Kenapa Harus Berpikir Keras?

Sudah rumus kalau 1 + 1 = 2. Namun, ketika seorang anak kecil pergi ke minimarket menemukan promo beli dua gratis satu, si anak akan mengerti bahwa 1 + 1 =3. Proses si anak menjadi mengerti hitungan ini kita kenali sebagai proses berpikir.

Ya, hafal rumus saja tidak cukup. Seseorang tetap perlu berpikir untuk menerapkan rumus ke dalam problematika yang dihadapi. Saya terpikir ini setelah menyimak kuliah Syeikh Kamba di Forum Kenduri Cinta yang lalu. Salah satunya Beliau menekankan mengenai pentingnya berpikir. Tidak mengada-ada Syeikh ini, sebab memang ajaran tentang pentingnya berpikir berulang ditekankan di dalam Al-Quran.

Syeikh berpesan supaya kita menghindari keyakinan yang bersifat informatif. Ini adalah pesan sederhana tetapi mengandung tantangan yang besar bagi generasi kita. Apa sebab? Telah terbentuk pola di dalam benak kita bahwa yang namanya proses belajar adalah proses transfer informasi belaka.

Kok belaka? Kalau faham gadget, mudah memahami ini, transfer pengetahuan itu seperti proses transfer data antar memory. Sedangkan sebuah aplikasi digital baru akan berjalan kalau sudah diinstal. Ini bukan wilayah memory penyimpanan belaka, melainkan wilayah kerja prosesor. Mungkinkah sebuah keyakinan itu hanya melalui transfer data, tanpa di-instal?

“Ceramah yang kita dengar mestinya hanya menjadi cara untuk kita melahirkan pemikiran kita sendiri”, ungkap Syeikh. Ini relevan dengan apa yang berulang Mbah Nun anjurkan bahwa di Maiyah mestinya kita membangun kedaulatan berpikir. Orang Maiyah faham kedaulatan bukan hanya perjuangan negara, melainkan juga kedaulatan diri sendiri. Berapa banyak kita tidak berdaulat di hadapan kata, pengertian, keyakinan dan informasi yang tergelar. Sehingga semakin rajin seseorang memindah data, ia hanya memenuhi memory. Prosesor di otaknya belum tentu difungsikan.

Lebih lanjut Syeikh Kamba menyampaikan bahwa otak kita hanya akan berkembang kalau diajak berpikir keras. Masih menurut Syeikh, proses menghafal saja belum termasuk kategori berpikir keras. Nah ini, di sini ada benarnya apa yang disampaikan Steven R. Covey mengenai learning how to learn. Belajar tentang cara belajar menurutnya adalah satu dari tujuh kebiasaan yang harus dibangun oleh seorang yang ingin menjadi highly effective people.

Masing-masing perlu mengecek lagi, apakah yang kita pahami tentang apa itu belajar memiliki hubungan yang berbanding lurus dengan kualitas berpikir kita. Syeikh kemudian menyampaikan bahwa intensitas berpikir itu tidak ada batasnya. Jaringan syaraf di otak semakin digunakan akan semakin terus membentuk sambungan-sambungan yang begitu luas seperti halnya jaringan world wide internet.

Wah, padahal yang enak itu santuy sambil rebahan yah. Ada benarnya kata para motivator itu bahwa “Masalah yang kamu hadapi adalah juga bentuk kasih sayang Tuhan”. Sebab ketika ada masalah, maka kita dipaksa untuk berpikir keras. Sedangkan ketika berpikir keras, jaringan syaraf otak kita menjadi berkembang.

Syeikh Kamba berpesan, kalau untuk memiliki kedaulatan berpikir dirasa terlalu jauh, setidaknya jangan dianggurinlah pikiran kita. Bawalah mengisi Teka Teki Silang misalnya. Hehe. Bisa saja Syeikh.

Inilah sekelumit pesan dari Syeikh Kamba, seorang yang memilih menanggalkan karier di jalur birokrasi, lebih memilih menekuni dunia akademik dan memilih menemani Orang Maiyah yang sedang terus belajar menggunakan ‘prosesor’ di akalnya agar optimal.

Syeikh tak pernah melepaskan pesan-pesan ilmunya dari tautan cinta kepada Baginda Nabi SAW. “Kenapa Nabi Muhammad bisa amanah, adalah karena Beliau cerdas. Bagaimana Beliau bisa cerdas, berarti Beliau selalu berpikir keras”, ungkap Syeikh. Masih kata Beliau, kalau kita hanya mengenyam keyakinan informatif dan enggan untuk berpikir, maka kita tidak dapat mengenali Nabi Muhammad yang cerdas.

Berkah usia 61 tahun Syeikh Nursamad Kamba.

Buku Cak Nun