Maiyah dan Kesejatian Agama

Sejarah Otentik Nabi Muhammad Saw mencatat bahwa perang Badr merupakan tonggak sejarah terpenting dalam perkembangan Islam, di mana Allah memperkenankan kemenangan atas hegemoni dan dominasi kebatilan yang diperankan dengan penuh kesombongan dan takabbur oleh Quraisy di Mekkah dan sekitarnya. Pasukan Islam yang dipimpin langsung oleh baginda Nabi mampu dengan segala kesederhanaannya mengalahkan pasukan Quraisy yang memiliki kekuatan berlipat-lipat ganda. Begitu spektakulernya kemenangan tersebut sehingga pasca perang Badr orang-orang berbondong-bondong bergabung ke Madinah memeluk Islam. Sebuah prestasi gemilang yang dicapai baginda Nabi Muhammad Saw semenjak memulai perjuangannya di Mekkah hingga hijrah ke Madinah 1. Namun prestasi tersebut secara ideologis membawa problematika tersendiri bagi keberlangsungan ajaran-ajaran murni Islam. Fakta bahwa berbondong-bondongnya orang-orang bergabung memeluk Islam pasca perang Badr karena menyaksikan sendiri kekuatan dan keperkasaan Islam mengakibatkan panggilan hati dan motivasi mereka memeluk Islam berbeda dengan para sahabat Nabi yang bergabung semenjak di Mekkah karena semata-mata percaya kepada Rasulullah dan mencintainya. Seolah-olah perang Badr menciptakan dua orientasi yang berbeda dalam pemahaman para sahabat Nabi terhadap agama. Mereka yang memeluk Islam semenjak awal perjuangan menganut kepercayaan bahwa Islam bermakna mencintai Allah dan rasul-Nya, dan cukup mencintai Allah dan Rasul-Nya maka secara otomatis mencintai umat manusia; sementara mereka yang memeluk Islam pasca perang Badr, terutama tokoh-tokoh besar yang akan tampil atau menampilkan diri di atas pangung sejarah di kemudian hari menganut kepercayaan bahwa Islam adalah kekuasaan.

Kedua orientasi yang berbeda dalam memandang Islam tergambar dalam dialog al-Abbas dengan Ali ibn Abi Thalib saat Rasulullah Saw sedang sakit menjelang wafatnya. Husain Mu’nis menulis: “Perhatikan informasi berikut, yang diriwayatkan dari banyak sumber sirah: Ketika Ali bin Abi Thalib keluar dari menjenguk Rasulullah Saw, orang-orang pada bertanya kepadanya bagaimana keadaan beliau. Ali menjawab (dengan penuh optimisme), “Alhamdulillah membaik.” Abbas langsung menarik lengan Ali, dan berkata kepadanya, “Wahai Ali, engkau menganggap biasa. Demi Allah, aku melihat tanda-tanda kematian pada wajah Rasulullah Saw, sebagaimana aku melihatnya pada wajah-wajah keturunan Abdul Muththalib. Mari kita menghadap beliau, menanyakan apakah soal (pengganti beliau) berada di tangan kita, atau jika harus dengan orang lain, kita meminta supaya beliau mewasiatkan kepada kita.” Ali berkata, “Tidak. Demi Allah, jika kita memintanya sekarang, orang tidak akan memberikannya kepada kita sesudah beliau pergi.” (Al-Baladzari, 1/565).

Sikap Ali ibn Abi Thalib merepresentasikan pandangan para sahabat yang memahami agama sebagai cinta, sedangkan sikap al-Abbas merepresentasikan pandangan mereka yang memahami agama sebagai kekuasaan. Kedua orientasi ini semakin tajam kelak pasca khulafa al-rasyidin dan mulainya era baru di tangan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan serta dinasti-dinasti yang lahir sesudahnya, yang seluruhnya adalah khulafa non rasyidin, di mana ajaran-ajaran agama dilembagakan menjadi ‘alat’ atau ideologi kekuasaan. Dalam kancah perebutan kekuasaan itu lahir berbagai mazhab dan aliran penafsiran agama, yang meski ‘rada mengacaukan’ namun ikut memperkaya khazanah kebudayaan dan pemikiran Islam 2, tetapi semakin menjauhkan Islam dari kemurniannya. Sementara itu orientasi yang memahami agama sebagai cinta memarjinalkan diri atau termarjinalkan oleh perebutan kekuasaan tersebut dari semenjak generasi sahabat sampai pada tabi’ut tabi’ien, sehingga pada akhirnya yang dominan dan menjadi mainstream hingga kini adalah rumusan Islam yang berbasis ideologi kekuasaan.

Sungguh terlihat sangat jelas dan terang betapa Maiyah memainkan peran amat signifikan dan strategis dalam mengembalikan Islam kepada kesejatiannya sebagai cinta segitiga Allah-Rasul-Manusia menuju kepada pembangunan kembali (revitalisasi) peradaban madaniyah yang berasaskan: Kemandirin (Independensi), Penyucian Jiwa, Kearifan dan Kebijaksanaan, Kejujuran, dan Cinta kasih. Sepanjang umat Islam belum sepenuhnya kembali kepada kemurnian agama maka janji-janji Allah untuk mendapatkan hasanah dunia dan akhirat tak akan pernah teracapai.

Dalam Tajuknya yang terakhir Maulana Muhammad Ainun Nadjib menawarkan tiga pilihan Daur. Tampak bahwa faktor kuncinya ada di Daur 2:

Thariqat: Pendewasaan dan perluasan Sinau Bareng.
Pelaku Utama: Masyarakat Maiyah.
Makrifat: Pembaharuan mental dan kejiwaan masyarakat dan bangsa. Ketangguhan di dalam sistem Negara apapun.
Bisyaroh: Waktu.

Ini sesungguhnya sudah sedang berlangsung dan cukup progresif, kita hanya perlu menjaga konsistensi dan istiqomahnya. Sedangkan dua Daur lainnya akan secara otomatis mengikut.

Semoga manfaat

Kampung Dukuh, 24/11/2019
MN. Kamba

1. Lihat, Sejarah Otentik Nabi Muhammad Saw, Husain Mu’nis, terj. M. Nursamad Kamba, hal. 309

2. Ketika Mu’awiyah telah memantapkan kekuasaannya, setelah adanya kesepakatan dengan al Hasan ibn Ali ra, dia hendak menanamkan dalam pikiran umat Islam bahwa pemerintahannya merupakan ketentuan dan takdir Tuhan. Dia kemudian dengan segala cara dan melalui berbagai media menyebarkan gagasan jabariyah atau determinisme yang sudah pasti memancing reaksi pandangan sebaliknya. Perdebatan pun meluas tentang ketentuan dan kehendak manusia. Lihat untuk keterangan lebih lanjut. Al tafkir al falsafi fi al islam, Abd el Halim Mahmud, hal 145;

Buku Cak Nun Majalah Sabana