Kalender Jowo Digowo, Kalender Arab Digarap, Kalender Barat Diruwat

“Het bestaan van een kalender bij een volk bewjst een zekeregraad van beschaving, en de nauwkeurigheid van die kalender is een maatstaf voor intellectuele ontwikeling”

(Keberadaan kalender pada suatu masyarakat menjadi satu bukti untuk mengukur derajat peradabannya, dan tingkat ketelitian kalendernya menunjukkan ukuran kecerdasannya)

Ensiklopedia Winkler Prins

Ungkapan “Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat” tidak hanya berlaku di bidang sosial budaya, tetapi juga di bidang eksakta, misalnya dalam hal perhitungan matematis kalender. Bukti dari unen-unen tersebut juga dapat kita lihat pada perhitungan matematis pada ketiga kalender yang telah kita kenal, yaitu kalender Jawa, kalender Hijri dari Arab, dan kalender Masehi dari Barat.

Kalender Masehi dari Barat memang pernah diruwat, dikoreksi besar-besaran, sampai timbul gelombang protes para pekerja dan gereja-gereja non-Katolik di Eropa, tidak serta merta diterima dan berlaku di semua negara. Begitu pula ketika para leluhur Wali Songo membawa kalender Hijri ke Jawa juga tidak lantas digunakan begitu saja, tetapi digarap terlebih dahulu untuk disederhanakan dari siklus 30 windu tahunan menjadi windu 8 tahunan saja. Hasilnya menjadi kalender Jawa yang simpel tetapi berakurasi tinggi dan kari nggowo karena mudah dihafalkan, tinggal bawa saja dalam bentuk hafalan nyanyian.

Kalender Barat Diruwat

Kalender Masehi dari Barat yang kita gunakan saat ini adalah kalender matahari yang berlaku sejak hari Jumat, 15 Oktober 1582 M. Karena diresmikan oleh Paus Gregorius XIII, kemudian kalender ini dikenal dengan sebutan Kalender Gregorian. Sebelum kalender ini diberlakukan, yang digunakan oleh mayoritas masyarakat di Eropa adalah Kalender Julian, yaitu sistem kalender yang diresmikan oleh Julius Caesar sejak 1 Januari 45 SM.

Dalam kalender Julian, setiap 4 tahun sekali ada 1 tahun kabisat (Leap Year). Tahun-tahun yang habis dibagi 4 berusia 366 hari, yang ditandai adanya tanggal 29 di bulan Februari. Selain tahun kabisat, usia bulan Februari adalah 28 hari. Jadi, dalam waktu 400 tahun ada 100 tahun kabisat.

1 Tahun Julian = ((365×300)+(366×100))/400 = 146.100/400 = 365,25 hari

Tetapi, berdasarkan pengamatan ratusan tahun pasca Konsili Nicea I tahun 325, ditemukan fakta bahwa awal musim semi (21 Maret, sebagai patokan menghitung hari raya Paskah) semakin bergeser maju pada kalender Julian. Satu per satu usulan koreksi kalender pun muncul. Dirintis oleh Roger Bacon pada tahun 1200-an dalam Opus Majus-nya bagian IV, yang saat itu awal musim semi sudah bergeser maju 7-8 hari. Roger Bacon melanjutkan karya Robert Grosseteste yang terinspirasi dari ilmu astronomi Yunani dan abad pertengahan Islam. Tetapi tidak ada tindak lanjut sampai Paus Clement IV wafat tahun 1268. Dante Alighieri juga menyadari adanya pergeseran itu pada tahun 1300-an. Paus Sixtus IV pada tahun 1475 mengundang Regiomontanus ke Vatikan untuk mempelajari lebih lanjut terkait pergeseran awal musim semi. Tetapi Regiomontanus meninggal setibanya di Vatikan.

Usulan-usulan koreksi kalender terus dikirim ke Vatikan oleh para astronom, salah satunya dari Universitas Salamanca pada tahun 1515. Usulan lain juga muncul di Konsili Trente I tahun 1545, ketika Gereja Katolik Roma dipimpin oleh Paus Paulus III. Pada tahun 1560, Petrus Pitatus dari Verona sudah mengusulkan agar dalam 400 tahun hanya ada 97 tahun kabisat. Pada tahun 1575, Antonio Lilio membawa usulan koreksi kalender yang disusun oleh saudaranya, Aloysius Lilius, kepada Paus Gregorius XIII. Setelah Aloysius Lilius wafat tahun 1576, hasil penelitiannya dijabarkan oleh Christopher Clavius sampai 800 halaman, dan menjadi dasar koreksi kalender.

Buku Cak Nun