Jawa Timur Harus Berani Memulai Paradigma Baru

Liputan Sinau Bareng Milad Ke-5 Ponpes Segoro Agung Trowulan Mojokerto, 21 Februari 2019, Bag. 1

“Kalau Anda membangun Jawa Timur dengan skala Jawa Timur, maka Anda akan tetap kerdil sampai kapanpun. Jawa Timur harus berpikir dengan sakala Indonesia dan dunia. Anda harus tahu bahwa medannya adalah globalisasi, dan Jawa Timur sebenarnya memiliki semua modal untuk menjadikan Indonesia sebagai “super power” di masa mendatang. Kalau Anda membangun Jatim atau Indonesia tetapi paradigmanya masih Yunani Kuno hingga Renaissance dan Globalisasi yang sekarang, maka Anda akan tetap menjadi ekor dari globalisasi itu. Anda tetap tidak akan mampu membangun paradigma baru yang dengan paradigma baru itu mau tak mau nanti dunia akan ikut Anda.”

Semalam, Mbah Nun dan KiaiKanjeng ber-Sinau Bareng memenuhi undangan keluarga besar Ponpes Segoro Agung Trowulan Mojokerto yang tengah memeringati Miladnya yang ke-5. Acara berlangsung dalam penuh rasa kedekatan dan keakraban antar hati pada diri semua jamaah dengan Mbah Nun, dan sebagaimana biasa Mbah Nun membangun persambungan yang tulus, murni, dan enak secara kultural.

Tidak hanya para pimpinan Ponpes yang diajak naik ke panggung, namun juga para perwakilan pemerintahan baik tingkat provinsi maupun kabupaten. Hadir pula Bapak dari BKKBN dan Dokter Supriyanto direktur RSUD dr. Iskak Tulungagung. Semua beliau-beliau yang hadir tersebut mendapatkan jatah waktu buat berbicara, menyampaikan sesuatu yang Mbah Nun memberinya bingkai yaitu apa yang perlu dibenahi agar kita bisa bangkit. Bahkan di tengah berlangsung paparan itu, Wagub Jatim Emil, yang belum lama ini dilantik bersama Gubernur Khofifah Indar Parawansa, turut hadir.

Meskipun niatnya adalah ikut Sinau Bareng kepada Mbah Nun dan kepada semua yang berbicara malam tadi, tetapi Mas Emil Dardak tetap diminta Mbah Nun untuk kasih pidato. Di depan rakyat dan masyarakat Jawa Timur yang hadir memenuhi lapangan kompleks Ponpes Segoro Agung, Mas Emil menyampaikan beberapa hal berkaitan dengan prinsip pembangunan di Jawa Timur. Apa yang hendak dicapai adalah tiga kemuliaan. Pertama, kemuliaan di mata rakyat. Kedua, kemuliaan di mata dunia. Dan ketiga, kemuliaan di mata Allah. Kemuliaan di mata rakyat dicapai manakala masyarakat mendapatkan kesejahteraan dari adanya pemerintah serta dengan itu mereka memperoleh sarana dan prasana menuju kebahagiaan.

Sementara itu, kemuliaan yang kedua didasari fakta bahwa Jawa Timur adalah lokomotif ekonomi Indonesia. Seperenam ekonomi Indonesia berada di Jawa Timur dengan besaran dua ribu triliun rupiah. Ada tantangan global–apakah revolusi industri 4.0, kecerdasan buatan (AI), persaiangan negata-negara Cina dan Asia Selatan untuk merebut posisi di tengah persaingan peradaban Amerika dan Cina, dan, menurut Mas Emil, Indonesia tak bisa menunggu solusi dari negara lain, tetapi sebaliknya harus menginisiasi dan memelopori solusi sendiri untuk Indonesia. Dan kemuliaan ketiga berarti bahwa apalah arti dua kemuliaan tadi jika kita tidak mendapatkan kemuliaan di depan Allah Swt. “Itulah sebabnya saya ikut Sinau Bareng ini. Yang tadi disampaikan Cak Nun: jangan berhenti belajar; akan benar-benar saya camkan,” kata Mas Emil sebelum mengakhiri pidatonya.

Menyimak pidato Wagub Emil yang masih sangat muda, dan merasa bahwa Mas Emil cukup mengerti persoalan, Mbah Nun yang semula membatasi untuk tidak banyak merambah ke wilayah berskala besar, akhirnya menyambung dan memberikan beberapa perspektif mendasar sebagaimana telah tertuang di paragraf pertama di atas. Lalu, apa paradigma baru yang dimaksud Mbah Nun? Ialah melihat kebesaran menurut cara pandang sendiri. Kebesaran tidak terletak pada bangunan-bangunan besar, sebab ada beda mendasar. Kita tidak membangun materialisme, tetapi kita membangun kepribadian manusia. Ini tidak berarti sekolah dan gedung-gedung tidak penting. Penting. Tetapi, bukan yang nomor satu. “Bu Khofifah dan Mas Emil sebaiknya berani mencicipi paradigma baru ini,” pesan Mbah Nun. Dengan kata lain, Mbah Nun mengajak Jawa Timur untuk menjadi dirinya sendiri.

Kehadiran Mas Emil, yang sangat tawadlu kepada Mbah Nun, adalah salah satu bagian dari keakraban tapi juga ilmu di dalam Sinau Bareng tadi malam. Tidak hanya menyampaikan pidato tadi, Mas Emil juga ditodong untuk bernyanyi, berkolaborasi dengan Ibu Novia Kolopaking dalam lagu Sebelum Cahaya-nya Letto. Habis itu, diminta satu lagu lagi tapi sendirian. Suaranya lumayan bagus. Usai ini, Mbah Nun langsung mengajak jamaah membaca istighfar tiga kali. “Kenapa saya ajak baca istighfar, karena tadi pas mas Emil ada yang nggrundel: wis ganteng, wakil gubernur, pinter nyanyi pisan,” kelakar Mbah Nun kepada para hadirin.

Oh ya tentang Letto, Mbah Nun juga kabarkan kepada jamaah bahwa saat ini Letto sedang berperjalanan di bumi Mandar Sulawesi Barat untuk acara Musik Edukasi serta silaturahmi dengan Bunda Cammana dan hadir di Majelis Papparandang Ate. Sementara itu, Mbah Nun dan KiaiKanjeng sendiri usai dari Mojokerto, segera bertolak menuju Kalimantan untuk acara Sinau Bareng yang digelar Polres Bulungan Kaltara pada 23 Februari 2019. Sementara yang lain lagi, para pemain Teater Perdikan masih terus berlatih dan bersiap untuk pementasan kedua Sengkuni2019 di Surabaya pada 7-8 Maret 2019 di Gedung Balai Budaya Komplek Balai Pemuda Surabaya. (Helmi Mustofa)

Buku Cak Nun