Klilipan

Mukadimah SabaMaiya Februari 2019

Segala sesuatu akan nampak dan terasa indah jika kita punya ketepatan cara pandang dan sudut pandang. Kita adalah subyej yang memiliki otoritas untuk mengolah sikap terhadap obyek kenyataan hidup. Daya olah atau kemampuan managemen ruhani akan menghasilkan hikmah-hikmah yang memperkuat ketangguhan hidup.

Tulisan, foto, gambar di telivisi, warna cat rumah, benda-benda lain dan bahkan sebuah keadaan yang tiba-tiba tampak memburuk, jangan langsung disimpulkan bahwa kondisi objektif benda dan keadaan tersebut benar-benar telah memburuk. Bisa jadi mata kita sendiri yang mulai rusak daya penglihatannya. Penglihatan mata juga tidak hanya dipengaruhi oleh alat fisik berupa bola mata. Mata yang sehat secara medis akan tetap gagal menangkap berbagai keindahan disekitar kita jika ada kelilip di daerah mata kita. 

Yang disebut kelilip bisa bernama kepentingan, harta, jabatan, kekuasaan, popularitas, identitas, dan masih banyak lagi. Episode kehidupan yang menampilkan adegan ketegangan penuh konfik, pancing-memancing amarah makin mengemuka, saling curiga, saling memasang kuda-kuda peperangan dan saling serang seperti yang terjadi saat ini adalah bukti kegagalan manusia dalam membersihkan kelilip-kelilip itu tadi. 

Dalam beragamapun kita sedang disusupi kelilip pemikiran untuk gampang tersinggung. Orang beragama makin tega merendahkan martabat orang lain hanya karena beda konsep teologinya. Apa saja akan didramatisir agar orang tergiring untuk berbenturan berdasarkan keyakinan iman. Skenario polarisasi dan pengkutuban sukses dijalankan. Orang yang bersikap “di tengah” akan dianggap “munafik” dan di tuduh tidak jelas komitmen keagamaannya.  Skenario pengkutuban dan polarisasi jelas merupakan strategi yang bertujuan menyempitkan ruang untuk orang bisa melihat dan berpikir jernih serta waspada. Kearifan, kesabaran, dan kehati-hatian yang merupakan tema inti ajaran agama tidak akan diperkenankan oleh orang yang hatinya telah digaduhkan oleh kelilip syahwat politik, meskipun berjubah keagamaan dengan sangat manis

Orang yang tidak sadar bahwa dirinya sedang klilipan biasanya hanya melihat berdasarkan logika faktual bahwa kebenaran hanya ada di dalam ruang penglihatannya. Radius berpikirnya dibatasi oleh tembok ruang penglihatannya. Segala pengetahuan kita hari ini mengenai agama, politik, ekonomi, kebudayaan dan apapun saja menjebak kita untuk hanya meyakini segala sesuatu yang terlihat dalam jangkauan analisis kita sebagai kebenaran. Kita kurang membuka dan membersihkan mata, kita kurang membuka hati dan pikiran untuk mulai mencurigai bahwa ada seribu kemungkinan di luar tembok kurungan penglihatan kita.

Orang jawa menyebut mata dengan istilah “mripat”. Mata yang hanya mampu melihat sisi fisik dari obyek penglihatannya tanpa memiliki pandangan  menembus hingga ke relung-relung makna, maka mata itu belum bisa disebut mripat, karena mripat berasal dari kata “ma’rifat”. Mata yang berderajat mripat dan mata yang terbebas dari kelilip tentu akan bisa menghasilkan seribu hikmah di setiap kelebatan penglihatanya menyentuh sesuatu.

Buku Cak Nun