Khalifatullah Maestro Kartolo

(Liputan Sinau Bareng di Desa Sungegeneng, Sekaran, Lamongan, 29 Agustus 2019)

Cak Kartolo berdiri di panggung Sinau Bareng malam hari ini berbatik rapih agak formal, bercorak aneka warna dengan peci melayu hitam. Kemeja Cak Kartolo mungkin harus agak mangkel karena ternyata sang kemeja juga diolah oleh Cak Kartolo menjadi bahan humor, jokes yang segar dan menerbitkan tawa-tawa jawa timuran. Ndak usah tanya juga gimana bunyi tawa jawa timuran. Pokoknya ya begitu itu. Tidak hanya busananya, Cak Kartolo bahkan menjadikan istri beliau sebagai bahan candaan. Dan dibalas. Dan mereka eyel-eyelan, ejek-ejekan menjadi adegan natural dengan kelucuan yang agung.

“Ono sing dodol kacang iku lho aku ta mandek sek” celoteh Cak Kartolo. Dan memang, didepan panggung ada seorang mbok-mbok penjual kacang, mengerti bahwa dirinya dibuat bahan candaan menoleh sambil tersenyum dengan ekspresi sebel yang dibuat-buat. Mari pikirkan begini, Cak Kartolo tidak mungkin berencana bahwa akan ada penjual kacang yang lewat, tapi ketika fenomena itu terjadi, beliau siap mengolahnya. Mengelola, mengkhalifahi realitas menjadi candaan yang menyenangkan. Itu kemampuan presisi, ketepatan dan pengelolaan khalifatullah. Kita bisa berbangga menyebut dan bersaksi bahwa Cak Kartolo adalah maestro, adalah ulama arifin billah, adalah waliullah, adalah khalifatullah. Kalau ternyata salah, ya biar. Memang kapan kita pasti bener-bener amat menilai soal mana khalifah, soal ulama, soal waliyullah?

Ada resonansi, ada pejodohan dan persesuaian gelombang antara spirit ludruk dengan Sinau Bareng. Ludruk bukan hal sepele, kita bisa membahas jalur pertemuan dan permuaraan budayanya. Tapi tidak tepat untuk saat ini. Dalam Sinau Bareng kita menikmati semuanya dulu. Cak Kartolo dinikmati karena beliau juga menikmati dirinya sebagai adanya, menikmati apa yang tersaji, baik dirinya maupun di luar dirinya sebagai realitas, sebagai kenyataan yang mampu digenggam, diolah, dibolak-balik, dicairkan, dipadatkan, diuntal, digiling, diulek dan entah apalagi mekanisme dalam sistem syaraf sang maestro ini sehingga semua, iya semuanya, menjangkau cakrawala canda tawa dan kemesraan.

Sinau Bareng bukan grup ludruk secara wadagiyah, tapi ada peradaban ludruk di dalam batin Sinau Bareng. Ada keliaran, ada kejeniusan kultural. Soal meresapi realitas, kepekaan dan ketepatan, presisi hikmah, shalih pada nuansa. Dan persesuaian paling muara adalah pada produk kegembiraan di dalamnya. Sedikit liar keluarannya, tapi ada kerapihan dalam adab dan akhlak. Simak ketika Cak Kartolo sempat memberikan prinsip humor beliau “Apa saja bisa kita jadikan bahan bercanda, syaratnya tidak menyakiti orang yang dibercandain,” ini adalah seni yang bermain dengan keliaran, bermain dengan timing seper mili sekon, tapi tetap bisa menjaga adab. Itu apa kalau bukan khalifah? Rasanya ndak ada term yang lebih tepat.

Mbah Nun menyapa Cak Kartolo dengan sebutan “Kiai Haji Kartolo” dengan penghormatan. Rasanya ini tidak berlebihan, beliau Al Mukarrom Kiai Haji Kartolo disebut oleh Mbah Nun “Cak Kartolo adalah tanaman terbaik yang tumbuh di tanah dengan kondisi apapun”.

Mbah Nun benar-benar menyarankan agar kita serius meguru pada Cak Kartolo “Fahamilah beliau supaya anda bisa mengapresiasi siapa Cak Kartolo dan temukan dirinmu, temukan kepribadianmu seperti beliau ini,” kata Mbah Nun. Laa ya’rifu ludruk illa ludruk, mungkin begitu. Jadikan ludruk peradaban ilmu kita, ini dahsyat. Malam ini kita menikmatinya langsung. Syukurilah rahmat Allah ini.

Cak Kartolo bukan sekadar manusia jasadi mungkin. Beliau adalah fenomena budaya, realitas peradaban. Mbah Nun benar-benar mengapresiasi bahwa beliau, Cak Kartolo, hidup dengan istiqamah menjadi dirinya, tanpa diasuh oleh sistem negara. Karena negara modern terlalu sempit untuk memahami keluasan khilafah Kartolo.

Pemahaman mengenai khilafah kita juga kembali diluruskan oleh Mbah Nun, bahwa kita jangan terseret dalam peperangan eyel-eyelan tidak mesra (beda dengan eyel-eyelan antara Cak Kartolo dengan istri beliau) antara grup yang pro ultra-nasionalis harga mati dengan yang pro khilafah versi tertentu. Bahwa semua itu hanya versi “Yang anda bisa tolak adalah khilafah versi HTI, tapi jangan anti khilafahnya karena inni jaa’ilun fil ardli khalifah,” maka di sini, dalam Sinau Bareng kita kembali selalu dan terus berlatih presisi terhadap kata-kata, terminologi, terhadap apapun. Presisi semacam itu juga yang ditunjukkan oleh sang maestro Cak Kartolo. Kita perlu betul-betul kenal diri kita, mengukur fadhilah diri sendiri agar kita tidak salah menempuh arus sejarah di masa depan. Dari Sinau Bareng kita mulakan terus Khalifatullah peradaban ludruk.

Buku dan Merchandise