Istiqamah Ber-Maiyah

Situasi sekarang kurang lebih seperti yang diprediksikan oleh Rasulullah SAW dalam beberapa sabda beliau. Zaman yang penuh kepalsuan dan ketidakadilan. Pembohong dan pengkhianat dipuja-puja, orang jujur dan amanah dihina-hina. Yang didengar omongannya adalah kaum “ruwaibidhah” orang-orang lemah akal yang sok tahu bicara urusan orang banyak. Yang berkuasa adalah kaum “hutsalah” orang-orang yang mengingkari janji dan menciderai kepercayaan yang diamanatkan kepada mereka. Umat Islam yang memiliki sumber daya melimpah ruah dikepung oleh bangsa-bangsa yang rakus, seperti sepiring besar makanan yang dikepung dan diperebutkan oleh sekelompok jago makan yang sedang kelaparan. Tidak ada lagi rasa gentar kepada umat Islam, mereka tidak lagi punya wibawa karena sudah dikuasai oleh “wahan” cinta dunia dan takut mati. “Wahan” itu pula yang menyebabkan terpecah belahnya umat Islam sampai ke tingkat perseteruan dan permusuhan. Rasul SAW juga mengingatkan bahaya orang mukmin yang dikuasai oleh wahan terhadap agamanya, melebihi bahaya serigala yang sedang lapar terhadap kambing yang di depannya.

Menghadapi carut marut kehidupan bangsa dan umat seperti sekarang ini teman-teman Maiyah tidak perlu meratap dan bersedih berkepanjangan. Kalau pemikiran sehat dan jernih sudah kita sampaikan dan tidak ada yang mau mendengar. Kalau upaya-upaya pendamaian dan perekatan sudah kita lakukan dan tidak ada yang merespons. Maka, selesailah tugas kita. Ini tidak berarti bahwa kita berhenti mujahadah untuk menemukan kebenaran dan menebar kebaikan. Kegiatan ngaji bareng, majelis ilmu dan silaturahmi, gerakan penyadaran dan pengembangan sumberdaya manusia, penyiapan generasi penerus yang tangguh, terutama di lingkungan internal Ma’iyah harus terus digiatkan dalam berbagai bentuknya.

Inilah bentuk uzlah kita. Seperti dituturkan oleh junjungan nabi kita. “Hendaknya kalian selalu berada dalam jamaah umat Islam bersama Imamnya”. Seorang sahabat bertanya “kalau tidak ada jamaah dan tidak ada Imam?”. Sabda beliau “beruzlahlah kamu, sampai andaikata harus makan bonggol pohon, tetaplah seperti itu sampai kematian menjemputmu”.

Boleh jadi Allah menguzlahkan kita di rumah Maiyah ini sebagaimana pemuda-pemuda Ashhabul Kahfi diuzlahkan di dalam gua. Kita memohon kepada Allah agar meneguhkan tauhid dalam hati kita, sebagaimana Allah meneguhkannya pada hati Ashabul Kahfi. “Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia. Dan jika melakukan yang  demikian itu, sungguh kami telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.

Konsisten menempuh jalan tauhid itulah yang paling mendasar yang harus dilakukan oleh jamaah Maiyah. Di dalam surat Al-Kahfi ada pesan indah dari Allah untuk kita. “Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan keadaannya itu sudah melewati batas”.

Rasulullah SAW juga memberikan petunjuk konkret menghadapi situasi yang dikendalikan oleh para buzzer seperti sekarang ini. Sabda beliau: “Bertindaklah sesuai dengan apa yang kamu ketahui, tinggalkan apa yang kamu tidak setujui. Urusi dirimu, keluargamu, orang-orang dekatmu, pekerjaanmu. Jangan bebani dirimu dengan urusan-urusan besar yang bukan kewajibanmu”.

Menghadapi perseteruan antar firqah dalam keluarga besar umat Islam dewasa ini, jamaah Ma’iyah tidak perlu melibatkan diri 

dalam arti menjadi firqah tersendiri yang harus berhadapan dengan firqah-firqah yang lain. Kalau tidak bisa mendamaikan minimal jangan memperuncing keadaan. Abu Dzar Al-Ghifari, ketika diberitahu oleh Rasulullah SAW bahwa di masa depan akan terjadi fitnah permusuhan di antara sesama muslim, dia langsung berkata: “Saya akan mengangkat pedang untuk membela kelompok yang benar”. Nabi SAW bersabda: “berarti kamu sama dengan mereka”. “Kalau begitu apa yang harus saya lakukan wahai Rasul? Kata beliau: “diam saja di rumahmu”. Dijawab: “kalau mereka masuk ke rumahku?”. Sabda beliau: “kalau kamu silau dengan kilatan pedang mereka, tutupi wajahmu dengan kainmu. Jadilah yang terbaik diantara dua anak nabi Adam”. Maksudnya, lebih baik menjadi Habil yang terbunuh daripada Qabil yang membunuh.

Tentu kita berharap untuk tidak menjadi Habil apalagi Qabil. Kita tidak boleh lelah mengingatkan kepada umat seruan Allah dalam surat Ali Imran 103:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. Tali Allah itu tiada lain adalah akidah tauhid yang telah kita ikrarkan dan kita sumpahsetiakan kepada Allah SWT.

Membangun persaudaraan juga memerlukan kesabaran. Seperti difirmankan oleh Allah dalam surat Al-Anfal 46: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Akhirnya marilah kita memohon pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat agar diberi keteguhan iman dan istiqamah dalam Maiyah.

Landungsari, 13 Oktober 2019
Ahmad Fuad Effendy

Buku dan Merchandise