Kecintaan dan Kegilaan pada Sepak Bola

Catatatn Majelis Maiyah Damarate Madura, 26 Januari 2019

Alhamdulillah, maiyahan di Damar Ate edisi ke-5 dapat diselenggarakan dengan cukup baik pada Sabtu, 26 Januari 2019, bertempat di Rumah Besar Suporter (RBS) Sumenep, Jln. Dr. Soetomo Pajagalan Kota Sumenep. Hal ini juga tak lepas dari adanya dukungan taretan K-Conk Mania Sumenep yang sedang merayakan hari lahirnya yang pertama (1st Anniversary).

Damar Ate yang notabene tergolong baru sebagai salah satu simpul Maiyah di Indonesia (terbentuk pada pertengahan bulan Agustus 2018), keberadaannya mendapat respons yang positif dari warga Madura, terutama di Sumenep sebagai pusat kegiatan Damar Ate selama ini. Terbukti dengan meningkatnya jamaah yang hadir pada setiap kegiatan maiyah Damar Ate beberapa bulan terakhir. Tidak hanya warga Sumenep sendiri, bahkan turut bergabung taretan-taretan dari tiga kabupaten lain di Madura, yaitu Pamekasan, Sampang dan Bangkalan. Tidak hanya hadir sebagai jamaah pada kegiatan Maiyah, beberapa juga malah menawarkan diri untuk untuk bergabung sebagai penggiat dan bersedia membantu dalam menyelenggarakan kegiatan Maiyah.

Biasanya Maiyahan di Damar Ate terpusat di halaman terbuka Langgar Asta KH. Abi Sudjak, salah satu tokoh pendiri NU di Sumenep yang terletak di Dusun Banasokon, Desa Kebonagung, Kecamatan Kota Sumenep. Namun selain karena alasan mencari tempat teduh dari hujan mengingat masa-masa sekarang adalah musim hujan, beberapa penggiat dan jamaah meminta kegiatan Maiyahan dilaksanakan di rumah atau di lembaga mereka. Maka diputuskan untuk Maiyahan ke-4 dan ke-5 kali ini dilaksanakan di basecamp salah satu penggiat Damar Ate yang sekaligus koordinator suporter bola yakni di Rumah Besar Suporter (RBS) Sumenep.

Maiyah Damar Ate edisi kali ini mengangkat tema “Gila Bola Gila”. Tema tersebut membahas seputar dinamika dunia sepak bola Indonesia dan kehidupan dunia suporter serta kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Maiyahan berlangsung guyub dan khidmat dengan dihadiri oleh jamaah Maiyah, penggiat Damar Ate, serta beberapa elemen suporter seperti Bonek, Viking dan K-Conk Mania. Maiyahan berlangsung diawali dengan pembacaan Al-Fatihah (tawasulan) dipimpin oleh salah satu penggiat Damar Ate mas Ali Mantaka dilanjutkan dengan senandung shalawat yang dipandu oleh koordinator Maiyah Damar Ate mas Khalil Tirta sebagai bentuk rasa cinta kepada baginda Nabi Besar Muhammad Saw.

Seusai gema senandung sholawat Nabi, mas Ochez Sumantri memulai memandu acara diskusi yang umum dikenal oleh jamah Maiyah sebagai Sinau Bareng. Mas Ochez adalah juga merupakan salah satu penggiat Damar Ate yang mantan pemain sepak bola di klub Assyabab Sumenep (1992-1993) dan Assyabab Surabaya (1994-1995) saat beliau remaja dulu. Pengalamannya dalam dunia sepak bola tentu menyalakan kehangatan forum sinau malam itu. Dengan didampingi beberapa perwakilan suporter antara lain Holi mewakili bonek Surabaya Utara, Andi Accen dari suporter K-Conk Sumenep dan Ipang dari mabes K-Conk Mania.

Opening statement disampaikan Holi. Menurutnya sepak bola dan suporter merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan. “Bola tak akan bermakna jika tak ada suporter, ‘football without fans is nothing’. Meski demikan, faktanya sepak bola nasional bukan tanpa masalah. Hari ini kebanyakan klub dan suporter seperti air dan minyak, di mana klub tidak banyak peduli terhadap suporternya di tengah kegilaan dan kecintaan para suporter terhadap klubnya”. Papar Holi.

Senada dengan Holi dari Bonek, Andi Accen perwakilan dari suporter K-Conk Mania bercerita tentang perjalanannya mendukung tim kebanggaannya. Dengan menempuh jalur estafet ke berbagai daerah yang ada di Indonesia, merupakan salah satu bentuk kecintaanya terhadap klub. “Kami telah melakukan perjalanan estafet ke berbagai daerah. Bermodal doa ibu, kami gandolan. Lapar dan kehujanan menjadi cerita manis perjuangan kami, meski terkadang apa yg kami lakukan dianggap tidak bermakna apa-apa oleh sebagian orang,” ucapnya.

Sementara Ipang perwakilan mabes K-Conk menyatakan, “Dunia sepak bola kita begitu miris, di tengah kecintaan suporter terhadap sepak bola, justru sepak bola telah tercederai dengan maraknya mafia bola, sehingga pertandingan sepak bola nasional menjadi tidak menarik. Praktik-praktik pengaturan skor dan kebobrokan lainnya menjadi bukti ironisnya dunia sepak bola nasional”.

Di tengah tumpahan kegelisahan demi kegelisahan para perwakilan suporter yang sesekali membuat suasana cukup emosional, mas Fajar Hidayat, mas Agus Salim Faradilla, mas Ramsi serta teman-teman dari Music Lovers Community Sumenep (MLCS) mencoba membangun suasana untuk kembali teduh dan hangat dengan menyanyikan beberapa tembang lagu. Salah satunya tembang ‘Sugih Tanpo Bondo’ yang dipopulerkan presiden jancukers Sujiwo Tejo. MLCS sendiri merupakan satu organisasi bagi pecinta musik di Kabupaten Sumenep yang sejak terbentuknya juga banyak turut andil dalam kegiatan Maiyah Damar Ate.

Sesi berikutnya mas Ochez Sumantri sebagai pemandu jalannya sinau memberikan waktu kepada jamaah yang hadir untuk mengajukan pertanyaan atau memberi tanggapan. Yang cukup menarik adalah pertanyaan dari Ferli, salah satu suporter K-Conk Sumenep sekaligus penggiat Damar Ate. Mengawali pembicaraannya, Ferli mengungkapkan bahwa tema ‘Gila Bola Gila’ sejak awal sudah menjebaknya terhadap kegilaan berpikir sebab itu dia mencoba mengajukan pertanyaan untuk mengukur seberapa rasional kegilaan itu sendiri. “Di tengah kegilaan para suporter dalam mendukung tim kebanggaannya sering kali dimanfaatkan oleh sebagaian oknum, baik itu manajemen, panitia pelaksana pertandingan atau bahkan sekelas PSSI sekalipun. Jika kondisinya demikian, apakah tidak mungkin kegilaan itu pada akhirnya menjadi sebuah kedunguan? Yang kedua, di tengah uforia kecintaan suporter terhadap sepak bola, tak jarang para suporter melakukan hal-hal positif seperti penggalangan dana dan hal postif lainnya. Akan tetapi sering kali merekapun masih mendapatkan penilaian bahkan perlakuan buruk dari masyarakat, semisal beberapa waktu lalu salah satu teman saya diusir satpol PP saat penggalangan dana bagi korban bencana hanya karena berambut pirang, bertato dan sebagainya. Mungkin beberapa pelaku tindak kenakalan atau bahkan kejahatan kerap berpenampilan demikian, tapi kan tidak bisa lantas digeneralisir dari bentuk penampilan fisik saja. Nah, bagaimana cara kita menyampaikan dan mengedukasi masyarakat bahwa suporter itu tidak seburuk yang mereka nilai selama ini bahwa suporter itu identik dengan nakal, urakan bahkan jahat?”.

Merespons pertanyaan dari Ferli, Holi salah satu pembicara dari Bonek menyampaikan bahwa tugas terberat suporter adalah bagaimana menjadikan dunia sepak bola sehat, bebas dari para mafia. Kegilaan dan kecintaan itu pada akhirnya harus berwujud menjadi satu garis perjuangan. Menyambung pendapat Holi, Andi Accen perwakilan K-Conk Sumenep menyatakan, “Seburuk apapun stigma masyarakat terhadap kami para suporter, kami sama sekali tidak keberatan, sebab ngaji dan shalat pun Tuhanlah Yang Maha Tahu. Tugas kami hanya melakukan kebaikan dan perbaikan dan meneruskannya,” imbuhnya.

Kehangatan suasana Maiyah semakin terasa, tukar pandangan dan pendapat menjadi wajah lain dari kenikmatan yang diberikan Tuhan malam itu. Mas Subed salah seorang budayawan Sumenep menyampaikan apresiasinya. Beliau menyatakan bahwa sepak bola adalah seperti kehidupan, kadangkala terlihat sangat lucu dan konyol. “Anda bayangkan 22 orang berebut bola untuk saling menciptakan gol padahal sebenarnya mereka bisa memiliki bola sendiri-sendiri,” imbuhnya berkelakar.

Mas Halil Tirta yang sedari tadi menikmati jalannya Sinau Bareng akhirnya juga angkat bicara. Ia menyatakan bahwa suporter itu adalah manusia luar biasa. “Seandainya saja kecintaan dan kegilaan itu digunakan menuju Tuhan dan Rasul-Nya, betapa dahsyatnya. Mereka bisa berhari-hari lapar di jalanan dan salah satu kisahnya tadi bahkan sampai minun air toilet, ini sungguh luar biasa dan bangsa ini harus tahu bahwa di tengah mereka hidup sekelompok masyarakat yang bernama suporter bola dan jangan lupa bahwa mereka adalah juga aset bangsa.”

Meski suasana sinau semakin larut justeru semakin hangat, mas Ochez memutuskan untuk menyudahi jalannya diskusi menjelang pukul 12 malam, sebab keesokan harinya kawan-kawan dari K-Conk Mania Sumenep masih harus mengikuti rangkaian acara 1st Anniversary sejak pagi hingga sore hari. Di akhir kegiatan Maiyah, mas Agus Salim Faradilla, mas Fajar Hidayat dan kawan-kawan dari MLCS kembali menghibur jamaah segaligus sebagai hadiah ulang tahun bagi K-Conk Mania Sumenep dengan membawakan tembang rock ala Jamrud, ‘Selamat Ulang Tahun’. Tak ayal semua jamaah kemudian berdiri melompat-lompat sembari tepuk tangan. Bahkan beberapa kawan K-Conk Mania menyalakan kembang asap warna-warni. Suasana seketika menjadi meriah dan semua bergembira.

Selamat ulang tahun K-Conk Mania Sumenep. Tetaplah solid sebagai pendukung tim sepak bola Madura dan teruslah berkarya bagi negeri sebab kalian juga asset bangsa Indonesia. Salam Séttong Dârâ Madura! (Tim Liputan Damar Ate)