Kurikulum Berkelanjutan Tentang Menjadi Diri yang Otentik

Catatan Majelis Maiyah Kenduri Cinta ke-204, 9 Agustus 2019

Agar Jangan Sampai Tidak Mengenali Diri Kita

“Manusia yang mana kamu?”, Tema Kenduri Cinta kali ini secara khusus memang Mbah Nun yang mengusulkan. Dalam beberapa Maiyahan terakhir, Mbah Nun menjelaskan formula tiga manusia; Manusia Nilai, Manusia Istana, dan Manusia Pasar. Di Maiyahan, kita sudah mencatat ada berbagai formula yang disampaikan oleh Mbah Nun yang kesemuanya sebenarnya adalah sebuah tatanan nilai pijakan hidup manusia. Kita runut ke belakang, sebelumnya pernah juga disampaikan formula; Cangkul, Pedang, dan Keris. Kemudian, dalam sebuah tulisan, Mbah Nun juga pernah mengulas tentang apakah kita termasuk manusia jenis Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin ‘Affan atau Ali Bin Abi Thalib?

Dari formula-formula tersebut saja, kita sudah bisa menjelajahi khasanah ilmu di Maiyah yang begitu luas, yang mungkin tidak tersentuh oleh pendidikan modern. Tentu saja, kita sama sekali tidak memiliki hak untuk menentukan raport orang lain, siapa mereka, termasuk dalam kategori manusia yang mana, bukan urusan kita. Yang ditekankan oleh Mbah Nun adalah bahwa melalui tema Kenduri Cinta ini kita sedang menata diri kita agar jangan sampai kita tidak mengenali siapa diri kita.

Bulan lalu, melalui Ijazah Maiyah yang diserahkan kepada Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, dan Iman Budi Santosa, kemudian pada awal bulan ini Ijazah Maiyah diserahkan kepada Sang Metiyem; Umbu Landu Paranggi. Kita belajar dengan cara menyaksikan sosok-sosok manusia yang setia untuk tetap menjadi dirinya. Tidak peduli dengan arus global hari ini, mereka istiqomah menjadi dirinya sendiri. Otentik.

Maka, tema Kenduri Cinta kali ini juga merupakan semacam kurikulum lanjutan dari tema sebelumnya. Satu tema, tidak akan mungkin cukup dibahas tuntas dalam satu malam, pada setiap Maiyahan kita semua mengambil kunci-kunci yang nantinya kita akan menemukan pasangan dari kunci tersebut. Entah kelak untuk membuka pintu, gembok, brangkas atau apapun saja.

Buku Cak Nun