Ilmu Petani

“Jadikan pertanian adalah primadona, karena bertani itu mulia, penuh rahmat.”

Demikian potongan kalimat Mbah Nun saya jumpai dalam Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng di Desa Mangunjaya Pangandaran belum lama ini yang saya akses lewat sebuah WAG.

Saya men-tadabburi kalimat di atas dengan sedikit imajinasi tentang sebuah pertanian pada umumnya. Di mana petani dengan kesungguhan penuh rahmat mengalokasi sebagian besar waktunya untuk ngopeni tanduran-nya, mengatur pengairan, menyiangi dari rumput, hingga saat panen. Ada ribuan petani dengan tanaman berbeda, tetapi dalam “kesatuan usaha” yang sama.

Semua tanaman tidak akan tumbuh jika salah satu elemen penting yaitu cahaya matahari tidak didapatkan. Cahaya matahari memberikan rahmatnya merata kepada siapa saja. Dalam hal pertanian, bahkan yang dianggap gulma, rumput yang mengganggu pun mendapat cahaya yang sama. Bukan tugas dan kewajiban Sang Surya untuk mengatur mana yang harus terlebih dahulu berkembang dan mana yang harus menunda pertumbuhan untuk kebaikan tumbuhan lain yang ditunggu panenannya. Itu adalah tugas para petani.

Mungkin saja, di kebun Maiyah Mbah Nun adalah bagian dari yang menebarkan cahaya. Cahaya rahmat yang dapat diakses oleh siapa pun dan tugas para petani untuk berlaku dengan manajemen komunal, mengatur mana yang harus diutamakan bertumbuh, di mana harus bertumbuh, dengan polybag model bagaimana untuk bibit tertentu, dan seterusnya.

Rahmat yang lebih luar biasa lagi. Mbah Nun benar-benar menebar cahaya putih yang setelah melewati kaca prisma, terdapat di dalamnya berbagai ilmu, yang salah satunya adalah “bagaimana merawat tetumbuhan” yang sangat dibutuhkan oleh para petani itu.

Buku Cak Nun