MA(I)JAHPAHIT

Mukadimah Suluk Surakartan April 2019

Pada suatu masa, Nusantara pernah mengalami masa keemasan. Ketika itu ada sebuah negara agung yang menjadi pemimpin negeri-negeri lainnya di kepulauan Nusantara. Namanya Majapahit. Ia termasyhur sebagai negara yang berhasil membangun kesatuan Nusantara dalam jaring-jaring federasinya.

Mengingat masa itu, seringkali terjebak pada sebuah situasi imperium yang syarat dengan kekuasaan terpusat. Tapi tidak dengan Majapahit. Kerajaan yang berpusat di Trowulan itu hanyalah satu di antara wilayah kerajaan dan tanah-tanah perdikan yang terhampar di seluruh Nusantara. Hanya saja, ia bisa mengambil peran sebagai pemimpin yang menyatukan.

Di masa kepemimpinan Majapahit itu, rakyat bisa menikmati kehidupan yang otonom melalui tanah-tanah perdikan. Perdikan adalah wilayah-wilayah yang memiliki kedaulatan politiknya dan menentukan anggaran kesejahteraannya sendiri. Perdikan-perdikan itu mengirimkan wakilnya secara berkala untuk berkumpul bersama di Trowulan untuk meminum air kendi emas sebagai lambang persaudaraan di antara mereka di bawah payung kemaharajaan Majapahit.

Narasi di atas adalah gambaran sejarah tentang masa keemasan Majapahit. Mungkin ia adalah versi dari salah satu kisah yang beredar hingga masa kini. Seberapa besar tingkat kebenaran dari gambaran di atas, tentu bisa kita perdebatkan di ruang akademik kesejarahan. Tapi, terlepas dari itu, kita ambil narasi di atas untuk melihat kenyataan hari ini. Agar kita bisa mengambil pelajarannya demi menghadapi situasi kehidupan yang cukup kritis saat ini.

Sekarang, mari kita amati apa yang sedang terjadi di sekitar kita. Banyak kedhaliman dalam proses bernegara yang akibatnya dirasakan langsung oleh masyarakat bawah. Ada ketidakjujuran, ketidakadilan, dan ketidaktepatan tindakan-tindakan yang dilakukan terutama oleh kalangan pemegang kekuasaan. Belum lagi hubungan antar masyarakat yang terkadang dipenuhi sentimen antar kelompok yang jauh dari apa yang digemborkan dalam slogan di pita lambang negara, “Bhinneka Tunggal Ika”.

Hari ini kita menghadapi keruntuhan kedaulatan pikiran dan kebudayaan. Bagaimana mengatasinya agar kita tetap otentik sesuai kehendak-Nya dalam menciptakan kita? Kita juga dihadapkan pada situasi kehidupan yang material-kapitalistik. Bagaimana kita ikut menjadi pemain peradaban yang memiliki kemandirian ekonomi, bukan sekedar menjadi pasar yang terperangkap oleh hutang yang tak berkesudahan. Bagi yang menyadarinya, ini masalah yang sangat krusial.

Untunglah ada fenomena unik yang juga tumbuh di zaman edan ini, yakni maiyah. Berbeda dari forum-forum pengajian pada umumnya, menawarkan sebuah keluasan dan kemerdekaan berpikir. Bermula dari Maiyah Padhangmbulan di Jombang, kini banyak bermunculan simpul-simpul Maiyah di seluruh Nusantara, bahkan di luar negeri yang berisi orang-orang Indonesia. Simpul-simpul ini bak perdikan-perdikan yang memerdekakan pikiran orang-orang yang bergabung di dalamnya.

Meskipun demikian, Maiyah secara de jure bukanlah sebuah bentuk kekuasaan yang bermaksud mengambil alih negara. Tapi pemikiran-pemikiran yang lahir dari maiyah mendekonstruksi banyak hal yang kini sedang memenjarakan peradaban manusia. Maka, bukan tidak mungkin bahwa maiyah pada waktunya menjadi jalan keluar dari kebuntuan peradaban bangsa Indonesia yang serba tanggung dan penuh dengan kemunafikan ini. Ia bisa menjadi jalan tengah yang melerai ketika sebagian dari bangsa ini bernafsu untuk saling berkuasa dan menghancurkan.

Maka dari itu, ada baiknya kita semakin memperdalam tadabur kita dalam bermaiyah. Simpul-simpul yang sudah banyak ini bisa mulai berkreasi dan berinovasi serta menjalankan berbagai fungsi-fungsi sosial ekonomi secara mandiri. Dengan bekal kemandirian dan keyakinan itulah, kelak simpul-simpul ini bisa bertransformasi menjadi perdikan-perdikan yang sesungguhnya. Sehingga ia bisa ikut menolong Indonesia dan dunia dari kehancuran. (YAP)

Buku Cak Nun