Karena Setiap Detik Adalah Karunia

Umah Wisanggeni malam ini tidak seperti biasanya. Sudah sedari pagi hari sampai malam hari ini semua orang sibuk menyiapkan diri menyambut para jamaah yang akan datang ke Umah Wisanggeni ini. Suasana hettick tergambar jelas di wajah-wajah panitia dan orang-orang di WG, dari mulai kopi sampai tempat parkir. Acara memang dimulai pukul 20.30 tapi sudah sedari maghrib para jamaah Maiyah telah hadir berduyun-duyun duduk menempati tempat-tempat yang ditempati.

Tentang yang sedang berlangsung ini Pak Komang Mertajiwa berkata, “Pluralitas harga mati. Kemajemukan bukan hanya teori, melainkan sebuah praktek hidup yg dijalankan.”

Lagu demi lagu dari Janardhana satu persatu dilantunkan dengan apik meramaikam malam di Umah Wisanggeni. Pak Mamet selaku wakil dari Masuisani memberikan sambutan, menyampaikan bahwa acara Maiyah ini diadakan karena rasa syukur atas setiap karunia yang telah diberikan, yang tercurah dalam satu tema Masuisani kali ini. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Mukadimah oleh Saudari Intan Widya.

Semakin malam jumlah jamaah semakin bertambah memadati halaman Umah Wisanggeni, melingkar bersama mensyukuri setiap “Detik Karunia”.

Dan, ini malam, di Masuisani Bali, Mbah Nun dan anak-cucu Jamaah Maiyah hendak menghaturkan Ijazah Maiyah kepada Mahaguru Mbah Umbu Landu Paranggi. Setali dengan Buku Metiyem dari murid-murid beliau dihaturkan pula. KiaiKanjeng yang dua hari lalu telah melangkahkan kaki Sinau Bareng di Trowulan dan Jember, malam ini turut bahagia menggembirakan dan menjadi saksi.

Buku Cak Nun