Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng ke-4118

Klub CB Nganjuk Sinau Ngegas Ngerim

Liputan Sinau Bareng Ulang Tahun CB Nganjuk ke-31, Stadion Warujayeng Nganjuk, Jumat, 4 Oktober 2019

Sungguh menarik dan menyentuh hati. Klub motor CB Nganjuk malam ini akan mengadakan Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng.

Suasana unik pun muncul dari kombinasi antara motor honda CB dan Mbah Nun. Saat cek sound sore ini, pemandangan khas itu sudah mewarnai. Di depan panggung KiaiKanjeng, terpajang dua motor CB. Satu versi full modifikasi didominasi warna kuning keemasan, dan satu versi asli. Di raging panggung paling atas, terpampang sketsa wajah Mbah Nun dalam bingkai logo acara Sinau Bareng malam ini dengan desain yang lain dari biasanya logo kepanitiaan. Dan sebuah spotlight siap menyorot, sehingga malam nanti semua mata jamaah akan bisa melihatnya.

Kaos-kaos panitia juga berdesain demikian. Sebagian di antara panitia itu mengenakan peci Maiyah dan membawa motor CB-nya ke dalam stadion. Motor-motor CB lainnya dalam berbagai jenis dan angkatan tahunnya tampak di sini. Di antara stan-stan di pinggir lapangan juga terlihat lapak merchandise CB Nganjuk. Backdrop di panggung berkarakter kuat dengan bingkai garis merah dan di dalam tertulis: Sinau Ngegas Ngerim Sareng Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Teman-teman komunitas CB Nganjuk menggelar Sinau Bareng untuk para anggota dan masyarakat umum dalam rangka ulang tahun mereka ke-31. Saat cek sound, beragam masyarakat juga sudah menyaksikan persiapan acara. Pohon-pohon munggur yang mengelilingi stadion memberi suasana adem, senada dengan ajakan untuk bersatu berpersaudaraan yang digemakan CB Nganjuk dalam Sinau Bareng ini.

Terminologi Ngegas Ngerim dari Mbah Nun tentang pentingnya orang mengetahui di dalam hidup ini kapan harus ngegas dan kapan harus ngerim sangat berkesan di hati teman-teman CB Nganjuk yang sekaligus mewakili dunia mereka. Mungkin tak terbayangkan oleh Mbah Nun sendiri bahwa analogi ngegas ngerim ini bakal ditangkap secara khusus oleh komunitas yang setiap harinya berurusan dengan ngegas dan ngerim ini seperti CB Nganjuk ini.

Malam ini mereka ingin belajar kepada Mbah Nun tentang bagaimana adab menjadi orang jalanan, apa dan bagaimana memahami paseduluran sejati, dan apa makna ngegas dan ngerim. Dalam perspektif lebih luas, Sinau Bareng yang diadakan klub CB Nganjuk ini rasanya juga akan turut mendekonstruksi dan merekonstruksi tentang cita dan gambaran keislaman, kesantrian, dan kesalehan yang terus berkembang meninggalkan gambaran lama dan bergerak lebih cepar dari yang kita sangka. Hal yang jika dicermati juga telah dilakukan Mbah Nun dalam banyak Sinau Bareng dengan beragam segmen komunitas yang spesifik.

Buku Cak Nun Majalah Sabana