Ma Arioi 21 Tahun Papperandang Ate

Catatan Perjalanan Letto ke Mandar, Bagian 5

Pada Maiyahan kali ini, setelah sedikit cerita sejarah persambungan Mbah Nun dengan Mandar oleh Pak Amru, Mas Sabrang menyampaikan ungkapan syukur dan bahagia karena disambut dengan hangat di Mandar. Benar-benar seperti datang di kampung halaman sendiri, sambutan masyarakat begitu hangat, sehingga tidak mengherankan jika Mbah Nun menempatkan Mandar pada satu ruang yang istimewa di hati beliau. Perjalanan 6 hari di Mandar mengonfirmasi sebab-sebab mengapa Mbah Nun begitu istimewa bagi masyarakat Mandar.

Sejarah merupakan catatan masa lampau untuk menjadi bekal menyongsong masa depan. Menurut Mas Sabrang apa yang dilakukan Mbah Nun di Mandar 30 tahun lalu memberikan bekal yang sangat lengkap bagi anak-anak muda di Mandar saat itu sehingga hari ini Mandar telah berkembang. Bagi Mas Sabrang, kedatangan ke Mandar kali ini pun ada benang merahnya dengan apa yang sudah dilakukan oleh Mbah Nun di era akhir 80-an di Mandar. Sederhananya, generasi muda Teater Flamboyant hari ini telah menemukan sosok yang tepat untuk dijadikan teladan dan tempat untuk bertanya dan belajar tentunya. Sosok tersebut tidak lain adalah Mas Sabrang sendiri.

Kyai Muzammil pun turut menambah wacana Maiyahan malam itu. Kyai Muzammil memberi pertanyaan sederhana, “Musik itu halal atau haram?” Ternyata banyak masyarakat yang masih ragu-ragu menjawab pertanyaan Kyai Muzammil ini. Kyai Muzammil kemudian menjelaskan bahwa musik itu halal atau haramnya tergantung pada momentum ruang dan waktunya, bukan pada musiknya. Jika musik kemudian ditempatkan pada ruang dan waktu yang salah, maka musik menjadi haram. Misalnya, ketika sholat jumat kemudian ada pertunjukan musik di halaman masjid, maka posisi musik menjadi haram.

Satu pantikan lagi disampaikan oleh Kyai Muzammil, “Kalau salaman setelah sholat, boleh apa tidak?” Pertanyaan ini pun ternyata masih membuat bingung jamaah yang hadir. Kyai Muzammil menjelaskan bahwa sholat itu diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, maka setelah mengucapkan salam, jangankan bersalaman, kita bersegera ke toilet untuk buang air kecil pun boleh.

Ada beberapa peristiwa menarik di Maiyahan kali ini. Ketika di awal Kyai Muzammil mengajak jamaah untuk berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, ada salah satu jamaah yang berinisiatif untuk menjadi dirigen. Dia adalah H. Manaf, salah satu anggota Teater Flamboyant generasi awal yang bersentuhan langsung dengan Mbah Nun. Jika pernah mendengar sosok pemuda yang saat itu pernah berniat untuk membunuh mertuanya, dan kemudian oleh Mbah Nun diberi penjelasan agar jangan melakukan perbuatan tersebut, maka H. Manaf inilah orangnya.

Kyai Muzammil tidak mengenal sosok ini, maka Kyai Muzammil pun hanya bertanya kenapa H. Manaf berinisiatif untuk menjadi dirigen malam itu. H. Manaf menjawab, “Karena saya cinta Indonesia”. Jamaah pun menyambut jawaban H. Manaf dengan tepuk tangan gembira.

Letto malam itu memainkan beberapa lagu-lagu andalan yang ternyata sangat dikenal oleh jamaah, sehingga ketika lagu-lagu seperti Ruang Rindu, Sandaran Hati dan Sebelum Cahaya dimainkan, mereka semua bernyanyi bersama-sama. Selain Letto, generai muda Teater Flamboyant malam itu juga menampilkan beberapa nomor lagu yang juga sangat apik dimainkan. Anak-anak muda seumuran anak SMA dan kuliah semester awal itu memiliki potensi dan bakat musik yang sangat baik. Dan kedatangan Letto ke Mandar tidak mereka sia-siakan, di sela-sela agenda Letto, mereka diberi kesempatan khusus untuk mengikuti workshop musik yang difasilitatori langsung oleh Letto.

Dan kegembiraan mensyukuri 21 Paperandang Ate begitu istimewa dan sangat berkesan. Beberapa pertanyaan pun sempat disampaikan oleh jamaah. Pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa antara NU dan Muhammadiyah di Indonesia ini sering berseberangan, sehingga dalam hubungan sosial masyarakat di kalangan akar rumput memunculkan problem yang cukup pelik. Juga pertanyaan bagaimana memaknai hijrah, lantas ada juga pertanyaan tentang apakah ada kaitannya antara budaya dengan benca alam, sehingga beberapa waktu lalu bencana alam di Palu ada beberapa kalangan masyarakat yang mengaitkannya dengan fenomena budaya yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam mengakibatkan terjadinya bencana.

Buku Cak Nun