Kalender Jowo Digowo, Kalender Arab Digarap, Kalender Barat Diruwat

Kalender Jowo Digowo

Kalender Jawa hasil garapan sinau bareng para wali dan leluhur Jawa ini menghasilkan keteraturan luar biasa yang membuatnya mudah dirumuskan dan ditemukan pola-pola untuk membuat hafalannya. Berdasarkan rumusan hari awal tahun, kemudian didapatkan juga rumusan untuk hari-hari awal bulan pada masing-masing tahun dalam siklus windu.

Rumus Hafalan Awal Bulan Kalender Jawa Abadi

Contoh: mencari hari awal bulan Pasa/Romadon tahun 1952 Jawa (1440 Hijri, 2019 Masehi). Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Tahun 1952 Jawa termasuk tahun Be, Kurup Asapon (Alip Selasa Pon).
  2. Rumus awal bulan Romadon tahun Be adalah “don tu pat” (Romadon 7 4). Angka depan (7) = hari dan angka belakang (4) = pasaran, dihitung dari hari awal kurup (Selasa Pon).
  3. Dihitung dari Selasa, artinya: 1. Selasa, 2. Rebo, 3. Kemis, 4. Jemah, 5. Sebtu, 6. Akad, 7. Senin. Hari ke-7 berarti bertepatan dengan hari Senin.
  4. Dihitung dari Pon, artinya: 1. Pon, 2. Wage, 3. Kliwon, 4. Legi, 5. Pahing. Pasaran ke-4 dihitung dari Pon bertepatan dengan pasaran Legi.
  5. Jadi, 1 Pasa 1952 Jawa bertepatan dengan hari dan pasaran Senin Legi (6 Mei 2019).
  6. Awal bulan Pasa = Senin Legi ini akan terus terulang setiap tahun Be selama Kurup Alip Selasa Pon (A-Sa-Pon).

Satu contoh lagi, mencari hari awal bulan Sawal tahun 1993 Jawa (1481 Hijri, 2059 Masehi). Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Tahun 1993 Jawa termasuk tahun Wawu, Kurup Anenhing (Alip Senin Pahing).
  2. Rumus awal bulan Sawal tahun Wawu adalah “wal nem lu” (Sawal 6 3). Angka depan (6) = hari dan angka belakang (3) = pasaran, dihitung dari hari awal kurup (Senin Pahing).
  3. Dihitung dari Senin, artinya: 1. Senin, 2. Selasa, 3. Rebo, 4. Kemis, 5. Jemah, 6. Sebtu, 7. Akad. Hari ke-6 bertepatan dengan Sebtu.
  4. Dihitung dari Pahing, artinya: 1. Pahing, 2. Pon, 3. Wage, 4. Kliwon, 5. Legi. Pasaran ke-3 bertepatan dengan Wage.
  5. Jadi, 1 Sawal 1993 Jawa bertepatan dengan Sebtu Wage (15 Maret 2059).
  6. Awal bulan Sawal = Sebtu Wage ini akan terus terulang setiap tahun Wawu selama Kurup Alip Senen Pahing (A-Nen-Hing).

Catatan: kalender Jawa dan kalender Hijri adalah kalender aritmatis-matematis, yang digunakan sebagai catatan administratif sehari-hari dan dimaksudkan sebagai ancang-ancang melakukan ru’yah hilal (cresent observation) secara langsung apabila cuaca mendukung. Hasil perhitungan kalender matematis lebih sering sama dengan hasil hisab-ru’yah, tetapi kadang lebih cepat atau lebih lambat sehari. Apabila cuaca tidak mendukung ru’yah, dan tidak ada tempat bertanya, barulah kalender matematis bisa berfungsi sebagai kalender ibadah. Untuk dua contoh di atas, 1 Pasa 1952 Jawa dan 1 Sawal 1993 Jawa hasilnya sama dengan hasil hisab.

Dengan berpedoman pada tabel di atas anak cucu dipersilakan membikin lagu-lagu untuk menghafalkan. Hanya butuh 8 lagu saja, masing-masing 3 bait, anak cucu Nusantara sudah membawa kalender abadi di kepalanya. Silakan berkreasi menggunakan singkatan nama bulan yang enak di lidahmu. Bisa Rabi’ul Awal, Robingulawal, Mulud, atau Maulud. Bisa Dulkodah, Dzulqo’dah, atau Selo. Bisa Ramadhan, Ramelan, Romadon, Romandon, atau Poso. Silakan ganti kode-kode angka dengan jumlah benda atau apapun asal sesuai dengan rumus dalam tabel di atas dan dapat dimengerti oleh orang lain.

Kalau hanya mencari hari awal bulan adalah perkara mudah. Bermacam rumus matematis kalender Jawa sudah ada dalam bentuk tembang-tembang, seperti yang tersebar dalam Serat Centhini di beberapa pupuh, yaitu pupuh 182 (Pangkur), pupuh 183 (Wirangrong), pupuh 372 (Pocung), pupuh 373 (Lonthang), pupuh 374 (Maskumambang), dan lain-lain. Siapa lagi kalau bukan leluhur Nusantara? Rumus-rumus matematis dikemas dalam bentuk sederhana dan menyenangkan melalui lagu-lagu dan nyanyian.

Periode Kurup Kalender Jawa Sejak Jaman Wali Songo

Dengan terhafal dalam bentuk nyanyian, kalender Jawa akan terbawa kemana saja pergi, dan masih memiliki tingkat akurasi tinggi sampai 994 tahun lagi. Setelah itu baru ada koreksi +1 hari sebelum Ambal Kurup Alip Senen Kliwon, 1 Sura 2947 Jawa (26 Januari 2984 Masehi). Semoga saat Ambal Kurup ini terjadi bumi masih layak huni.[]

Buku Cak Nun Majalah Sabana