens.

Atmosfer di luar sedang ekstrem. Gerahnya bukan menghangatkan malah bikin gerah, sementara dingin bukan menyejukkan malah membekukan. Sejuk dan hangat, panas dan dingin, situasi ekosospol di negeri seberang, negara fiksi bernama NKRI, sedang sangat tidak nyaman. Benar-benar tidak nyaman. Sementara di negeri Maiyah manusia mencari dirinya dan belajar presisi positioning agar tidak doyong dan oleng. Hangatkan yang kedinginan, sejukkan yang kepanasan. Selalu temukan titik tengah dan bukankah titik tengah selalu berganti disebabkan batasan sisi juga selalu dinamis. Maka pencarian tidak mungkin berhenti.

Maiyah terus berjalan. Terus menggali, terus mencari dan terus gembira tak henti-henti mencari bentuk kegembiraan yang menggembirakakan hati Baginda Rasul Saw dan senang atas kehendak yang disenangi oleh Allah Swt. Meminjam istilah dari lirik lagunya The Doors “specialized in having fun”. Kalimat ini ada di lagu “Take As As It Comes”. Penggemar The Doors tahu bahwa lagu ini diciptakan Jim Morrisoon ketika sering melihat teman-teman satu bandnya ikut pelatihan meditasi ala India di sebuah komunitas spiritual. Konon satu kali kawan-kawan Jim bertanya padanya, bagaimana pendapat Jim mengenai guru spiritual mereka, apakah dia adalah “manusia tercerahkan”? Dan menurut Jim, dia tidak perduli orang itu tercerahkan atau tidak, benar atau tidak, yang dia tahu orang itu terasa bahagia dan menggembirakan orang di sekelilingnya. Jim tidak bergabung dengan komunitas spiritual itu, maka diciptakannyalah lagu tersebut sebagai persembahan kepada orang yang dihormati oleh kawan-kawannya. Entah kenapa suasana malam ini mengingatkan pada kisah tersebut.

Maiyah memang ekspert dalam kegembiraan dan jangan sepelekan keahlian bergembira ini. Di luar negeri Maiyah, orang kehilangan kemampuan untuk gembira, menggembirakan dan menggembiarai kahanan. Manusia memandang yang selainnya adalah ancaman, musuh ideologi, bukan lagi sahabat yang diterima dengan gembira. Dari “Hasbunallah” yang mendayu suara Mas Islami, Mas Imam dan Mas Doni menyambung terus, menyapa full energi. Mbah Nun  dan dr. Eddot telah berada di panggung dengan disambut Shalawat Badr. Mbah Nun tampaknya meresapi perasaan gembira nada-nada para JM dan lantunan nomor-nomor shalawatan pun tetap dilanjutkan. Kegembiraan yang tak lekang. “Mawlana maalan siwallah” menyambung nomor-nomor khas KiaiKanjeng lain.

Di sini kita tidak dramatis pada kebenaran walau tetap mencarinya, namun yang utama adalah khusyuk pada kegembiraan. Hashtag #MocopatSyafaat sedang ramai. Pada beberapa majelis Maiyah hashtag dari para JM menyerbu trending topic dan itu bukan dianggap prestasi. Hanya cukup menjawab kalau ada yang bertanya apakah masih ada orang yang mau ke majelis Maiyah. Tagar-tagar ala JM tidak dengan mengerahkan buzzer apalagi bayaran. Semua ini hanya luapan ekspresi kegembiraan. Izinkan liputane sangat singkat ini dicukupkan sampai sini dulu. Suasana kegembiraan ini terlampau sayang untuk dilewatkan. Gembira dan cinta, selainnya apa lagi yang kita punya?

Buku Cak Nun