Jam’iyah Pengusaha Sorga

Kongsi Bisnis

Sangat perlu diteguhkan keyakinan dan perjuangan untuk memastikan bahwa penduduk Maiyah tidak mengalami kesulitan rizki dan penghidupan, terutama kalau itu disebabkan oleh kekeliruannya sendiri di dalam memilih usahanya dan memperjuangan pekerjaannya. Tidak tepat dalam memilih tempatnya dan menentukan batas fungsinya. Setiap manusia adalah Pengusaha, dan orang Maiyah adalah Jam’iyah Pengusaha Sorga (JPS). Jadi saya merekomendasikan ayat-ayat Al-Qur`an (106: 3, 4); (61: 10, 13); (2: 218, 254); (8: 74), untuk pintu masuk ke dalam pembenahan urusan itu. Allah menciptakan manusia dan menawarkan kongsi bisnis kepadanya.

Jihad Sejak di Rahim Ibunda 

Bayi berusaha berhijrah dari rahim Ibunya untuk berjihad di dunia. Ketika kelak ia berusaha dengan menggunakan akalnya, ia adalah Pengusaha. Kemudian muncul pilah, skala, gradasi dan hulu hilir keusahaan. Apa dan di mana ujung pencapaian usaha? Kriterianya ditentukan oleh siapa? Kalau untung, untung menurut siapa. Kalau rugi, apa ukurannya. Allah sangat banyak memaparkan pemahaman tentang al-faizun dan al-khosirun di dalam firman-Nya.

Pengusaha Sorga

Setiap diri dan keluarganya adalah Pengusaha Kebahagiaan Sorga, tanpa mubadzir memperdebatkan ketidak-tahuan tentang beda antara dunia ini dengan akhirat, antara Bumi ini dengan Sorga. Maiyah adalah Jam’iyah Pengusaha Sorga (JPS) dengan dunia sebagai tempat workshop, outbond, pelatihan dan uji coba. 

Setiap diri, setiap Keluarga, per-bagian dan atau semua JPS berusaha, berniaga, berdagang di dunia dengan tujuan dilimpahi rahmat, yang menurut Allah berupa Sorga. Tentu bukan Sorga itu sendiri tujuan kehidupan JPS, melainkan Sorga sebagai perwujudan dari rahmat Allah swt, sebagai bentuk tawaran perdagangan Allah dengan manusia.

Empat Perspektif Perusahaan

Berdasarkan jenis kecenderungannya, manusia melakukan sejumlah opsi di antara Tijaroh Jannatiyah (perdagangan dengan Allah Swt dengan tawaran sorga) dan Tijaroh Ardliyah (perdagangan bumi dengan perolehan harta dunia).

Ada yang berdagang dengan dunia dalam perdagangan dengan (tujuan) Allah.

Ada juga yang berdagang dengan Allah tanpa perdagangan dengan dunia.

Lainnya berdagang dengan dunia tanpa perdagangan dengan Allah (dengan tujuan dunia).

Hari ini dunia semakin dipenuhi oleh mereka yang memperdagangkan Allah (Agama) dalam perdagangan dengan (tujuan dunia).

Yang mana Maiyah?

Hakikat Modal dan Penghasilan

Allah adalah Maha Pengusaha Agung. Ia menciptakan makhluk-makhluk dalam posisi sebagai pemilik saham absolut. Kemudian ia meminjamkan sebagian milik-Nya kepada makhluk, dan menawarkan perdagangan dengan mereka. Allah menjual sorga, dan makhluk ditawari untuk membelinya, dengan biaya yang Ia sendiri yang meminjami mereka.

Stempel Sertifikasi Syafaat

Karena semua isi dunia dan maksimalitas jihad manusia hanyalah setetes dari air samudera, maka faktanya manusia mustahil menghimpun biaya untuk membeli sorga. Maka Allah mempermudah kemungkinan pencapaian manusia dengan menawarkan tradisi shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad Saw, dengan itu manusia mendapatkan stempel sertifikasi syafaat dan memperoleh sorga dengan sangat mudah, diukur dari kemiskinan manusia.

Aturan Main Allah

Di abad 21 ini kebanyakan makhluk di bumi lupa bahwa seluruh kehidupan ini milik-Nya, sehingga segala urusan keusahaan dan perdagangan dalam kehidupan Tuhan-lah yang berhak mutlak menentukan aturan dan kriterianya. Terutama ummat manusia, mereka sedang memiliki masalah sangat serius dan besar dengan Tuhan. Untunglah di dalam mekanisme transaksi dunia dan sorga, Allah mengutamakan policy Rahman Rahim dan Shobur Halim.

Bonus Kesejahteraan Dunia

Jihad artinya berusaha, tenaga puncaknya adalah berjuang. Berjuang menjalani kehidupan. Bukan kehidupan yang dimaui atau disukai oleh manusia, melainkan kehidupan yang dirancang oleh Allah, yang penuh tawaran kenikmatan dan kebahagiaan.

Pentahapan keusahaan manusia adalah amanu wa hajaru wa jahadu. Beriman, berhijrah, berjuang. Dan karena urutan alat jihadnya adalah bi-amwalikum wa-anfusikum, dengan harta dan dirimu, maka jihad tidak semata-mata bermakna perang melawan sesama manusia. Sebab kalau perang urutannya adalah bi-anfusikum wa-amwalikum: tampil sebagai prajurit, atau hanya menyumbangkan logistik. 

Maka jihad lebih banyak berarti mengusahakan harta benda, memutar uang, mengolah modal, untuk mencapai sorga, dengan bonus kesejahteraan dunia.

Pengelolaan Fadlilah dan Zinah

JPS memproses pendidikan untuk menemukan apa fadlilah Allah kepada dirinya. Apa bakatnya (fadlilah), apa kesukaannya (zinah). Kalau bakatnya adalah juga yang disukainya, syukur. Kalau suka tapi tidak bakat, atau berbakat tapi tidak suka, diperlukan proses manajemen diri untuk tetap menemukan pilihannya. Itulah syariat dasar pendidikan kepada anak-anak di dalam keluarga JPS, karena lembaga-lembaga pendidikan hanya memproses dan memproduksi anak didik untuk menjadi robot industri.

Berlatih untuk Dipercaya dan Percaya

Kalau mengusahakan harta benda, memutar uang, mengolah modal, berdagang dunia, bukanlah fadlilah utamanya dari Allah, maka ada dua kemungkinan. Pertama, titipkan dan percayakan modal kepada yang berbakat, ikhlaskan untuk berbagi hasil. Kedua, bergabunglah kepada yang ber-fadlilah untuk itu. Kalau tidak berkarakter tepat untuk me-manage modal, uang dan harta benda (amwalukum), maka hijrahkan anfusakum kepada yang berfadlilah. Jadilah bagian dari badan keusahaan, menjadi pelaksana, rajin merawat, penegak tanggung jawab, belajar mempercayai, sehingga sekaligus berlatih untuk bisa dipercaya. 

Ahlul Fadlilah

JPS menikmati apa saja yang Allah fadlilahkan kepadanya. Ia berjihad mengerjakan fadlilah itu dengan tekun, istiqamah, sampai menjadi Ahlul Fadlilah, pakar, “mbahureksa” atas fadlilah itu, menggenggam penguasaan atas medan garapnya. 

JPS menikmati fadlilah, tidak karena akan menghasilkan kekayaan dunia, melainkan karena mensyukuri kemurahan Allah. Sebagaimana hakekat manusia hanya sanggup menanam dan merawat namun tidak punya kemampuan untuk menumbuhkan dan membuahkan tanaman–maka JPS tidak eman untuk meneruskan kemurahan Allah melalui berbagi aplikasi fadlilah ke sekitarnya. JPS tidak berlaku eksploitatif materialistik atas dasar fadlilah itu, memanipulasi berbagai kemungkinan di sekitarnya untuk memonopoli hasil fadlilah.

Buah adalah Rahmat, Bukan Pencapaian Menanam

JPS merelakan untuk tidak mengerjakan apa yang bukan fadlilahnya, dengan keyakinan penuh kepada rejeki dari Allah, termasuk prosedur pelimpahannya: “min haitsu la yahtasib”. 

Penghasilan belum tentu sama persis dengan rezeki. Pendapatan uang belum tentu kemurahan Allah atas manusia. Rizki tidak identik dengan pencapaian target manusia, seberapa banyak dan besar pun tumpukannya.

Menanam dan merawat adalah rasa syukur atas fadlilah, buah adalah rahmat Allah, bukan hasil dari perjuangan dan siasat.

Ketepatan Pengelolaan

Setiap JPS berjuang ke dalam dirinya maupun keluar dirinya untuk sampai pada keetepatan pengelolaan atas fadlilah. Punya daya raba atau daya tembus terhadap kemungkinan-kemungkinan di depannya secara ruang maupun waktu. Mengerahkan seluruh potensinya untuk saling melayani dan mengamankan dengan rekanan-rekanan keusahaannya.

Asal-Usul Siksa yang Pedih

Juga membuang sifat Bakhil dan Syuh. Bakhil adalah rasa berat hati untuk memberi, berkorban, merelakan sebagian miliknya untuk dijadikan manfaat di luar keuntungannya. Syahih adalah rasa memiliki atau possessivenes terhadap sesuatu yang belum dimilikinya, namun berada dalam jangkauannya.

Itu memperkecil atau membatasi atau memotong garis-garis kerjasama. Menimbulkan cedera manajemen, ketidak-lancaran putaran harta benda, mental monopoli, naluri selingkuh kepada kanan ketika mengerjakan kiri, serta depan belakang dan semua di sekitarnya. Keseluruhannya itu merupakan sumber pembatasan dan ketersendatan rezeki. Bakhil dan Syuh adalah awal mula kebangkrutan dan asal-usul kebangkrutan atau ‘adzabun alim, siksa yang pedih.

Ketetapan dan Ketepatan

Maka sejak sekarang setiap individu Jamaah Maiyah harus merupakan perusahaan kepribadian sorga, yang memiliki: Ketetapan dan ketepatan hati (Iman). Ketetapan dan ketepatan akal pikiran (ilmu dan pengetahuan). Ketetapan dan ketepatan diri (Syari’at Muqodarot) (yang ditetapkan oleh Allah). Ketetapan dan ketepatan lelaku (Ijtihad Mubadarot) (yang diupayakan oleh manusia). Ketetapan dan ketepatan ta’awun di antara seluruh komponen dirinya. Ketetapan dan ketepatan yang diupayakan terus-menerus untuk memelihara keutuhan, mencapai keseimbangan dan menjaga akurasi Shirathal Mustaqim antara asal-usul dengan tujuan.

Nasib Fi Sabilillah

Arena usaha, perniagaan dan perdagangan sorga JPS adalah “fi sabilillah”, yang Allah menjanjikan kebahagiaan dan keselamatan. “Fi sabilillah” tidak hanya bermakna wilayah, tapi juga jalan, prinsip nilai, moral dan strategi aplikasi. Sabil mengejawantah melalui Syari’ dan Thariq mengarah ke Shirath.

Kalau tidak “fi sabilillah” maka tidak “tunjikum min ‘adzabin alim”.  Adzab yang pedih bisa diartikan tunai sebagai Neraka. Tetapi manusia berlatih mengenali dan merasakan neraka melalui kebangkrutan atau keterpurukan dalam hidupnya di muka bumi.

Allah berhak absolut untuk menurunkan ketentuan nasib baik atau buruk atas manusia. Batas maksimal jihad JPS adalah merayu-rayu Allah terus-menerus agar memperoleh perkenan nasib baik. Dan jika yang dialaminya adalah nasib “buruk”, maka JPS menggali ilmu dan hikmah untuk bermakrifat bahwa sesungguhnya yang terasa buruk itu ternyata adalah nasib baik. Karena JPS menelusuri bulatan dan siklus pola berpikir Allah.

Rekayasa Pemaknaan dan Penguasa Narasi

Kehidupan di muka bumi sedang berlangsung pada level yang paling materialistik, artifisial dan animasial. Spotlight di panggung dunia, menyoroti output dan outcome dari puncak-puncak invensi dan inovasi teknologi pada politik dan kebudayaan.

Kemajuan peradaban hakikinya adalah cuci otak ummat manusia untuk berpendapat bahwa itu kemajuan peradaban. Kalau spotlight menyorot demokrasi, substansi sebenarnya adalah dibukanya pintu lebar-lebar untuk jenis penjajahan baru. Strategi perdamaian dunia adalah tipu daya nilai. Hak Asasi Manusia adalah pelucutan kedaulatan rakyat. Mainstream kebudayaan adalah halusinasi, animasi kebahagiaan, prasangka, khayal, pelembagaan anggapan-anggapan sepihak yang dengan siasat canggih diglobalisasikan.

Kehidupan adalah nilai-nilai, yang tidak tampak. Kehidupan adalah rohani, yang tidak kasat mata. Globalisasi mematerialisasikan semua itu sebagai fakta. Padahal kenyataan yang sebenarnya berada tidak di fakta materi, melainkan tersembunyi di rekayasa-rekayasa pemaknaan (nilai, rohani) yang disihirkan dan dipaksakan atas pemaknaan materi.

Resolusi Terendah

Negeri tempat tinggal JPS adalah kartu domino ke-sekian yang digerakkan oleh domino-domino sebelumnya dan di-remote oleh domino induk, yang digerakkan oleh tangan penjudinya.

Di strata atas dan menengah, para pelengkap penderita domino kesekian itu sedang berputar-putar dalam berbagai benturan dalam perikehidupannya, karena resolusi nilai yang terendah yang direkayasakan untuk berlaku pada mereka.

Para pelengkap penderita itu sedang terkurung dalam kepengapan yang terparah dari kesempitan, kedangkalan dan kecekakan. Mereka selenggarakan Pesta Demokrasi, tapi letaknya di beranda rumah, sementara pintu untuk masuk ke dalam rumah induk yang sebenarnya, kuncinya ketelingsut.

JPS menyelenggarakan Sinau Bareng untuk mencari dan menemukan kunci rumah induk itu. Tidak terseret oleh situasi keseluruhan penghuni rumah itu, menjalani hari-hari dengan terbata-bata dan meraba-raba dengan resolusi terendah dari pandangan hidupnya.

JPS meningkatkan kecanggihan dan ketangguhannya sebagai Pengusaha Sorga dengan tetap mempertahankan niat dan tujuan hidup yang mendasar, memelihara keutuhan, keseimbangan, stabilitas diri, serta akurasi daya tembus ke masa depan.

Menikmati Dunia

Jamaah Maiyah menjaga diri agar tidak kehilangan kemampuan untuk menikmati dunia. Sebab kebahagiaan di dunia adalah bagian awal dari pembelajaran untuk bahagia di Sorga.

JPS menjaga diri agar jangan sampai meremehkan dan membenci dunia. Karena kehidupan dunia adalah bagian paling kasar, elementer, permukaan, artifisial dan awam dari kehidupan sejati Sorga.

Dunia kehidupan di dalamnya adalah karya Allah Swt yang dianugerahkan kepada manusia selama di bumi. JPS tidak menistanya, tapi juga jangan terlalu terpesona atau apalagi diperbudak olehnya.

Dunia Sakinah, Sorga ‘Adn

Karena waktu belum tentu linier dengan alur dulu sekarang hingga kelak, maka kebahagiaan tidak mutlak hanya harus menunggu tibanya manusia di Sorga. Mungkin Sorga mengandung suatu sistem pasca atau di atas level dulu-sekarang-kelak. Ia mungkin dzat, suasana, keadaan, nuansa dan atmosfer yang sebagian manusia mampu mencapainya, melalui keutuhan, keseimbangan dan stabilitas. Mungkin itu yang disebut ‘Adn. Jannatu ‘Adn, pencapaian resolusi tinggi rohani manusia atas sakinah dalam kesejatian dan keabadian.

Mu’tashimin, Munhidlin, Sabbaqin

JPS adalah Mu’tashimin, Munhidlin, Sabbaqin. Mereka berhitung kembali bekal pribadinya, agar manfaat hidupnya untuk keluarga, masyarakat, bangsa, Negara dan ummat manusia lebih efektif, produktif, kreatif, akurat, maksimal dan soleh—dalam keseimbangan dan kebijaksanaan

Kemampuan utama yang harus dikuasai oleh setiap JPS adalah berniaga, berdagang atau berjual beli, dan tidak keliru menempatkan fungsi dunia dan posisi akhirat.

‘Azizun ‘alaihi ma ‘anittum

Kanjeng Nabi ‘azizun ‘alaihi ma ‘anittum. Tidak tega menyaksikan deritamu. Karena ia langsung mengalami apa yang engkau derita. Sebab jiwa beliau ro`ufun rohim, sangat penuh empati dan kasih sayang.

Beliau sedih dan cemas akan ada anak-cucu Maiyah dan keluarganya yang ditimpa ‘adzabun alim di dunia, apalagi di akhirat.

Beliau sedih dan khawatir anak-cucu Maiyah kehilangan kenikmatan di dunia dan atas dunia, karena ditindih dan ditimbun oleh sangat melimpahnya kebusukan dan keburukan di dunia.

Beliau sedih dan khawatir anak cucu Maiyah kehilangan kesanggupan untuk membangun kenikmatan Allah di dunia, karena rendahnya Ilmu Bersyukur.

Beliau sedih dan khawatir anak-cucu Maiyah kehilangan kenikmatan rezeki Allah karena menyangka bahwa pro-aktif memiliki dunia adalah sumber kenikmatan, sehingga kepastian dan kemungkian uang harta benda tidak boleh terlepas dari genggaman tangannya. 

Beliau sedih dan takut kalau akan pernah mendengar berita buruk tentang perilaku anak-cucu Maiyah yang hubungannya dengan uang dan kekuasaan.

Beliau sedih karena khawatir ada anak-cucuku Maiyah yang membeli Sorga tapi mendapatkan Neraka di dunia maupun akhirat karena memilih jalan dan cara berjalan yang ternyata membawanya ke Neraka.

Beliau sedih karena khawatir ada anak-cucuku Maiyah yang tidak tepat terapan nilai Maiyah pada dirinya sehingga menghancurkan hidupnya.

Beliau sedih karena khawatir ada anak-cucuku Maiyah yang sangat fokus mengambil segala kemungkinan untuk mengambil harta dunia, sehingga hartanya berkeberatan untuk berhimpun di tangannya, sedangkan harta akhirat tidak mengenalnya.

Yogya, 5 April 2019
Mbah Nun

Buku Cak Nun