Ketika Allah Mengutuk (1)

Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celaka besarlah orang-orang yang shalat, (tapi) Mereka itu lalai dari shalatnya, Mereka melakukan shalat (dan ibadah lainnya) untuk manusia bukan untuk Allah (riya`). Dan mereka enggan melakukan kebaikan-kebaikan kecil (yang berguna untuk membangun kesetiakawanan sosial) (Al-Ma’un: 1-7)

Di dalam surat Al-Ma’un ini, Allah menyatakan dua hal yang mengejutkan. Pertama tentang “siapakah orang yang mendustakan agama?” (ayat 1). Jawaban Allah atas pertanyaan ini sungguh di luar dugaan, karena berbeda dengan persepsi orang Islam pada umumnya. Dalam beberapa pengajian, penulis mengajukan pertanyaan yang kurang lebih sama maksudnya dengan pertanyaan Allah di atas, lebih dari 75 persen hadirin menjawab spontan “orang yang tidak shalat”.

Dalam pandangan kebanyakan kita, shalat adalah indikator utama keislaman seseorang, dengan kata lain, orang Islam yang tidak shalat lah yang mendustakan agamanya. Maka sungguh mengejutkan ketika Allah menyatakan (ayat 2-3) bahwa orang yang mendustakan agama adalah orang yang “kejam kepada anak yatim dan tidak peduli kepada orang miskin”. Lebih mengejutkan lagi ketika Allah pada ayat berikutnya menyatakan “wailun lil mushalliin” (celaka besarlah orang-orang yang shalat). Tentu ayat ini tidak boleh dipotong sampai di sini, harus dilanjutkan ke ayat-ayat berikutnya agar diperoleh makna seutuhnya.

Bukan perkara kecil ketika Allah mengecam dengan kata “wailun”. Allah menggunakan kata kecaman ini 27 kali di dalam Al-Qur`an. Sebagian besar untuk al-mukadzdzibiin (orang-orang yang mesdustakan agama Allah), al-kafiriin, al-musyrikiin, adh-dhalimiin, dan orang-orang yang memalsukan firman-firman Allah. Tentu wajar kalau Allah mengecam dan mengutuk mereka seperti itu. Akan tetapi ketika kecaman bernada kutukan itu ditujukan kepada “orang-orang yang shalat” bukan orang Islam yang tidak shalat,  maka hal ini menjadi tanda tanya besar bagi kita umat Islam. Pasti ada kesalahan fatal yang dilakukan oleh “al-mushalliin”, orang-orang Islam yang menjalankan shalat, sehingga dikecam sedemikian rupa oleh Allah Swt.

Untuk menjelaskan siapa para mushalli yang dikecam dengan wailun itu, Al-Qur`an menyebut yang pertama adalah para mushalli yang “lalai dengan shalat mereka” (ayat 5). Apa yang mereka lalaikan? Bukankah mereka telah melakukannya? Menurut Sayid Quthub, yang mereka lalaikan adalah hakikat shalat itu sendiri. Hakekat shalat adalah agar para mushalli mengingat Allah (Thaha: 14), senantiasa merasakan kebersamaan dengan Allah. Perasaan yang kuat bahwa Allah bersamanya akan mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar (Al-‘Ankabut: 45) dan mendorongnya untuk melakukan kebaikan. Produk dari shalat yang hakiki adalah amal saleh yang merupakan keterpaduan hablun minallah dan hablun minannas. Yang kedua adalah mereka yang “riya`” dengan shalatnya. Mereka melakukan shalat bukan untuk Allah tapi untuk manusia. Mereka melakukan gerakan-gerakan shalat, mengucapkan bacaan-bacaan shalat, tapi hati mereka tidak hadir. Mereka shalat tidak untuk mencari ridla Allah tapi untuk memperoleh pujian dari manusia. Yang ketiga adalah mereka yang enggan melakukan kebaikan. Al-Ma’un adalah kebaikan-kebaikan kecil yang lazim dilakukan oleh sesama teman atau sesama tetangga dalam kehidupan bermasyarakat. Kalau kebaikan kecil saja mereka enggan melakukannya apalagi kebaikan yang nilainya lebih besar.

Surat pendek ini mengingatkan kita semua akan hakikat agama dan keberagamaan. Agama Islam bukanlah agama ritus dan upacara. Hakikat ibadah tidak terletak pada tampilan lahiriahnya, baik gerakan maupun ucapannya, melainkan pada ketulusan niat dan keihklasan hati hanya untuk Allah semata, dan keihlasan itulah yang mendorong dan menggerakkan seorang muslim untuk melakukan kebaikan, dalam wujud perilaku yang sesuai dan membawa maslahat bagi kehidupan manusia. Inilah amal saleh dalam konsep Islam.

Islam bukanlah agama yang membagi-bagi ajarannya dalam kotak-kotak yang terpisah satu sama lain. Ada kotak akidah, kotak syariah, kotak akhlak. Ada kotak ibadah yang bersifat individual, ada kotak muamalah yang bersifat sosial. Maka seorang muslim yang mengambil kotak ibadah disebut saleh individual, dan yang mengambil kotak muamalah disebut saleh sosial. Ajaran Islam merupakan satu kesatuan, satu sistem yang terpadu, tidak terpisah-pisah. Maka seorang muslim yang rajin beribadah tapi bersikap anti sosial, tidak dapat disebut sebagai muslim yang saleh hatta saleh individual sekalipun, karena muslim ‘abid yang demikian ini justru dikecam oleh Allah dengan wailun dan dikategorikan sebagai pendusta agama. Wallahu’alam.

Buku Cak Nun