Kenduri Cinta Tak Enggan Selami Makna Syariah

Catatan Majelis Ilmu Kenduri Cinta, Jakarta, 18 Januari 2019

Sebagai manusia, sejatinya kita tidak mungkin mengetahui tentang semua hal. Setiap kita, ada yang memang pandai dalam satu hal, tapi juga sebenarnya kita sangat mungkin tidak menguasai dalam banyak hal lain. Justru salah satu keindahan dari perjalanan hidup manusia adalah ketidaktahuan akan semua hal, karena secara fitrah meskipun manusia selalu memiliki rasa ingin tahu, tetapi sesungguhnya manusia tidak akan mampu menanggung beban untuk tahu segala hal. Bayangkan jika kita mengetahui semua hal, niscaya tidak akan kita rasakan keindahan hidup ini. Karena sesuatu hal yang seharusnya tidak perlu kita ketahui, justru kita mengetahuinya. Karena memang kita seharusnya menyadari bahwa tidak semua hal kita harus mengetahui, dan ada banyak hal yang justru lebih baik kita tidak mengetahuinya.

Menembus Stigma Syariah

Tetapi, bukan berarti kemudian kita memilih untuk tidak mau tahu tentang sesuatu hal, karena akan mengakibatkan terjebaknya kita dalam stigma yang salah. Salah satu alasan mengapa Kenduri Cinta edisi Januari 2019 ini mengangkat tema “INDONESYARIAH” adalah dalam rangka kita mempelajari secara detail, sesuai dengan khasanah ilmu tata bahasa, dan juga sejarah awal mula kenapa kata syariah itu digunakan oleh masyarakat di dunia. Karena bisa jadi, kesalahpahaman tentang kata syariah diawali dari kesalahan informasi yang juga kita dapatkan tidak utuh, sehingga kita pun salah memahami kata syariah.

Tema INDONESYARIAH bagi masyarakat Maiyah bukan sebuah tema yang aneh, namun mungkin tidak demikian bagi masyarakat di luar Maiyah, tema tersebut mengandung sebuah kata yang akhir-akhir ini dipeributkan (lagi). Kenduri Cinta, dengan berlandaskan kedaulatan manusia dalam berpikir, sehingga meskipun tema yang diangkat adalah sebuah tema yang bagi masyarakat umum merupakan tema stigmatis, Kenduri Cinta berusaha membingkainya dengan tetap mengedepankan tata krama, sehingga tidak serampangan juga dalam menjadikan tema tersebut sebagai landasan diskusi.

Suasana Sinau Bareng di Kenduri Cinta selalu menggembirakan. Seperti halnya yang terjadi di Maiyahan lain seperti biasanya. Meskipun sejak sore Jakarta diguyur hujan yang sangat deras, sehingga persiapan teknis seperti penataan panggung kecil (level) dan sound system harus tertunda sejenak menunggu hujan reda. Menjelang Maghrib, ketika hujan reda, baru kemudian semua peralatan tadi ditata. Karpet pun digelar setelah genangan air di pelataran parkir Taman Ismail Marzuki dibersihkan. Siapa yang membersihkan? Penggiat dan beberapa jamaah yang sudah datang sejak sore hari, tanpa ada komando, tanpa ada instruksi, secara mandiri mengambil peran masing-masing. Karena memang forum majelis ilmu ini adalah forum bersama, kesadaran untuk mengupayakan lancarnya keterselenggaraan forum ini pun adalah kesadaran yang lahir secara alami dari setiap individu yang bersentuhan dengan forum ini.

Menggali Pertanyaan Umat Seputar Syariat

Dinamika perilaku manusia seperti yang terlihat di dalam persiapan Kenduri Cinta Jumat sore lalu tentu merupakan salah satu syariat Allah. Kesadaran naluri manusia adalah berlaku sebagai khalifah untuk mengelola segala sesuatu yang telah dianugerahkan oleh Allah. Dan hujan merupakan salah satu rahmat dari Allah yang harus ditransformasikan menjadi berkah, dan itu merupakan tugas khalifah yang diemban oleh manusia di muka bumi.

Memasuki diskusi sesi pembuka pun, jamaah sudah sangat antusias merespons tema INDONESYARIAH ini. Kata syariah memang kata yang menjadi titik fokus yang dibahas malam itu. Muncullah pertanyaan-pertanyaan yang sederhana, namun berbobot, seperti “Apakah Indonesia ini bukan merupakan syariat Allah?”. Ada juga yang mempertanyakan, mengapa setiap kata syariah ini dimunculkan, stigma yang berkembang di masyarakat adalah stigma tentang upaya mengislamkan sesuatu, sehingga yang sebelumnya dianggap tidak syariah atau tidak Islam.

Sementara, seperti yang kita ketahui bersama bahwa stigma tentang tidak amannya Islam sudah menjadi hal yang diketahui oleh publik hari ini. Mulai dari kasus terorisme yang selalu diidentikkan dengan gerakan radikal Islam, hingga pemahaman-pemahaman tentang Islam yang salah, menjadi legitimasi bersama bahwa Islam adalah sesuatu hal yang jangan sampai menjadi landasan kekuasaan. Maka isu-isu seperti syariah, jihad, bahkan hingga khilafah yang notabene adalah istilah-istilah yang sangat kental dengan Islam, selalu menjadi isu miring yang kemudian pada akhirnya menjadi sumbu perpecahan masyarakat.

Di Maiyah tidak ada doktrin, tidak ada fatwa. Maka ketika tema ini diangkat, landasan berpikir masyarakat Maiyah adalah kedaulatan berpikir setiap individu. Berdaulat tidak berarti bebas sebebas-bebasnya, justru kebebasan yang dimaknai dalam kedaulatan berpikir adalah kebebasan yang berpijak pada pengetahuan tentang batas. Sehingga, informasi apapun yang didapat di forum Kenduri Cinta ini bukan merupakan barang jadi yang akan langsung ditelan, setiap individu akan mengolah kembali dalam diri mereka masing-masing, hingga pada akhirnya mereka menemukan sendiri kebenaran atas ilmu yang mereka cari. Maiyah hanya merupakan sebuah media transformasi ilmu dari Sang Pemilik Ilmu Yang Sejati kepada manusia.

Yang juga menggembirakan malam itu adalah, peserta workshop di Kenduri Cinta pada edisi bulan lalu menyampaikan hasil dari diskusi dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh Cak Nun. Ada beberapa pertanyaan, namun mereka tidak harus menjawab dan membahas semua, Cak Nun membebaskan mereka untuk menjawab pertanyaan yang mana, dan juga sebebas-bebasnya mereka akan merespons dengan cara bagaimana.

Buku dan Merchandise