Kolebat Kolenyay

Mukadimah Lingkar Daulat Malaya Januari 2019

“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS Muhammad: 22)

Kalau memang yang bisa engkau pahami hanyalah kemauan, kepentingan dan nafsyumu sendiri, dan bukannya kerendahan hati untuk merundingkan titik temu kebersamaan, maka siapkan kekebalan dari benturan benturan dan luka, untuk kemudian orang lain menggali tanah untuk menguburmu”.

“Kalau memang engkau bermaksud menyulap sejarah dan mengubah jaman dalam sekedipan mata, dan bukannya bersabar mengembalakan irama dan proses, maka nantikan darah akan muncrat membasahi tanah air mu, kemudian engkau sendiri akan terjerembab, terjatuh diterjalan terjalan ketidakberdayaan”. (Muhammad Ainun Nadjib-Ikrar Khusnul Khotimah)

Kehidupan manusia abad ini, katanya sedang asik memperlihatkan kecanggihan teknologi super cepat. Akses internet, layanan informasi, mesin transportasi, input data, output tenaga, sampai soal makan nasi saja harus dipacu cepat waktu. Siapa cepat dia dapat!

Dapat apa saja yang manusia inginkan lewat mesin produksi, yang penting pundi pundi nominal banyak terisi untuk pribadi, daya konsumi terus membumi dan akal pikiran dibiarkan basi, sementara hati tidak merendah, malah terus meninggi.

Manusia si penghuni bumi di abad 21 ini, sering cepat merasa paling mengerti soal informasi misteri sekaligus merasa ahli dalam memberikan solusi. Katanya, Indikator kemajuan saat ini adalah cepat tercepat dan percepatan. Tak perlu mempertimbangankan ketepatan. Tak usah mempedulikan kesehatan. Tak penting soal keselamatan dan kemaslahatan, apalagi keberkahan.

Semua saling merasa paling benar atas apa yang telah ia temukan, ia pahami bahkan yang sedang ia jalankan, sehingga tak membutuhkan soal ketenangan bathin, persaudaraan dan kehadiran Tuhan. Melihat fenomena hanya sepintas saja. Merasa bahagia hanya sekejap saja dan kita bersaudara hanya katanya pula. Padahal hidup di dunia hanya sementara, numpang mampir ke kamar mandi saja, katanya.

Berasal dari katanya dalam hati atau katanya yang didengar dan dilihat, manusia berdialektika dengan diri dan kehidupannya. Sebagaimana persambungan dialektika antara sesuatu hal yang nampak terlihat sekejap oleh mata (kolebat) dengan sesuatu hal yang hanya terlintas di pikiran dan terbersit dalam hati saja (kolenyay), adalah tentang apa, bukan siapa dan bagian dari dimensi manusia beserta kehidupannya.

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur`an, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad 47: Ayat 24)

Buku Cak Nun