Kata Hati dan Respons Rasa

Malam penuh kejernihan kata dan kalimat. Demikian saya memberanikan diri untuk bertadabbur atas Sastra Liman semalam.

Namanya juga penghayatan dan pembambilan hikmah, maka apa yang saya tulis berikut ini adalah subjektif saya, yang pasti hanyalah sekeping dari taman besar peristiwa indah di Rumah Maiyah Kadipiro, 5 November 2019.

Sedari awal membaca broadcast yang dikirim via WA oleh Kang Helmi Mustofa, saya sudah bersiap nyuwung, mengosongkan diri. Dengan harapan, apapun yang terjadi dan mungkin akan saya “kawruhi” malam nanti adalah penguat kegelisahan saya. Beberapa hari sebelum hari H, saya sempat menulis kegelisahan berjudul “selektif pada kata, berdaulat pada makna, maka tepat dalam perjuangan.”

Saya kirimkan juga tulisan tesebut ke Guru-Guru menulis saya. Banyak. Dan respons Beliau-Beliau di luar perkiraan saya.

Tapi lain waktu saja kita bicarakan itu, kalau memang ada kelonggaran waktu dan ketersambungan kesempatan. Whuzz, kembali pada tadabbur saya pada Sastra Liman tadi malam.

Mohon perkenan, karena kita sudah sama-sama saling membuka ruang berpikir dan berpendapat di kolom ini, semoga bekal kita sama, keterbukaan pada kemungkinan. 

Kita tahu, determinasi tulisan mewarnai mata dan pemandangan kita sehari-hari. Ada tulisan yang jernih, ada pula yang keruh. Jernih oleh sebab ditulis guna penjernihan, dan keruh oleh sebab ditulis untuk memperkeruh. Dua tulisan yang motivasi dan orientasinya sangat berbeda, sangat bertolak-belakang, bahkan “berlawanan”.

Tulisan tetaplah tulisan, objek, ia ditulis oleh seseorang/individu atau subjek. Subjek ini-lah yang menentukan jernih atau keruhnya tulisan. Tampaknya sepele/tidak penting, tetapi jika kita membaca tulisan yang keruh karena egoisme penulis, apalagi itu (misalnya) terhubung dengan agenda besar pemberangusan nilai atau kejernihan nilai-nilai hidup dan berkehidupan, maka anak-cucu kita adalah pewaris kekeruhan yang diciptakan tersebut.

Anggap saja ini tawaran bekal kewaspadaan kita bersama, atau prinsip kehati-hatian yang mungkin tidak penting dipikirkan. Toh senyatanya setiap zaman melahirkan pembalak hutan rimba dan penanam pohon-pohon nilai. Toh peristiwa-peristiwa tersebut memancing kita untuk mengambil pelajaran atau hikmah.

Tantangannya barangkali adalah tinggal bagaimana kita ini mau belajar dari para luhur pendahulu, kemudian mengambil peran penerus estafet kejernihan atau serupa “hidup segan mati tak mau”, abai pada nilai-nilai hidup bersama dan sukarela tanpa kewaspadaan menjadi legitimator tulisan-tulisan keruh.

Lalu bagaimana mengenali tulisan-tulisan keruh? Ada ketajaman intuitif di setiap diri kita sebetulnya, meski berbeda-beda, tetapi reaksinya tetap sama, sebuah penolakan seketika dari kata hati dan respons rasa, otomatis. Ada baiknya juga kita belajar kepada tetes air yang melubangi batu. Air yang sifatnya air, batu yang sifatnya batu, dan konsistensi tetesan air pada batu yang menyebabkan batunya berlubang atau bahkan “pecah” pada kasus-kasus tertentu.

Yogyakarta, 6 November 2019

Buku Cak Nun Majalah Sabana