Madura Sinau Bareng Mengerti Jati Diri dari Kiai Sapujagat

Liputan Sinau Bareng CNKK dalam Rangka Haul KH Kholil AG, 31 Maret 2019

“Semoga dengan hadirnya Cak Nun bisa membangkitkan semangat ‘perlawanan’ kita semua dan dzurriyah KH Kholil AG khususnya.” Terdengar tegas dan bersemangat sambutan panitia sebelum Sinau Bareng dalam rangka Haul KH Kholil AG di Ponpes Ibnu Kholil pada Ahad malam ini (31/03).

Mengapa panitia perlu menegaskan dengan kata perlawanan? Ini terkait kiprah KH Kholil AG—yang disebut sebagai Kyai Sapu Jagat oleh Mbah Nun—semasa hidupnya.

Di masa pemerintahan Orde Baru, KH Kholil AG menentang pembangunan jembatan Suramadu. Bukan menentang keberadaannya, tetapi karena kepekaan beliau kepada rakyat melihat bahwa masyarakat Madura belum siap berhadapan langsung dengan globalisasi dan kapitalisme. Sebelum jembatan dibangun, rakyat Madura harus diberdayakan dulu.

Untuk menunda pembangunan Suramadu, KH Kholil AG menggerakkan seluruh ulama Madura melalui Basra yang memiliki prinsip, akar, dan pertahanan kebudayaan yang luar biasa. Karena berhadapan dengan pemerintah Orde Baru taruhannya nyawa ketika itu.

Perjuangan membela kehidupan rakyat inilah yang diapresiasi dan didukung Mbah Nun melalui tulisan-tulisan beliau yang dicatat dan diingat betul oleh panitia dan diceritakan dalam sambutan awal tadi. Dan ini memang setali dengan jalan kehidupan Mbah Nun dengan keberpihakannya kepada yang teraniaya selama ini. Panitia mempercayai Mbah Nun sebagai penerus KH Kholil AG.

Setelah Mbah Nun dan KiaiKanjeng bersama pengasuh pesantren dipersilakan menempati panggung, dalam pengantarnya Mbah Nun pun bercerita dulu sempat berhalaqah bersama KH. Kholil AG. “Di Indonesia belum ada Kyai Sapujagat selain Kyai Kholil. Kyai Sapujagat itu ibarat pangkal dan ujung pedang. Maka malam ini kita harus pelajari,” sambut Mbah Nun.

Melalui pintu Sapujagat dan kiprah perjuangan KH Kholil AG, Mbah Nun berangkat kepada pembelajaran bahwa orang Madura harus tahu posisinya di mana. Harus mengerti dirinya sesuai takdir Allah menciptakan orang Madura.

Karena ini bersama orang-orang Madura yang sangat dicintai Mbah Nun, kelakar-kelakar mengenai orang Madura pun deras meluncur. Seperti kisah “Mengejar ikan Madura hingga Malaysia” atau “Menwa Madura terjun payung” dan masih banyak lagi. Kesemuanya menghidupkan kemesraan sekaligus mengingatkan jati diri Madura. Bahwa orang Madura paling pintar berimajinasi, berani memikirkan dan membuat yang tak berani dipikirkan dan dibuat orang lain.

Tampak para santri dan masyarakat menyimak di halaman pesantren dan di selasar-selasar asrama maupun di jalan melalui layar. Dengan perlahan, setelah diawali Shalawat Nariyah, Mbah Nun mengajak bareng-bareng menjadi muta’allimin malam ini, belajar dari KH Kholil AG.

Sebelum menuju lokasi Sinau Bareng tadi, Mbah Nun bersama Kyai Muzammil berziarah ke makam KH Kholil AG dan adik beliau waliyullah Ra Lilur yang sempat diceritakan Mbah Nun dalam tulisan “Dua Peronda Allah“. (JJA)

Buku Cak Nun