Iram Dzatul ‘Imad

Mukadimah Damarate Juli 2019

Di tengah rupa dunia yang selalu baru, di antara lalu lintas bayang-bayang, hasrat-mimpi yang kerap berpacu cepat, kita terus mengejar segala sesuatu yang kita sangka sebagai jalan kebahagiaan, ketenangan atau bahkan keabadian?

Berkali-kali musim berganti, berkali-kali daun-daun bersemi dan mengering. Hujan berganti kemarau, malam melepas siang, pun sebaliknya. Di sisi lain, dalam hiruk-pikuk hasrat yang berdetak di kepala kita, ada yang tak kita sadari: meraba wajah, mendengar detak jantung, serta menghirup nafas, sembari bertanya-tanya, di manakah aku berada dan kemanakah aku akan tiada?

Mungkin kita pernah mendengar cerita orang-orang di pinggir jalan, di warung kopi, atau di mana saja, tentang keluh kesah mengenai hidup ini: “ mengapa ya hari ini kita merasa terhimpit di dalam rumah yang besar dan megah? Mengapa kita merasa buntu di tengah jalan yang lebar? Sehingga untuk bernafas tenang begitu sulitnya kita lakukan? Malah yang sering kita jumpai hilangnya kemesraan antar suami-istri, antara anak dan orang tua, antar saudara, antar tetangga. Mengapa ya? Mengapa ya? Mengapa ya?

Potret tata-ruang kota telah sampai ke desa-desa. Mulanya berupa gambaran-gambaran yang mucul di layar televisi. Hingga akhirnya gambaran-gambaran tersebut memasuki syaraf pikiran kita, yang kemudian menjadi angan-angan, mimpi bahkan diposisikan sebagai tujuan.

Diam-diam kita memaksa diri sendiri untuk sama bahkan melebihi pencapaian orang terhadap dunia ini. “aku harus punya rumah paling besar di antara tetangga, aku harus punya mobil paling mewah dan mahal di antara para tetangga”

Hari ini kita sedang melaksanakan pameran besar-besaran. Saling ngoceh sana sini untuk menunjukkan kegagahan demi kegagahan. Persaingan antar tetangga, antar saudara telah memicu terjadinya jarak kemesraan. Segalanya serba tegang. Komunikasi yang kita lakukan tampak pura-pura. Demi angan-angan, kita mulai kehilangan nikmatnya berladang, nikmatnya melaut, nikmatnya kesederhanaan desa. Untuk menggambarkan situasi dan kondisi ini, Kita teringat dengan sajak Umbu Landu Peranggi: APA ADA ANGIN DI JAKARTA

Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit wonosari

Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya

Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali berhuma berhati

Sajak di atas oleh mbah Umbu di tulis di masa orde baru. Pada bait terakhir, beliau menyeru kepada kita untuk kembali ke desa disaat kebanyakan orang sudah mulai tersihir dengan pembangunan gedung-gedung tinggi di ibu kota. Sebagai orang-orang desa, kita berusaha serta belajar untuk merawat kebudayaan, kebersahajaan, menjaga nilai-nilai persauraan, juga merawat kesederhanaan itu sendiri.

Ketergiuran kita hari ini pada kemegahan semu, telah membuka lembaran sejarah masa silam. Tepatnya di negeri Iram pada masa nabi Hud AS. di masa awal-awal sejarah perjalanan manusia. Dalam Al Quran, Allah menggambarkan dengan sebuah bangunan yang tinggi-tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain. Tetapi sayang seribu sayang, kota itu akhirnya ditenggelamkan semuanya dengan pasir.

Alangkah bijaknya apabila hari ini kita mau belajar lagi kepada yang terjadi di masa lampau. Marilah kita mengaji lagi untuk menunda kemusnahan yang akan tiba. Barangkali, setelah lama mata tertipu dengan gedung-gedung yang tinggi dan megah itu, ada saatnya pembangunan demi pembangunan kita arahkan pada pembangunan akal dan hati untuk kita huni bersama agar bumi tak menangis lagi. (Khalil Tirta)

Buku Cak Nun