Ketika Allah Mengutuk (3)

Sungguh celaka besarlah setiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa. (Al-Jatsiyah: 7)

Kutukan Allah Swt kali ini ditujukan kepada setiap pendusta yang perkataannya penuh kebohongan, dan pendosa yang perbuatannya penuh kemaksiatan. Namun untuk mengetahui persis sasaran ayat ini, perlu dikaji ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, di samping asbabun nuzul-nya. Di dalam enam ayat sebelumnya Al-Qur`an menyebutkan ayat-ayat Allah, baik berupa ayat-ayat qauliyah (Al-Qur`an) maupun ayat-ayat kauniyah (fenomena alam semesta).

Ayat 1 adalah ha mim. Dilanjutkan dengan ayat dua “Kitab Al-Qur`an ini diturunkan dari Allah yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana”. Di dalam tiga ayat berikutnya (3, 4, dan 5), disebutkan mengenai penciptaan langit dan bumi, penciptaan manusia dan hewan-hewan yang bertebaran di muka bumi, penciptaan malam dan siang, turunnya air hujan dari langit yang menghidupkan bumi, serta perkisaran berbagai macam angin. Ketiga ayat tersebut selalu ditutup dengan pernyataan bahwa fenomena alam itu merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman (lil-mu`miniin), bagi orang-orang yang yakin dengan imannya (li qaumin yuuqinuun), dan bagi orang-orang yang menggunakan akalnya (li qaumin ya’qiluun). Rangkaian ayat-ayat ini kemudian ditutup dengan pernyataan dan pertanyaan. “Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan haq. Maka dengan perkataan apa lagi, sesudah perkataan Allah dan ayat-ayat-Nya, mereka akan beriman?”.

Kalau kepada perkataan dan ayat Allah saja mereka tidak percaya, bagaimana mungkin mereka percaya kepada perkataan Nabi dan perkataan manusia lainnya, sebaik dan sebenar apapun perkataan itu. Kepada mereka inilah Allah menyatakan kecaman-Nya yang sangat keras dengan kata wailun, Sungguh celaka besarlah setiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa”. Kemudian Al-Qur`an menggambarkan secara spesifik pada dua ayat sesudahnya perilaku dari affaak (pendusta) dan atsiim (pendosa).

Ayat 8, “Dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka berilah dia kabar gembira berupa azab yang pedih”. Menurut riwayat, turunnya ayat ini berkaitan dengan sikap salah seorang tokoh musyrikin Quraisy An-Nadhr bin Al-Harits, yang sengaja membeli cerita-cerita dari orang-orang asing dan membacakannya kepada kaumnya agar mereka tidak mendengarkan Al-Qur`an yang dibacakan oleh pengikut-pengikut Muhammad Swt. Kecaman Allah ini bukan hanya untuk Ibn Al-Harits tapi berlaku umum, untuk siapa saja yang menolak Al-Qur`an dan  mengingkari petunjuk-petunjuk yang dibawanya. Yang menarik, di dalam ayat ini Allah menggunakan gaya bahasa sarkasme untuk merendahkan para pendustanya “berilah dia kabar gembira berupa azab yang pedih”.

Ayat 9 “Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikannya olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. Perilaku yang dicontohkan dalam ayat ini adalah mengolok-olok Al-Qur`an. Satu dua ayat yang mereka ketahui, mereka jadikan sebagai bahan gurauan dengan maksud melecehkan ayat tersebut. Sebagaimana diriwayatkan mengenai asbabun nuzul ayat ini, bahwa Abu Jahal ketika mendengar ayat 43 surat Ad-Dukhan “inna syajarataz-zaqquumi tha’aamul-atsiim” (sesungguhnya pohon zaqqum adalah makanan orang yang  banyak dosa), maka dia mengundang teman-temannya untuk makan korma dan mentega sambil berteriak, “ayo silakan makan zaqqum yang dijanjikan oleh Muhammad”. Kemudian ketika mendengar ayat 30 surat Al-Muddatstsir “neraka itu dijaga oleh sembilan belas malaikat”, maka dia menantang, “kalau jumlah mereka 19, saya akan hadapi mereka seorang diri”.

Orang yang menolak, mengolok-olok, menghina dan menistakan Al-Qur`an inilah yang dikutuk keras oleh Allah, diberikan kepada mereka “berita gembira” berupa azab yang pedih dan azab yang menghinakan mereka di dunia dan di akhirat. Penistaan kepada Al-Qur`an pada zaman Rasulullah Swt antara lain dengan menyebut Al-Qur`an sebagai “asaathiirul awwaliin atau lagenda orang-orang terdahulu” (9 kali disebut dalam Al-Qur`an), sebagai “sihrun mubiin atau sihir yang nyata” (disebut 8 kali dalam Al-Qur`an), dan sebagai “ifkun muftaraa atau berita bohong dan palsu”.

Begitu kejamnya tuduhan mereka kepada Al-Qur`an, dengan menyebutnya sebagai dongeng, menganggapnya sebagi mantra-mantra tukang sihir, dan menuduhnya sebagai kebohongan dan kepalsuan. Tapi Al-Qur`an merespons penistaan mereka itu dengan penjelasan, argumentasi, di samping kutukan dan ancaman.

Nabi Muhammad Saw juga tidak menghadapinya secara berlebihan. Beliau hanya meminta kepada para penyair muslim untuk membantahnya dengan syiir-syiir yang bisa mematahkan tuduhan mereka itu. Orang-orang semacam ini tidak hanya ada pada zaman permulaan Islam, tapi akan terus ada sepanjang zaman.

Para pendusta dan penista Al-Qur`an ini ada negeri-negeri Arab seperti Mesir, Aljazair, dan di Irak: di negeri-negeri muslim seperti Indonesia: dan juga di negeri-negeri non-muslim sepeti Belanda, Inggris, dan Amerika. Dalam banyak kasus, protes keras umat Islam tidak cukup kuat untuk membuat mereka berhenti menista. Hukum di banyak negara juga tidak cukup tajam untuk memenjarakan mereka. Tapi hukuman Allah telah terbukti nyata menghinakan mereka bukan saja di akhirat tapi juga di dunia. Dan atas kehendak Allah, sebagian mereka diberi hidayah dan berbalik menjadi pembela Al-Qur`an.

Buku Cak Nun