Ketidakabadian Janganlah Dituhankan

Catatan Majelis Maiyah Bangbang Wetan, 22 Maret 2019

Purnama selalu menjadi malam yang dinanti-nanti. Rembulan sudah bulat sempurna, tanda akan banyak rindu yang berbuka dari puasanya. Juga, akan menjadi malam penampung amunisi untuk bekal ‘puasa-puasa’ selanjutnya. Khususnya, bagi mereka para pemuda yang semangat menebarkan kebaikan dan keindahannya terpancar dari timur. BangbangWetan.

Minder, kaget, takut. Kurang lebih perasaan itu yang dirasakan para Cak dan Ning Kota Surabaya tadi malam. “Diminta nyanyi, tapi kok tadi di awal ada ngaji-ngajinya. Sedangkan lagu yang kita persiapkan, bukan lagu-lagu yang kayak gitu.” Kurang lebih seperti itu pengakuan Ning Surabaya angkatan 2018 yang bersuara merdu itu.

Di luar dugaan, respons dan penyambutan dulur-dulur BBW ini sangat baik. “Seje lah. Wis suwe kenal karo aku, aku kenal suwe karo kono. Wis pokok e respone apik lah.” Salah satu Cak Kota Surabaya menegaskan. Yang mereka rasakan adalah kekeluargaan yang begitu kentara. Baru kali pertama turut hadir di BBW tapi rasanya sudah sangat lama saling mengenal.

Rasa takut, kurang percaya diri yang mereka rasakan di awal seketika hilang menyaksikan tanggapan jamaah. Bagaimana jamaah yang mau mendengarkan, tak memandang siapa dan dari mana, yang penting semua saudara. Keadaan seperti ini yang sedikit banyak memantik para Cak dan Ning ini dengan nyaman berbagi pengetahuan mengenai mengenai Kota Surabya. Dan itu salah satu tugas yang diemban mereka.

Mulai dari sejarah sosok seniman yang cukup vokal pada zamannya. Yang kemudian jasa-jasanya diabadikan ke dalam sebuah nama gedung yang kita gunakan untuk sinau bareng malam tadi malam, Cak Durasim, gedung-gedung bersejarah di Kota Surabaya, asal usul nama Dolly, sampai sejarah munculnya istilah pisuhan khas Surabaya, semua diceritakan secara detail oleh pemuda berkacamata itu.

Para duta Pariwisata Kota Surabaya itu juga meluruskan kesalahpahaman anggapan masyarakat selama ini. Bahwa selama ini, masyarakat menganggap duta Wisata adalah ajang ‘adu tampang’. Kenyataannya tidaklah demikian.

“Sing penting wani dhisek.” Yang penting berani dulu. Duta Pariwisata Kota Surabaya adalah representasi masyarakat Surabaya. Masyarakat yang berani. Bukan sekadar berani selfie diunggah di akun media sosial pribadi, tapi juga berani untuk beraksi. Masyarakat yang bersih, rapi, dan berperilaku positif. “Bagaimanapun, jangan sampai kehilangan karakter asli kita.”

Jamaah Maiyah sudah terbiasa mendengarkan, menyimak, mengapresiasi, dan menampung banyak hal dan wawasan. Tak memandang siapa, yang penting apa dan bagaimana yang disampaikannya. Begitulah pula semalam kepada duta Pariwisata Surabaya.

Sesudah pada segmen awal, para jamaah salah satunya menyimak dan berinteraksi dengan duta wisata, salah satu eksplorasi keilmuan datang dari Kyai Muzammil. Bicara mengenai negara. Yai Muzammil memaparkan beberapa strata negara menurut Al Farabi. Di antaranya ada madinah jahiliyyah, madinah faasiqah, madinah mubadilah, madinah dholaalah, dan madinah fadhiilah.

Ada negara yang pemimpin dan mayoritas masyarakatnya berbuat salah karena tidak tahu. Ada yang berbuat salah karena memang sengaja, padahal mereka tahu kalau itu salah. Ada yang membolak-balikkan kesalahan dan kebenaran. Yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan. Dan ketika yang dikejar masyarakatnya hanyalah kebutuhan-kebutuhan sesaat, bersiaplah negara tersebut akan berada dalam kesesatan. Menjadi puncak kebodohan, ketika yang mati-matian kita perjuangkan hanyalah ketidakabadian semata.

Lantas, di manakah negara kita? Silakan dicek bersama. Apakah yang digaung-gaungkan dan dibela mati-matian hanya menyoal pembangunan gedung-gedung? Hanyalah tentang materi yang tak bisa menemani saat kita berpulang seorang diri?

Jikalau iya, bersiaplah hidup dalam negara al-madinah adh-dholaalah. Kendatipun begitu, Kyai Muzammil dalam kelakar dan cara khasnya mencoba membesarkan hati jamaah. Beliau mengajak jamaah untuk tetap berusaha mengambil hikmah, sekalipun itu tampak seperti musibah.

Meskipun keadaan negara kita sedang berada dalam ketersesatan misalnya, barangkali ini bisa menjadi berkah untuk kita. Siapa tahu, dengan keadaan seperti ini, kita tetap berusaha untuk tidak terseret arus, justru ini yang akan menjadi pemberat bobot derajat kita di akhirat kelak.

Ada pula seorang jamaah yang mencoba melihat keabadian pada simbol pancasila. Pada burung Garuda yang menjadi lambang negara kita, di dadanya ada gambar bintang yang melambangkan ketuhanan.

Ketika yang kita jadikan pedoman adalah Tuhan, ketika yang kita perjuangkan adalah segala untuk meraih ridla Tuhan, ini bisa menjadi cahaya yang akan menerangi setiap langkah kita. Sekalipun kecil, tapi itu tetap bintang. Sinar akan mampu dipancarkan oleh sang bintang. Tak mengapa dengan besar kecilnya ukuran.

Buku Cak Nun