Ma Arioi 21 Tahun Papperandang Ate

Catatan Perjalanan Letto ke Mandar, Bagian 5

Kyai Muzammil dan Mas Sabrang bergantian merespons pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tentu saja bukan jawaban final, namun setidaknya apa yang disampaikan oleh Kyai Muzammil dan Mas Sabrang menghadirkan wacana yang baru, sehingga mereka mampu lebih luas memaknai problem-problem yang mereka hadapi dengan lebih rendah hati. Kyai Muzammil menjelaskan bahwa sebaiknya jangan terbawa arus dengan apa yang terjadi di elite organisasi masyarakat di Indonesia. Toh pada akhirnya tidak akan ada pertanyaan tentang keikutsertaan kita pada sebuah ormas di hari akhir nanti. Kyai Muzammil berpesan, intinya manusia hidup ini berusaha, berjuang agar selalu berbuat baik kepada sesama manusia.

Memaknai peristiwa hijrah, Mas Sabrang menjelaskan bahwa tidak ada satu jengkal pun dalam diri manusia yang tidak hijrah. Bahkan proses lahirnya bayi manusia pada awalnya merupakan proses hijrahnya sel sperma ke sel ovum. Dan kehidupan manusia sehari-hari merupakan peristiwa hijrah yang berlangsung sangat dinamis. Kita hari ini sudah berbeda dengan kita hari kemarin, begitu seterusnya.

Letto memuncaki Maiyahan Papperandang Ate dengan membawakan lagu Sebelum Cahaya dan kemudian ditutup dengan doa bersama oleh Kyai Muzammil.

Perjalanan ke Mandar kali ini adalah yang pertama kali bagi Letto dan juga Koordinator Simpul. Bagi Kyai Muzammil sendiri, ini adalah perjalanan yang kedua kali. Personel Letto pun memiliki kesan yang sangat mendalam dalam perjalanan ke Mandar kali ini. Selama 6 hari di Mandar, sesrawungan dengan teman-teman di Mandar utamanya anak-anak muda generasi Teater Flamboyant hari ini terjalin sangat baik. Begitu juga dengan para orang tua yang menjadi saksi sejarah awal persentuhan Mbah Nun dengan Mandar. Semoga persambungan ini bukanlah persambungan yang pertama dan terakhir. Semoga persambungan ini menjadi perjalanan awal persambungan Letto dengan generasi muda Teater Flamboyant. (Fahmi Agustian)

Buku Cak Nun