Ikhlas dan Lega Hati Agar Semakin Ridhlo Dengan Ketetapan Allah

Sungguh padat jadwal Cak Nun dan KiaiKanjeng di pekan ini. Diawali dengan Padhangmbulan (13/10), kemudian lanjut di Gresik (14/10), lantas pada hari Selasa di Bojonegoro (15/10), kemudian tadi malam di Jepara (16/10), dan malam nanti Mocopat Syafaat di TKIT Alhamdulillah, Kasihan, Bantul. Kemudian besok malam Cak Nun dan KiaiKanjeng masih akan memenuhi undangan Sinau Bareng di Tambirejo, Toroh, Grobogan.

Berpindah dari satu kota ke kota lain, memenuhi undangan masyrakat, tentu sangat menguras energi dan pikiran. Belum lagi harus meninggalkan keluarga di rumah. Jika masyarakat merasakan kangen dengan Cak Nun dan KiaiKanjeng, maka begitu juga yang dirasakan oleh keluarga Cak Nun dan KiaiKanjeng sendiri. Cak Nun dan juga personel KiaiKanjeng praktis harus meninggalkan keluarga di rumah demi memenuhi undangan masyarakat untuk Sinau Bareng.

Sungguh merugilah kita jika tidak mampu mengambil pelajaran dari perjalanan Cak Nun dan KiaiKanjeng keliling menemani masyarakat selama ini. Pelajaran apa saja yang bisa kita ambil? Kesetiaan, keikhlasan, kesederhanaan, kebersamaan, kekompakan, masih banyak lagi yang bisa kita petik dari perjalanan Cak Nun dan KiaiKanjeng ini. Tanpa harus menggali nilai terdalam dari konten Sinau Bareng saja, kita seharusnya sudah bisa mengambil ilmu yang sangat berharga.

Belum lagi, di setiap kota, masing-masing masyarakatnya memiliki karakteristik yang berbeda. Cak Nun dan KiaiKanjeng pun serius untuk mempersiapkan segala sesuatunya, tidak hanya materi yang akan dibawakan untuk menjadi bahan diskusi, tetapi juga nomor-nomor lagu yang disiapkan. Tidak jarang, nomor-nomor yang sudah dicatat oleh Mas Imam Fatawi justru tidak dibawakan sama sekali di panggung, karena memang Cak Nun dan KiaiKanjeng harus mengantisipasi situasi dan kondisi di lapangan.

Seperti tadi malam di Jepara, seorang jamaah bernama Erik, ketika Cak Nun menawarkan ingin disajikan lagu apa oleh KiaiKanjeng, Erik langsung mengangkat tangan dan naik ke atas panggung, kemudian berteriak;”Sidnan Nabi!”. Cak Nun kemudian meminta Erik untuk menyampaikan keinginannya kepada jamaah, meminta izin agar KiaiKanjeng membawakan lagu tersebut. Kemudian, sejenak KiaiKanjeng mengambil nada, Erik dengan cepat menyesuaikan nada dari KiaiKanjeng. Cak Nun kemudian mengawali, baru kemudian ketika memasuki choda, Erik dipersilakan untuk melantunkan lagu bersama Mas Imam Fatawi dan Mas Islamiyanto.

Dan jamaah pun bersamaan ikut melantunkan lagu “Sidnan Nabi” itu dengan semangat. Aransemen musik KiaiKanjeng yang harmonis berpadu dengan koor suara jamaah yang bergembira melantunkan bait demi bait lagu tersebut. Sangat indah.

Pemandangan seperti tadi malam sering kita jumpai di Maiyahan atau Sinau Bareng di berbagai tempat. Bagaimana KiaiKanjeng mengakomodir keinginan masyarakat untuk memainkan sebuah lagu terealisasi dengan apik. Salah satu kuncinya adalah karena kita ridlo satu sama lain.

Tentang ridlo, tadi malam Cak Nun membahas kembali di Jepara. “Yang utama adalah kita ridlo kepada Allah, bukan Allah ridlo kepada kita. Kalau kita ridlo kepada Allah, otomatis nanti Allah akan ridlo kepada kita”, ungkap Cak Nun di hadapan ribuan jamaah yang hadir tadi malam.

Ungkapan Cak Nun tersebut mengajak kita merefleksikan kepada diri kita sendiri, selama ini sebenarnya lebih banyak mana yang kita cari dan kita usahakan antara kita ridlo kepada Allah atau Allah ridlo kepada kita? Sepertinya, kebanyakan dari kita lebih sering mengupayakan agar Allah ridlo kepada kita tanpa kita mempertimbangkan apakah Allah ridlo kepada kita.

Sebenarnya, jika kita benar-benar menyimak Maiyahan dalam beberapa bulan terakhir, kemudian jika kita membaca beberapa Tajuk yang dirilis, baik oleh Cak Nun, Cak Fuad maupun Syeikh Nursamad Kamba, inti dari semua itu adalah bahwa kita sedang diajak kembali untuk meneguhkan tauhid kita. Kita sedang diajak kembali untuk meneguhkan syahadat kita. Bisa jadi, kesulitan yang kita hadapi justru karena salah satu alasannya adalah karena kita tidak sepenuhnya ridlo terhadap ketentuan Allah, maka ridlo dari Allah pun tidak kunjung kita dapatkan.

Maka, tidak lelah Cak Nun juga sering mengingatkan kita agar sebisa mungkin apa yang kita lakukan setiap hari itu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah terhadap kita. Tadi malam di Jepara pun demikian, Cak Nun bahkan mempertegas bahwa tidak ada satupun celah dalam hidup kita yang tidak tersambung dengan Allah, maka jalan satu-satunya adalah kita harus beriman secara penuh kepada Allah.

Sebenarnya, sudah sangat banyak kunci-kunci ilmu yang disampaikan oleh Cak Nun kepada kita melalui Maiyahan, dan itu semua lebih dari cukup untuk dijadikan pedoman hidup kita. Kita ambil contoh lain misalnya tentang puasa yang merupakan salah satu metode pengendalian dalam hidup. Contoh paling mudah untuk mengaplikasikan ilmu puasa adalah ketika kita naik kendaraan kemudian di sebuah persimpangan jalan kita melihat traffic light menyala lampu kuning. Sudah kuning atau masih kuning? Keputusan kita dalam memahami tanda lampu kuning yang menyala itu menentukan apakah kita sudah lulus dalam ilmu puasa atau belum.

Kembali ke tema ridlo tadi, memang pada akhirnya yang harus kita usahakan setiap hari adalah bagaimana agar kita mampu ridlo kepada Allah atas ketetapan-Nya terhadap diri kita. Semakin kita berjuang agar kita ridlo kepada Allah, maka akan semakin cepat pula imbal balik dari Allah; ridlo Allah kepada kita.

Buku dan Merchandise