Liberté, Égalité, Fraternité

Mukadimah Mafaza Agustus 2019

Salah satu titik balik penting dalam perkembangan peradaban Eropa adalah meletusnya Revolusi Perancis (Révolution française, 1789–1799) yang melahirkan semboyan Liberté, Égalité, Fraternité dan mengawali transformasi sosial-politik dari feodalisme monarki mutlak ke era pengakuan serta penghargaan kepada hak-hak dasar warga negara (rakyat) yang lebih humanis.

Momentum transformatif semacam ini paralel di setiap zaman dan peradaban. Bahkan misi utama Islam yang dibawa baginda Rasulullah adalah transformasi masyarakat dari tradisi jahiliyah ke kultur ilahiyah.

Bulan ini, bagi bangsa Indonesia yang akan genap berusia 74 tahun melewati usia kemerdekaannya, juga diingatkan dengan peristiwa penting hari raya Idul Adha yang spirit utamanya adalah qaraba-yaqrubu-qurbanan, mendekatkan sedekat-dekatnya dengan teladan dan prinsip pengorbanan serta keteguhan Nabi Ibrahim dalam bertauhid.

Jika hari-hari terakhir ini yang terjadi adalah sebaliknya, tiga prinsip di atas direduksi menjadi tiga cita-cita kolektif pada kutub yang lain, rich, famous, and powerful, atau kekayaan, keternaran, dan kekuasaan, maka apa bedanya zaman now dengan zaman jahiliyah tempo dulu?

Kemerdekaan (Liberté) dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas, mulai dari kebijakan global free trade zone sampai hal paling sederhana yang setiap saat kita temui berupa misuh, mencaci, memfitnah, meng-hoaks sebebas-bebasnya di dunia maya, maka jangan heran menyaksikan manusia zaman now yang ekspresinya seragam: bété, gelisah, marah, dan galau.

Atau persamaan (Égalité) yang tidak lagi dilihat dari sisi manusianya, kehambaannya (saya atau sahaya, ingsun, abdi, awak) melainkan dari aspek kepentingannya. Dan ini nyata sekali dipertontonkan di depan mata oleh para elit (kaum bourgeoisie masa kini) di semua bidang kehidupan yang tidak segan-segan memanipulasi apa saja untuk kepentingan mereka tetapi distempel atas nama rakyat.

Dan yang lebih parah, formula persaudaraan (fraternité) benar-benar menjadi sekadar penghias dan pemanis tujuan kapitalisme ekonomi, karena diganti dengan lo jual gue beli, ono rego ono rupo, wani piro, papa minta saham, dst, layaknya ternit di rumah-rumah yang indah dipandang dari bawah, namun penuh debu dan sambungan-sambungan berpaku jika ditengok dari sisi atas.

Mencoba mengudar itu semua, kami perantau Indonesia dari berbagai kampung di tanah Eropa, bulan ini ingin melingkar bermaiyah bersama, memulai Sinau Bareng di Benua Biru dengan satu semangat Mafaza (pencapaian, kejayaan, kemenangan hakiki) yang Mbah Nun amanahkan beberapa hari yang lalu.

Dimulai dari Amsterdam, kota yang memiliki ikatan historis dan emosional yang kuat dengan perjalanan dan penggelandangan Maiyah Mbah Nun, ikhtiar kecil ini kami niatkan untuk mengarungi samudera Annaba’ ayat 31, Inna lil-muttaqina Mafaza, untuk memaknai kembali Liberté, Égalité, Fraternité yang tempo hari korsleting kemudian blackout akibat tertimpa pohon sengon itu. (AK, Amsterdam, 7 Agustus 2019).

Buku Cak Nun