Maiyah Pasca Negara

Tak pelak lagi bahkan tak bisa ditolak alam mengurai keseimbangannya dengan jalan-jalan yang selama ini nggegirisi, proses penyeimbangan berbagai ekstraksi SDA, pembangunan-pembangunan, proses rekonstruksi total atas semua langkah yang ditempuh ciptaan berakal bernama manusia. Kabar duka jatuh dari langit.

Kawan-kawan saya tandhang membaktikan dirinya menuju titik-titik marabahaya, di mana banyak kesedihan dan air mata yang manusia menganggapnya bencana. Sebagai sebuah entitas besar yang melahirkan banyak intelektual sebagai peredam dan pemberi sinyal akan adanya “penyeimbangan” justru saking pandainya manusia malah dianggap meresahkan, dikasuskan, mau dipidanakan. Bagaimana ilmuwan-ilmuwan harus berpuasa dengan temuan-temuannya, bagaimana para Mpu di bidang masing-masing tidak mendapat tempat hanya karena dirasa resah, atau memang negara bangsa tidak siap menerima kenyataan-kenyataan sebagai akibat dari ulah manusia itu sendiri.

Bagaimana bola-bola di laut yang jadi pagar depan akan naiknya tingkap air bah berhenti di ranah sepele soal pencurian, perusakan, penghancuran dan menurunkan standar nilai sebuah fungsi dari maksimal menuju minimal atas nama survival. Kelanjutannya massa hanya akan bergerak pada pemenuhan standar baku dasar hidup, dan ketika jiwa dan psikisnya dikoyak untuk terus lapar, ke mana lagi jika yang terjadi hanya pelarian berburu oase meski di rumah menyimpan segudang sumur?

Apa yang sejatinya hilang dari tatanan masyarakat? Ke mana selama ini arah pendidikan moral berbasis agama? Kenapa hanya berhenti pada silang sengkarut untuk meneguhkan kemegahan dan kebenaran masing-masing, menggiring konsentrasi massa pada opini tertentu? Selanjutnya sangat larislah gerakan populis baik sayap kanan maupun embrio sayap kiri, bahkan di poros tengah kini menjadi chauvinisme atas nama nation.

Nation yang juga sudah mulai bias, ketika mau berputar balik pada konsepsi nasionalisme Sukarno, apalagi mundur lagi ke Tan Malaka atau yang terlihat dalam film “Indonesia Calling” bagaimana kemerdekaan juga di-sengkuyung banyak pihak. Sekarang nasionalisme ini diklaim, dijadikan tameng perang bahwa saya ini yang paling nasionalis, jika tidak sepaham dengan saya bisa digebuk atas dalih anti-nasionalisme.

Populisme, Gerakan Milenarisme dan Pengharapan-pengharapan Mesianik

Konstelasi atas memadat, dan penuh intrik permainan. Rakyat yang semakin susah, pemuda yang gamang, juga orang-orang tua kita yang saat ini penuh sesak oleh masalah, buntu hidupnya karena utang akhirnya kembali ke ranah asli dari manusia. Spiritualitas.

Mereka yang penat berlari kencang menuju arus populisme agama, ranah-ranah yang sebenarnya mematikan batin karena beragama hanya berdasar pada kedangkalan, keyakinan atas dogma pemimpin agama, juga pelembagaan-pelembagaan yang justru semakin banyak menambah runyam permasalahan agama dalam bermacam-macam variabel persepsi, strategi penyebaran agama, serta strategi marketing untuk menjaring umat yang akhirnya hanya berhenti pada konsentrasi-konsentrasi modal, kapital, penggembosan gerakan kemasyarakatan sekaligus populis karena hanya menjadi kuda tunggangan politik kekuasaan. Atau anak-anak muda yang gamang akhirnya panik menghadapi gejala pencarian kedewasaannya sendiri yang berujung pula pada gerakan-gerakan populis, asal main tabrak, cenderung beringas, galak lewat cara jalanan maupun berdasarkan konsepsi teologis ala pemimpin mereka. Pemadatan terjadi di mana-mana.

Sisi batin yang tertangkap lainnya adalah menjamurnya kembali gerakan milenarisme tak hanya di kalangan muda. Namun juga beberapa kalangan tua terjangkiti lagi gerakan ini sengaja maupun ditiupkan oleh gelombang kekuasaan tertentu. Hegemoni menyoal ruwetnya kebangsaan, kemiskinan serta jarak kekuatan kapital yang sangat jauh dari kemampuan masyarakat menimbulkan iri, sekaligus nafsu yang menjerat kaum papa yang tak kuat berpuasa untuk melacur pada keinginan-keinginan duniawi. Sisanya banyak mereka yang terjebak pengharapan akan masa depan yang lebih baik, akan datangnya pemimpin penolong umat, satrio piningit, ratu adil, messiah, saviour, atau konsepsi apapun. Bedanya mereka banyak berhenti di harapan. Sementara kebuntuan dan kesesakan menjerat mereka untuk menjawab tantangan-tantangan atau minimal menyiapkan sebuah tatanan baru sebagai sebuah usaha bersama untuk menyemai kehidupan baru. Golongan ini banyak berlari ke tempat-tempat sepi atau menemukan kenyamanannya di mimbar-mimbar agama apapun, namun melupakan bahwa manusia harus mempunya efek sosial bagi sekelilingnya, dan berjamur menjadi aliran-aliran kebatinan yang akhirnya harus tunduk pada pemimpinnya–yang tak jarang akhirnya hanya jadi jalan berdagang atas nama spiritualisme dan hanya menunggu turunnya tokoh penolong.

Ironis, bagaimana Tuhan mengubah nasib sebuah bangsa tanpa masyarakatnya sendiri menyiapkan diri untuk perubahan-perubahan. Ini Negara, atau Pseudo Negara?

Transformasi Negara-Bangsa

Negara-negara di dunia segera berbenah, geliat internet dan komunikasi global ternyata menembus batas-batas teritorial konvensional negara-bangsa. Revolusi Industri 4.0 segera dan sudah mulai mematikan manusia yang bekerja di proses otomatisasi, alogaritma kini sudah berjalan di mesin-mesin pencari web maupun pasar online. Informasi yang dulu sangat susah diakses dari blokade rezim, terbatasnya teknologi, dan kini berubah menjadi banjir informasi yang justru manusia semakin muak dengan semakin biasnya kebenaran akan suatu peristiwa. Beragam informasi akhirnya berujung pada semakin bebasnya persepsi, bertarungnya kebenaran-kebenaran atas nama data, atas nama kumpulan-kumpulan informasi yang sangat bisa dimanipulasi.

Tradisi pengulangan-pengulangan kemudian menjadi candu bagi generasi milenial, ketika mereka sangat menyukai hal-hal yang simpel membikin hati gembira sejenak, sebelum kemudian lupa lagi. Generasi ini sangat menyukai video pendek yang diputar di sosial media, dilihat, tutup sejenak kemudian dilihat lagi. Gejala nomophobia ini semakin nyata menjalari anak muda.

Indikasi Pasca Negara

Berulang kali di panggung maiyahan terus menerus dikomunikasikan menyoal Pasca Negara, yang diawali pertanyaan-pertanyaan lama bahwa kita sebagai bangsa yang lebih 70 tahun berdiri masih selalu saja gagal bahkan di dalam hal mendasar seperti perbedaan antara Negara dan Pemerintah.

Yudi Latief pernah merumuskan keadaan ini dalam 4 teori perkembangan negara pasca Demokrasi, kemana arah bangsa ini. Steady state; Fail State; Global Incorporation; atau Wild State.

Semuanya membawa konsekuensi-konsekuensi logis atas berbagai kerumitan negara, kejadian, arus gerakan-gerakan.

Maiyah Sebagai Jalan Pasca Negara

Mocopat Syafaat Desember yang lalu (17/12/2018) Mbah Nun dengan gamblang menjelaskan bahwa Maiyah adalah blueprint peradaban masa depan. Tentu tidak asal seorang Mbah Nun mengutarakan gagasan tersebut. Ada banyak landasan, pertimbangan, juga ditangkapnya gelombang-gelombang Tuhan lewat berbagai Maiyahan di seluruh pelosok negeri. Bagaimana kita mau berproses untuk ngonceki pemikiran beliau lewat pendalaman berbagai situasi dengan berbagai metodologi penelitian, serta pemikiran-pemikiran mendalam, seperti yang yang ditulis dahulu bahwa Mbah Nun mengantar anak-anakku ke Gerbang Zaman baru. Sudah diantarkan kita, sudah diberi banyak sekali ilmu, banyak sekali kunci-kunci zaman, tinggal jamaah mau mengelolanya sebagai olahan yang sedap di dapur atau tidak.

Generasi Maiyah juga lebih siap untuk terus-menerus memagari alam berpikir supaya tidak tergerus arus populisme, hegemoni mesianik, dan presisi-presisi keilmuan yang beragam semakin lengkap karena kadang akademis kadang juga dilengkapi lintas akademis dari ranah spiritual-kebudayaan. Maiyah terus-menerus menjadi tengah di tengah berbagai keberpihakan.

Lebih lanjut mas Sabrang juga mengemukakan bahwa Maiyah ini potensi. Yang artinya jika Maiyah adalah kumpulan potensi-potensi, harapannya akan menjadi benih untuk menjawab tantangan di masa depan, seperti ilmu lama nandur, poso, sodaqoh. Benihnya sudah disemai, potensi-potensi sudah tertanam dalam batin kita, apa yang menjadi titik penting perubahan, apa yang sebenarnya ada di dalam diri, warna apa dalam batin kita, dan Mbah Nun berkali-kali mengingatkan untuk terus menggali ke dalam diri, dan tahun depan selanjutnya harus menuju Aktualisasi. Tandhang.

Di masa depan diam-diam Maiyah akan terus menjadi ruang bagi semua mahkluk, tidak hanya bercengkrama, namun juga mengaplikasikan nilai-nilai. Mungkin hari ini satu dua sudah kelihatan. Atau jika mau berguru pada Simbah, silahkan berkaca pada betapa produktifnya Mbah Nun menghasilkan karya dari lagu, lirik, puisi, esai, buku yang sudah puluhan dan juga teater yang salah satunya bisa kita lihat besok pada tanggal 12-13 Januari 2019.

Atau berkaca pada mas Sabrang dengan Letto, yang juga terus menghasilkan karya, berkeliling sinkron dengan anak-anak muda yang jauh di bawah usia mereka, bahkan ketika waktu dulu Letto jadi musisi papan atas mungkin anak-anak itu belum mengenal letto, namun lagu-lagunya diam-diam merasuk ke batin milenial. Transformasi gelombang apa ini yang berjalan?

Atau beberapa kawan Maiyah yang sekarang giat dalam proses literasi di Perpustakaan EAN, ngaji Sewelasan juga terus-menerus menancapkan kuda-kuda untuk meneruskan gelombang proses literasi Maiyah generasi lanjut.

Di ranah akademi intelektual Maiyah juga selesai mengadakan simposium Decoding Conflict untuk mengusahakan solusi-solusi terbaik bagi negara, atau banyak lagi persinggungan-persinggungan dengan Maiyah seperti SALAM-nya pak Toto Raharjo, Sekolah Warga-nya Gerbang yang diinisiasi oleh mas Harianto, semua merupakan hasil dari benih-benih yang ditanam Simbah lewat Maiyah dan kita meneruskannya, sebagai kuda-kuda Pasca-Negara.

Buku Cak Nun