Kembange Wis Sumambrah, Wohe Wis Pentil-Pentil

Tersangkut di samping rak sepatu selasar musholla, saya kemudian mentautkan diri dalam obrolan bersama Fadil yang sudah duduk terlebih dahulu di situ, di salah satu sudut dari venue Mocopat Syafaat. Tak lama berselang, kemudian datang Nonot disusul Anggi Sholih, dua orang pegiat media sosial dari dua kota yang berbeda, Solo dan Banyumas.

Orang-orang yang baru datang tampak merangsek ke wilayah depan, mungkin saja memang masih tersedia tempat untuk sekadar nyempil duduk di wilayah depan. Saya karena sudah kadung pe-we, sudah memutuskan untuk memarkir duduk di sini saja. Toh, pengeras suara berfungsi dengan optimal membuat suara dari panggung begitu terdengar, simak-able.

Selasar musholla belakang tidak terlalu berjubel, Hilmy yang baru saja keliling menyambangi teman-temannya kemudian ikut nimbrung juga di situ. Kemudian masih ada lagi yang turut nimbrung, Anggarista yang baru saja menyelinap turun panggung usai menuntaskan tugasnya memoderatori sesi perdana Maiyahan malam hari itu.

Tempat kami melingkar mungkin termasuk wilayah di belakang, cukup jauh jarak dari panggung. Tapi ya sudah tidak apa-apa, memberi kesempatan bagi yang muda-muda. Sebetulnya kami tidak benar-benar duduk dalam posisi melingkar. Akan tetapi pada rentang jarak yang kecukupan untuk saling menyahut telinga ketika hendak berbincang. Meskipun berkerumun bareng-bareng seperti itu, tetapi tidak lantas kami membuat forum sendiri. Atensi masing-masing yang terutama tetap pada apa yang sedang berlangsung di panggung di depan sana. Sesekali mengobrol kecil, sesekali pula membuka layar ponsel menge-twit dengan hastag malam hari itu #MSOkt.

Memang seringkali ajang Mocopat Syafaat dijadikan wahana temu kangen. Kalau menyengaja bertemu, kawan-kawan dari berbagai kota, kok ya rasanya berat. Tetapi dengan sama-sama datang ke Mocopatan, malah jadi bertemu secara tidak sengaja.

“Semua ada musimnya, ada saatnya, ada momentumnya,” Mbah Nun menyampaikan ketika di awal-awal bergabung di atas panggung. Ya, seperti kita tahu, bagi Indonesia ini adalah momentum peralihan kekuasaan. Sedangkan bagi Jamaah Maiyah sendiri Mbah Nun menyampaikan bahwa pada momentum ini, “Kowe iki wis cukul tenan, kembange wis sumambrah, wohe wis pentil-pentil.”

Ketidakmungkinan teman-teman yang duduk melingkar di belakang untuk berforum sendiri, selain karena kesibukan masing-masing mencatat — minimal di twit text, menjadi semakin tidak mungkin karena masing-masing mengasyiki pengembaraan berpikirnya sendiri: Yang sudah cukul tenan-an siapa saja yah? Saya termasuk apa tidak? Kembang macam apa yang sudah sumambrah ya? woh? Berbuah? Aduh, kok Saya belum membuahkan apa-apa yah?

Belum selesai pengembaraan di benak saya mencari jawab atas semua itu, pun juga mungkin di benak masing-masing teman-teman, Mbah Nun sudah men-distract dengan pantikan hal lain lagi, yakni ungkapan penyayangan Beliau atas situasi tidak menentu yang Indonesia alami hari ini.

Yakni mereka yang sebenarnya tidak mampu melihat, apa yang mestinya harus mereka lihat. Mereka yang ditutupi oleh nafsu mereka sendiri. Mereka yang mengemban amanah-amanah serius dari Allah tapi dengan cara main-main. Mereka yang tidak sadar bahwa di baliknya ada risiko besar atas tindak-tanduk yang demikian itu.

Tentu tidak bisa linear saya menyerap amsal-amsal situasi tidak menentu Indonesia yang disampaikan Mbah Nun tersebut. Beliau sendiri menyampaikan, “Tentu saja ada metodologi untuk memandang fenomena-fenomena tersebut dengan objektif. Akan tetapi, di sini kita tidak sedang membicarakan itu.”

Ini di sini kita tidak sedang nggrendengi Indonesia. Kalaupun terbahas sedikit-sedikit, keperluannya mungkin saja hanya untuk melatih ‘karoseri’ berpikir di otak kita. “Kowe kudu nduweni karoseri nang njero utekmu,” ungkap Mbah Nun. Karoseri dimaksud adalah infrastruktur berpikir supaya seseorang memiliki kemampuan untuk tidak menelan mentah-mentah pengetahuan yang ia asup.

Coba, tanpa memiliki karoseri pikiran yang solid, memandang problematika negeri di bulan-bulan terakhir, Saya atau pun siapapun saja hanya akan termakan oleh pihak-pihak pengampu kepentingan. Syukur kalau pengampu kepentingan itu adalah mereka kaum pembuat perubahan sungguhan, lah kalau sekadar buzzer pengemis nafkah, oh, repotnya Saya oleh pengetahuan yang saya konsumsi. Belum lagi potensialitas kalau ada kontra-intelijen bermain peran.

Untunglah di sesi awal tadi sudah dikupas secara leluasa panduan dari Marja’ Maiyah Cak Fuad mengenai “Istiqomah Ber-Maiyah” yang di dalamnya mencakup panduan bersikap terhadap situasi yang terjadi di Indonesia hari ini.

Loske wae,” Anggarista nyeletuk. Dibawa rileks dulu, kebetulan Kang Nonot menyuguhkan bungkusan berisi kacang kulit. Tak lama datang aneka gorengan, cukup untuk mengendurkan suasana di pikiran Saya sendiri. Untuk kopi, libur dulu. Sudah over sedari tadi sore ngopi.

“Ini masa peralihan,” demikian Mbah Nun kemudian menekankan. Situasi Indonesia hanya disenggol sedikit saja, lebih banyak dosis menikmati suasana surga yang terasa malam hari itu. Saya pikir surga itu seperti taman kota, nyatanya taman kanak-kanak yang jadi tempat Mocopatan setiap bulan itu, setelah diudar oleh Mbah Nun tentang potensialitas ciri-ciri Surga, ternyata bisa indikatif juga. Sebab surga kalau diklaim, maka berarti ia bukan surga, maka suasana ‘surgawi’ malam hari itu adalah latihan menjadi penghuni surga saja.

Menyoal masa peralihan, Mbah Nun membaca bahwa di dalam Maiyah telah terjadi peningkatan tajam di akhir-akhir ini. Kata Beliau, bahkan peningkatan itu hingga pada tataran: ajaib. Tentu saja, Saya adalah orang yang gelap kalau ditanya, peningkatan di bidang apa saja yang dimaksud oleh Mbah Nun. Sebab memang Saya tidak punya alat ukur yang genuine, melainkan hanya alat ukur perkembangan organisasi mainstream. Padahal Maiyah adalah organisme, alat-alat ukur yang ada belumlah kompatibel untuk mengukur.

Walaupun gelap, Mbah Nun berpesan supaya kita semua tetap terus berjalan. Panduannya adalah “Subhanallazi Asro bi’abdihi laylan minal masjidil haromi ilal masjidil aqsho…” (QS Al Isro: 1). Masjidil Haram melambangkan kegembiraan, Masjidil Aqsho melambangkan keprihatinan. Perjalanan yang mesti kita tempuh tak menjadi soal apabila ada gembiranya sekaligus harus mendapati prihatin pula. Begitu terus-menerus. Memang kita mengerjakan masa depan yang belum ada protokolnya, tidak ada modulnya, justru kita terus berjalan sembari menyusunnya.

Ya, di masa peralihan ini, yang dapat saya lakukan hanya terus-menerus setiap hari memastikan apakah saya masih di dalam rangkaian lokomotif generasi yang sedang tumbuh, atau tanpa sadar lepas ikatan dari kereta perubahan? Sebab, sekali lagi, perubahan itu ada musimnya, ada saatnya, ada momentumnya. “Bukan berjalan pada kemauanmu sendiri,” Mbah Nun weweling.

Buku dan Merchandise