Komunikasi Musikal Transendental Masyarakat Maiyah

Catatan Majelis Maiyah Suluk Surakartan, 28 Desember 2018

Perjalanan hidup di dunia ini, merupakan sebuah rentetan fase perjalanan sebelum kita menyatu dengan Sang Khalik. Dari masa perjanjian yang agung, di dalam kandungan hingga masa bersatunya kita semua dengan Zat Yang Maha Tunggal. Dari sekian fase kehidupan yang kita lalui, fase yang kita alami saat ini merupakan fase yang begitu singkat. Maka tak heran sebagai masyarakat jawa sering mendengarkan unen-unen “urip sak dermo mung mampir ngombe”. Sebuah idiom yang sederhana tapi memiliki filosofi ketauhidan yang begitu mendalam.

Sehingga dengan hal tersebut, secara langsung maupun tak langsung membentuk kesadaran para leluhur kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Maka tak heran jika kita sering mendengarkan cerita-cerita kehidupan leluhur kita yang spiritualis. Kedekatan leluhur kita dengan Sang Hyang Wenang dapat kita lacak dari berbagai peninggalan kebudayaan yang telah diwariskannya pada kita. Baik itu dalam bertani, bersosial-masyarakat, berdagang hingga dalam berkesenian, pasti kita akan menemukan nilai-nilai keTuhanan yang melekat dalam setiap kebudayaan yang ditinggalkannya. Bagi yang tidak percaya silahkan lakukan riset secara mendalam, tapi kalau sedulur-sedulur tak ingin capek ya silahkan tanyakan kepada mbah Google tentang hasil riset kebudayaan leluhur kita. Keterkaitan antara nilai-nilai ketuhanan dengan dinamika kebudayaan khususnya seni musik inilah yang menjadi bahasan dalam Majelis Masyarakat Maiyah Suluk Surakartan Edisi 35, Jumat, 28 Desember 2018.

Wasis selaku moderator rutinan sinau bareng Suluk Surakatan membuka forum dengan say hello kepada jamaah, kemudian mempersilahkan Wakijo lan Sedulur untuk bersama-sama menyapa Kanjeng Nabi dengan lantunan Sholawat Badar yang disertai iringan musik. Itu menjadi pertanda forum sinau bareng Suluk Surakartan telah dimulai. Sembari Wasis memandu jalannya sinau bareng, beberapa penggiat masih terlihat menyibukkan diri dengan tugasnya masing-masing. Ada yang sibuk dengan laptop dan kameranya, maupun kompor dan dandang. Insya Allah semua itu dijalankan dengan ikhlas dan senang, demi keberlangsungan rutinan. Ini agak sedikit keluar dari konteks tema namun tak kalah menarik untuk dikemukakan, bahwa keberadaan fenomena menjadi tim pramusaji narasumber dan jamaah dalam forum seperti ini tidaklah semudah yang dibayangkan.

Itu semua membutuhkan skill, kecermatan serta kemauan yang cukup mumpuni agar semua bisa berjalan dengan lancar. Apalagi dengan jamaah yang hadir malam itu mencapai ratusan yang kasat mata. Jika tak memiliki modal keikhlasan tersebut, akan sangat mungkin terjadi error. Mungkin sebagian orang beranggapan itu merupakan hal yang remeh temeh, tapi faktanya sirkulasi kegiatan semacam itu memang tak semudah yang dibayangkan. Di sinilah swarm intelligence (kecerdasan kolektif) diuji.

Lha yen mung dibayangke thok, wedang karo snack sak uborampene opo isoh mlaku dewe? Karena dalam penyajian sebuah hidangan, terdapat aturan-aturan yang berlaku. Terutama dalam tradisi masyarakat Jawa yang dari cara memproduksi hingga menyuguhkan hidangan telah diatur sedemikan rupa. Misalnya saja bagaimana cara menata hidangan dengan tepat sampai cara-cara memberikan sajian. Semua itu dilakukan lain dan tak bukan untuk menghormati orang yang kita jamu.

Musik-musik Maiyah

Kembali ke tema malam itu, forum berlangsung sangat musikal. Setiap yang hadir nampaknya meresapi bahwa setiap suara adalah musik, dan setiap musik yang baik ialah musik yang selalu mengingatkan pada Sang Pencipta. Di Maiyah perdebatan tentang halal dan haramnya musik sudah clear. Karena halal dan haramnya musik itu tergantung proporsinya. Musik bisa menjadi haram, jika dilantunkan dengan suara super keras di dekat orang yang sedang sakit yang membutuhkan ketenangan. Ya kalau itu bukan hanya haram saja, bisa-bisa saja juga dapat bonus dampratan dari tetangga sekitar.

Pada rutinan yang ke 35 ini, narasumber yang hadir malam itu juga merupakan deretan musisi-musisi dari berbagai jenis musik. Ada Iksan Skuter, Wakijo lan Sedulur, Didik, Nonot, dan Gema Isyak. Kelima pemantik diskusi rutinan ini, kalau ditilik dari kacamata industri musik memiliki background musik yang berbeda-beda. Iksan Skuter dari genre folk, Wakijo lan Sedulur yang cenderung bernuansa pop alternatif, Didik dari grup musik Kidungan yang bercorak dangdut, Nonot sudah lama menjadi personil band black metal bernama Bandoso, sementara Gema Isyak dari band Soloensis yang musiknya mengarah ke rock blues.

Terungkap dalam forum bahwa, kebanyakan musisi sebenarnya tidak ingin dikotak-kotakkan dalam sebuah genre. Tak terkecuali bagi kelima musisi di atas. Genre sebenarnya merupakan sebuah hal yang mengekang kreatifitas seorang musisi. Keberadaan genre dalam dunia permusikan juga lebih digunakan untuk mengeruk keuntungan dalam dunia musik. Sehingga muncullah standar-standar tertentu yang sesuai dengan keinginan pasar dan kemudian diterapkan perusahan label bagi para musisi.

Iksan Skuter selaku musisi yang sudah malang melintang di dunia permusikan, menganjurkan jika ingin menjadi seorang musisi jangan terpatok pada patokan standarisasi industri musik. Baginya, tugas sebagai seorang musisi adalah membuat karya musik sebanyak mungkin. “Soal karyanya laku atau tidak, diminati para audiens atau tidak, itu tidak menjadi masalah, yang penting terus berkarya apapun kondisinya.” tuturnya.

Menyambung uraian Iksan Skuter tentang produktifitas sebagai seorang musisi, Gema Isyak menceritakan bahwa proses berkarya seorang musisi tidak harus bergantung pada fasilitas yang mewah dan serba keren. Personil Soloensis ini pernah dolan ke studio milik Iksan Skuter dan kemudian menceritakan kondisi studio itu. Isyak terkaget-kaget ketika pertama kali masuk dan mengetahui kondisi studio musik Iksan. Kondisinya sungguh di luar dugaan. “Studio musiknya sederhana sekali. Padahal sudah banyak anak-anak ideologis yang beliau lahirkan.” Kata Isyak yang disambut gelak tawa dan tepuk tangan jamaah.

Spirit, produktifitas, dan kejujuran dalam bermusik yang tidak terlalu bergantung pada modal material memang menjadi elemen yang seharusnya tidak boleh hilang dari eksistensi seorang musisi. Karena jika itu sampai hilang, musisi cenderung akan menjadi manja dan tidak berkembang dalam semesta gagasan.

Kekuatan Tesembunyi dalam Syair

Sebuah syair yang lahir dari seorang penyair tidak hanya lahir begitu saja. Pastinya itu melalui proses perjalanan yang begitu pajang. Sehingga setiap bait-baitnya tidak kering akan makna atau nilai-nilai yang ingin disampaikan seorang penyair pada khalayak umum. Dan tak jarang sebuah syair bisa membuat siapa saja melakukan sesuatu tanpa diperintah. Dari kekuatan yang tersembunyi tersebut, Wasis mencoba mengeksplorasi secara mendalam. Ia menceritakan pengalaman pribadinya saat mengiringi Kidung Wahyu Kalasebo pada waktu latihan grup musik Selaksa Sholawat di rumah maiyah Suluk Surakartan.

Karena ia belum hapal lirik dan kuncinya, maka ia berpacu pada lirik dan kunci gitar yang ada di handphonenya. Di tengah-tengah lantunan kidung tersebut, tiba-tiba lirik yang ada di layar handphonenya bergerak sendiri. Merasa ada yang salah dengan kacamatanya, Wasis kemudian melepas kacamatanya dan memakainya kembali sembari terus membaca lirik itu, tapi fenomena yang terjadi tetep sama. Wasis merasa terguncang. “Singkat cerita, selesai latihan, di tengah-tengah perjalanan pulang ke rumah aku muntah-muntah.” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Iksan mencoba menambahi dengan memberikan contoh syair lagu Indonesia Raya dari W.R Supratman bisa membangkitkan rasa nasionalisme rakyat nusantara. Menurutnya, dalam melahirkan sebuah karya, seorang penyair pasti akan melalui berbagai pemikiran atau perenungan yang begitu mendalam. Sehingga wajar ketika syair yang lahir pun mampu membuat seseorang atau sekolompok orang menjadi atau melakukan sesuatu. Karena baginya, musik merupakan salah satu medium perubah perilaku seseorang. Ia mencoba memberikan contoh kepada jamaah yang hadir pada malam itu bahwa dalam Islam setiap bayi yang baru lahir akan diadzani dan disholawati di dekat telinga sang bayi. “Sebabnya, audio atau suara begitu penting dalam mempengaruhi seseorang.” ujar Iksan.

Membenarkan pernyataan sebelumnya tentang kekuatan yang tersembunyi dalam sebuah syair, Rendra selaku filolog dan peneliti muda tentang kebudayaan leluhur yang malam itu juga hadir menceritakan pengalaman pribadinya di waktu kecil. Ceritanya pendiri Komunitas Sradha ini di masa kecilnya saat sedang sakit sering sekali dilantunkan Kidung Rumekso ing Wengi oleh neneknya. Dan biasanya setelah itu dia berangsur sembuh dari sakit. Menurutnya, ini karena sebuah karya sastra, baik itu syair, musik dan lain sebagainya akan semakin baik jika dapat menggiring kepada kedekatan Manusia dengan Tuhan. “Jika tidak menuju kepada Tuhan, itu perlu dipertanyakan. Sebab, setahu saya semua musik-musik Jawa atau Nusantara ujung-ujungnya menuju Tuhan.” kata Rendra.