Maiyah Berdaulat

Saya sangat merasakan bahwa hari-hari ini anak-anak cucu-cucuku Maiyah sedang sangat berduka jiwanya, bersedih hatinya dan berprihatin akal pikirannya.

Duka jiwa itu sesungguhnya mengandung bunga-bunga cinta yang memancarkan cahaya kegembiraan di gua rahasia batin saya.

Ekspresi cinta, ungkapan kasih sayang, disebabkan oleh duka sedalam apapun dan kesedihan seperih apapun, tetap memancarkan kegembiraan dan kebahagiaan.

Itulah semesta Maiyah.

Anak-cucuku semua sudah berlatih untuk berdaulat atas dirinya masing-masing maupun bersama-sama. Kedaulatan semua warganegeri Maiyah dipersaudarai oleh kejernihan akal sehatnya, ketulusan hatinya, kejujuran akhlaqnya, ketepatan dasar-dasar nilai yang padanya hidup mereka dijalani dan dijalankan.

Kalau mereka bersedih, itu lahir dari cintanya. Kalau mereka berempati, itu tumbuh dari kasih sayangnya. Kalau mereka berprihatin, ia pancaran dari keadilan akal sehatnya. Kalau mereka membela, ia keputusan dari teguhnya keadilan jiwa mereka. Kalau mereka marah, itu meluncur dari kesucian kebenaran yang ditegakannya. Kalau mereka melakukan sesuatu atas yang disedihkannya, diprihatinkan dan menyiksa hatinya—itu berasal dari kedaulatan dan kecerdasan juangnya.

Kalau mereka tidak bersedih, mungkin karena sedang berproses membangun cintanya. Kalau mereka tidak berempati, mungkin sedang mencari ketepatan titik pijaknya. Kalau mereka tidak berprihatin, mungkin karena masih sangat disibukkan oleh penempuhan kepentingan dan tugas pribadinya. Kalau mereka tidak membela, mungkin karena yakin bahwa hal itu tidak perlu membela. Kalau mereka tidak marah, mungkin karena kearifannya melimpah-limpah. Kalau mereka tidak melakukan sesuatu atas yang disedihkannya serta diprihatinkannya—mungkin karena tidak berada pada titik pijak atau fokus pandang yang menjadikan hatinya tersiksa.

Akan tetapi sebagai yang paling sepuh di antara semua warganegeri Maiyah, saya buka pintu kemerdekaan sampai melampaui cakrawala. Anak-cucuku berdaulat dan merdeka untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Berdaulat penuh atas tindakan masing-masing dan semua, tanpa kewajiban apapun terhadap saya.

Berdaulat penuh untuk melangkah tanpa harus menginformasikan, mengkonfirmasikan, mendapatkan restu atau apalagi perintah dari saya.

Tidak perlu menghubungi saya, tidak harus menemui saya, tidak perlu melegalisasikan kepada saya atau merundingkan apapun dengan saya.

Salah satu wujud kedaulatan Maiyah adalah nyicil belajar bertanggung jawab sendirian kepada Allah atas semua pilihan dan perilaku hidupnya.

Warganegeri Maiyah sebaiknya menganggap bahwa sudah hampir tidak ada lagi nilai-nilai yang belum saya sampaikan. Anak-cucuku Maiyah sudah dewasa dan terbiasa membangun kematangan dan keseimbangan dalam mengembarai kebenaran, kebaikan, kebijaksanaan dan kemuliaan. Tidak ada satu kata dari saya yang kalian tidak bisa membantahnya.

Maka tidak ada tuntutan, harapan atau kewajiban apapun kepada kalian semua terhadap saya. Andaikan masih ada yang saya ungkapkan kepada kalian, tak ada satupun yang tidak saya ambil dari aliran air sungai firman-firmanNya.-

وَإِن تَوَلَّوْا فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَوْلَاكُمْ ۚ نِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (Al-Anfal: 40)

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang tanpa landasan kebenaran, serta membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. (Ali ‘Imron: 21).

Yogya, 16 Mei 2019
Mbah Nun

Buku Cak Nun