Khusyuk dan Tak Lupa Menikmati Dunia

Catatan Majelis Maiyah Mocopat Syafaat, 17 Maret 2019 (1)

Sudah cukup malam ketika Mbah Nun tiba dan membersamai para pejuang Maiyah di Majelis Mocopat Syafaat pada 17 Maret 2019 Masehi ini. Turut bersama Mbah Nun adalah Pak Tanto Mendut yang hadir bersama seorang calon anggota dewan yang baru ditemuinya. Mbak Anggi ini diajak oleh Pak Tanto karena visinya yang ingin memberdayakan kaum disabilitas. Mbak Anggi memperkenalkan diri, menyebutkan nama lengkapnya yang cukup panjang dan membercandai diri beliau sendiri bahwa nama yang panjang tersebut adalah kompensasi dari tinggi badannya.

Pukul 01.00 WIB, Mbah Nun membuka bahasan dengan pengantar dua poin yang sangat prinsipil. Jangan kehilangan kemampuan menikmati dunia dan soal keseriusan manusia terhadap kata-kata. Pada poin bahasan kedua ini Mbah Nun bahkan menggali dari kekayaan manusia Jawa-Nusantara atas fonologi. “Kita guru besarnya fonologi sedunia,” ungkap Mbah Nun. Ada bahasan yang menurut Mbah Nun masih perlu ditunda dan ini berkaitan dengan kondisi dunia saat ini.

Baru saja terjadi kasus penembakan di New Zealand dan di NKRI juga seorang petinggi partai baru saja tertangkap tangan atas kasus suap. Yogya dan beberapa kota sedang diberi nikmat hujan yang merata dan konstan malam ini. Jamaah yang datang tidak sebanyak biasanya dan itu justru adalah kenikmatan sendiri. Komunikasi yang terjalin menjadi begitu intens dan mesra. Itu tampak dari sejak bahasan pembuka ketika dibuka oleh Mas Helmi bersama Pak Munir dan Mas Islamiyanto.

Mas Helmi pada pembukaan di awal menggalikan kembali ingatan kita atas bahasan Mbah Nun di beberapa majelis Sinau Bareng. Misalnya soal bahasan mengenai wasilah yang dibabarkan di pesantren At-Ta’Awun di Klaten. Dan kedua bahasan mengenai husnudhdhan atas segala fenomena, ini kita tentu ingat, diungkapkan oleh Mbah Nun dalam merespons sebuah pertanyaan di majelis Sinau Bareng di Joglo Panembahan.

Sesekali bahasan pembuka diselingi dengan nomor-nomor syahdu dari Wakijo and Sedulur. Pak Munir sendiri membabarkan banyak pengalaman beliau yang kaya akan hikmah dan penggalian demi pencarian. Pal Munir, beliau seorang pengusaha yang memulai semua dari otentisitas. Karena itu mungkin beliau sangat ngeklik dengan kitab “Sejarah Otentik Nabi Muhammad” yang diterjemahkan oleh Syekh Kamba. Sementara itu Mas Helmi juga mengingatkan bahwa baru saja terbit kitab Mbah Nun yang berjudul Markesot Belajar Ngaji.

Kemesraan sangat tampak ketika Mas Sabrang turut hadir dan membuka diri untuk diberi pertanyaan apa saja soal apa saja. Ternyata dua penanya awal yang mengajukan diri memang sangat merasa dekat hingga yang muncul adalah pertanyaan yang berasal dari pengalaman pribadi dan personal.

Penanya pertama seorang pria yang ternyata pernah bercerai karena diangggap kafir. Dan penanya kedua seorang wanita muda yang bertanya soal menata hati, jiwa dan pikiran. Semua dielaborasi menjadi pintu ilmu dengan tatanan logika yang tegas. Ada juga penanya ketiga yang justru penasaran dengan sosok Mas Sabrang. Mas penanya ketiga ini bertanya soal influence yang menginspirasi Mas Sabrang juga seberapa besar persentase Mbah Nun pada keilmuan Mas Sabrang.

“Soal persentase saya tidak bisa jawab,” tandas Mas Sabrang. Karena menurut vokalis band Letto kita ini, kita akan menghitung persentase tersebut. Soalnya, ketika kita melangkah pada sebuah capaian ilmu maka kita sudah punya kuda-kuda pandang yang baru sehingga kita melihat dengan baru lagi terhadap apa yang kita alami.

Dan bukankah Maiyah ini adalah pembuka pintu bagi kita untuk selalu melangkah dan tidak berhenti memperbarui kuda-kuda pandang kita? Sehingga itu membuat apapun fenomena yang kita temui di keseharian menjadi ilmu baru lagi dan lagi.

Hujan masih menemani dan malam masih berlanjut. Bahasan makin menghangat. Beberapa jamaah khusyuk dengan jas hujan, rokok dan kopi. Maiyah masih berjalan menembus badai zaman.

Buku Cak Nun