Maiyah Membersamai Ketulusan Panser Biru PSIS Semarang

Liputan Sinau Bareng CNKK dalam HUT ke-18 Panser Biru, 3 April 2019

Panser Biru boleh berbangga dengan klub kesayangannya: PSIS Semarang. Sebab, ini tim satu-satunya klub asal Jawa Tengah yang berlaga di level tertinggi Liga Indonesia. Setiap PSIS berlaga bisa jadi semua warga Jawa Tengah menjadi pendukungnya, baik dari depan layar kaca televisi maupun langsung dari tribun stadion.

Sepakbola, Anda tahu, adalah olahraga yang sangat disukai oleh semua lapisan masyarakat Indonesia. Membicarakan sepakbola Indonesia hampir kurang lengkap tanpa membicarakan kekeruhan dan kesuciannya. Di satu sisi setiap pertandingan sepakbola bisa merekatkan dua kelompok suporter klub masing-masing yang berasal dari kota dan bahkan suku yang berbeda. Namun, di sisi lain juga satu pertandingan sepakbola bisa menyebabkan dua kelompok suporter saling lempar caci maki, saling lempar batu, dan yang paling sadis bisa saling bunuh satu sama lain.

Di Indonesia, sepakbola tidak hanya urusan di dalam lapangan saja. Ada dunia yang tidak kalah luasnya, yakni suporter. Dunia ini berisi orang-orang yang mendukung klubnya dengan tulus, mengabaikan jarak tempuh menuju stadion, dan tak lelah membersamai klubnya berlaga. Orang-orang tulus ini– sebagian saking cintanya kepada klub kesayangannya–sampai rela meninggalkan keluarga di rumah, mempertaruhkan nyawa kala mendukung, dan tidak merasa rugi jika sebagian gajinya terus tergerus harga tiket  di setiap klub jagoannya bertanding.

Mbah Nun ada dan membersamai orang-orang tulus itu. Kala ada sekelompok suporter yang terkenal menjarah dagangan orang, mereka diminta berjanji kepada Mbah Nun untuk tidak meneruskan tindakan tak sepatutnya itu. Malam ini, Rabu, 3 April 2019, dalam miladnya yang ke-18, Panser Biru menggelar Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng di halaman Parkir Wonderia, di Jalan Sriwijaya Semarang.

“Ibarat usia 18 tahun,” kata pesan Walikota Semarang yang dibacakan di atas panggung, “itu usia remaja yang sudah punya KTP.” Kepemilikian KTP itu bisa membuat pemiliknya harus mempertanggunjawabkan perilakunya di hadapan hukum. Ia sudah bisa dijerat hukum jika melakukan tindak pidana. Dan pada usia itu, Panser Biru menghadirkan Mbah Nun. Di usia yang tidak ingusan lagi, mereka ingin mendapat nasihat-nasihat yang menjadikan Panser Biru lebih dewasa melalui Sinau Bareng malam ini. Selamat ulang tahun Panser Biru! (Yunan Setiawan)

Buku Cak Nun