Ijazah Maiyah untuk Sang Metiyem; Umbu Landu Paranggi

Catatan Masuisani edisi Ijazah Maiyah, 5 Agustus 2019

Setelah 2 hari berturut-turut Mbah Nun dan KiaiKanjeng memenuhi undangan sinau bareng di Mojokerto dan Jember, Mbah Nun dan KiaiKanjeng semalam hadir di Umah Wisanggeni, Denpasar timur, untuk hadir bersama dalam sinau bareng di Masuisani.

Bulan lalu, di Kenduri Cinta, Masyarakat Maiyah mempersembahkan Ijazah Maiyah kepada 3 pujangga; Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail dan Iman Budhi Santosa. Tadi malam, di Masuisani forum serupa dengan Kenduri Cinta di Bali, Masyarakat Maiyah mempersembahkan Ijazah Maiyah kepada Umbu Landu Paranggi.

Beberapa sastrawan muda di Denpasar, seperti Weldo, Mira, Wayan Jengki, Ayu, Mei Natiqoh membacakan beberapa karya puisi mereka sebagai persembahan untung Umbu Landu Paranggi. Grup musik Janardana sejak awal juga membawakan beberapa nomor lagu sebagai pengantar awal menuju prosesi penyerahan Ijazah Maiyah.

Mbah Nun kemudian melambari dengan menegaskan kembali bahwa ucapan salam adalah sebuah perjanjian agung. Dengan mengucapkan salam, maka semua yang hadir telah berjanji dan bersepakat untuk 3 hal; tidak mencuri barang orang lain, tidak menginjak harga diri orang lain dan tidak membunuh nyawa orang lain. “Ada Indonesia atau tidak, kita bersepakat untuk 3 hal itu, kepada siapa saja”, ungkap Mbah Nun.

Mbah Nun juga kembali mengajak jamaah untuk meneguhkan bahwa berkumpulnya kita di setiap forum sinau bareng adalah dalam rangka saling mengikatkan diri untuk menjadi Al mutahabbiina fillah, orang-orang yang saling mencintai bukan karena landasan materialistik semata, namun lebih dari itu karena landasan cintanya adalah Allah. Karena kita bersama-sama menyadari bahwa dengan saling mencintai satu sama lain adalah pondasi keselamatan kita di dunia dan di akhirat kelak. Tentu saja, salah satu harapan kita adalah bahwa kelak di surga, kita kembali berkumpul bersama-sama seperti halnya kita sinau bareng di setiap simpul Maiyah ini.

Mbah Nun kemudian bercerita sedikit tentang kisah Persada Studi Klub yang bermarkas di Malioboro. Di akhir tahun 1969, Mbah Nun yang saat itu baru bergabung di Universitas Malioboro, mengisahkan di setiap malam duduk berkumpul bersama di Malioboro. Pak Iman Budhi Santosa adalah salah satu murid utama Umbu Landu Paranggi saat itu.

Majalah Sabana, adalah salah satu majalah sastra ternama di Yogyakarta dan tidak sembarangan sastrawan bisa menembus meja redaksi Majalah Sabana, apalagi pada saat itu Umbu sendiri yang mengasuh Majalah Sabana. Disinilah uniknya seorang Umbu. Umbu mengasuh anak-anak muda untuk menjadi sastrawan yang mampu menulis puisi, novel hingga esai. Dan ketika anak-anak asuhnya mampu berkreasi dengan karya-karyanya, Umbu memilih untuk tidak ikut populer. Mbah Nun bercerita, pada suatu ketika Majalah Horison akan memuat puisi-puisi karya Umbu, namun justru Umbu sendiri yang melakukan “sabotase” agar puisi-puisinya tidak jadi diterbitkan di Majalah Horison. Pada suatu hari, ketika Umbu mengetahui puisi-puisinya akan dimuat di Majalah Horison, ia berangkat ke Jakarta, ke kantor Majalah Horison, secara diam-diam mencuri puisi-puisinya sendiri agar tidak diterbitkan di Majalah Horison. Padahal, Majalah Horison adalah salah satu barometer sastrawan Indonesia pada tahun-tahun itu. Salah satu puncak prestasi seorang sastrawan adalah apabila karya-karyanya dimuat di Majalah Horison, dan Umbu justru memilih untuk menggagalkan karya-karyanya dimuat di Majalah Horison.

Umbu Sang Metiyem

“Mas Umbu ini seorang sufi, namun tidak pernah merasa dirinya sebagai seorang sufi”, Mbah Nun menceritakan pergaulannya dengan Umbu. Umbu bukan hanya nyentrik, unik, tapi juga istimewa. Ketika orang-orang mengejar popularitas, Umbu memilih untuk lari dari popularitas. Ketika orang-orang berjuang untuk menjadi orang kaya, Umbu justru meninggalkan kekayaannya di tanah kelahirannya.

Salah satu nafas Ijazah Maiyah adalah memberikan penghormatan sebagai ungkapan syukur yang mendalam terhadap sosok-sosok manusia yang menjadi dirinya sendiri, sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Mbah Nun memiliki pandangan bahwa Umbu Landu Paranggi adalah sosok manusia yang menjadi dirinya sendiri, tidak terseret arus yang bergulir di masyarakat. Jika menggunakan terminologi di Maiyah, Umbu adalah sosok manusia nilai yang sangat mungkin menjadi manusia pasar bahkan mampu menjadi manusia istana, tetapi Umbu memilih untuk menjadi manusia nilai. Setelah mengasuh anak-anak muda di Malioboro, Umbu pergi dari Yogyakarta, menghilangkan jejak untuk kemudian menemukan Denpasar sebagai wahana yang baru, dan Umbu kembali mengasuh anak-anak muda di Denpasar, Bali seperti halnya ketika ia mengasuh anak-anak muda di Malioboro.

“Semua manusia di dunia hari ini cita-citanya sama; rich, famous and powerfull. Semua orang ingin kaya, semua orang ingin terkenal, dan semua orang ingin berkuasa”, Mbah Nun menambahkan. Pendidikan kita hari ini menjadikan semua anak didik bersaing untuk mengejar 3 hal itu, sehingga lupa siapa dirinya, bagaimana Tuhan dahulu berkehendak menjadikan dirinya seperti apa, tidak ada panduan yang membantu dari dunia pendidikan kita. Ibaratnya sekarang, ada ikan ikut terlibat dalam perlombaan terbang, burung ikut perlombaan berenang. Padahal seharusnya, ikan menemukan kesejatian dirinya, menjadi hebat dengan berenang di dalam air, sementara burung menemukan kesejatian dirinya, menjadi hebat karena ia mampu terbang di angkasa.

“Hidup saya belajar dari Umbu. Saya tidak ingin menjadi apa-apa dan tidak boleh ingin menjadi apa-apa. Saya hanya melakukan apa yang Tuhan suruh kepada saya”, ungkap Mbah Nun. Dan Ijazah Maiyah ini adalah dalam rangka memberi penghormatan kepada orang yang setia kepada dirinya sendiri, menjadi dirinya sendiri sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan kepada dirinya. Umbu mengasuh anak-anak muda untuk menjiwai sastra, entah kelak anak-anak yang ia asuh menjadi apa, tetapi jiwa sastra sudah tumbuh dalam diri mereka. Dan, ibarat petani, Umbu telah menanam benih di banyak ladang, yang ketika benih-benih itu tumbuh, kemudian berbuah, tidak sedikitpun Umbu menikmati hasil panen. Umbu cukup bahagia melihat tanaman-tanaman yang ia jaga tumbuh subur.

Pak Iman Budhi Santosa kemudian menceritakan sedikit tentang buku “Metiyem”. Buku yang disusun oleh anak didik Umbu Landu Paranggi di Malioboro, yang disusun sejak tahun 2017 lalu. Dijelaskan oleh Pak Iman bahwa judul Metiyem ini diambil dari bahasa Bali kuno, yang artinya adalah seekor merpati yang memiliki ketahanan dan kemampuan terbang membubung tinggi ke angkasa, dalam sebuah peristiwa aduan. Merpati pemenang utama yang memiliki kemampuan terbang tertinggi dan paling lama, dalam bahasa Bali disebut Metiyem. Dalam kehidupan sosial masyarakat di Bali, Metiyem adalah yang tersembunyi di relung kulminasi antara langit dan bumi yang merupakan pencapaian sempurna di ketinggian terbang seekor merpati. Inilah gambaran sosok Umbu Landu Paranggi, melalui buku ini, Umbu dihormati lebih dari sekadara seorang guru, mentor, Bapak. Umbu mengasuh, mengasah dan mengasih anak-anak muda untuk tumbuh, melalui sastra, Umbu mengantarkan mereka, menemani mereka menemukan jati dirinya. Menjadi dirinya sendiri sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan kepada mereka.

Ijazah Maiyah kemudian diserahkan oleh Pak Joko Kamto KiaiKanjeng, yang juga salah satu penerima Ijazah Maiyah di Surabaya tahun 2011 silam. Semalam, Pak Joko Kamto didapuk untuk menyerahkan Ijazah Maiyah kepada Umbu Landu Paranggi.

Setelah proses penyerahan Ijazah Maiyah, Umbu Landu Paranggi memanggil satu per satu anak-anak asuhnya di Denpasar untuk menerima buku “Metiyem”. Buku “Metiyem” ini memang tidak diperjualbelikan, Pak Iman menegaskan bahwa buku tersebut tidak ternilai harganya, maka hanya Umbu yang kemudian menentukan kepada siapa buku-buku tersebut akan diberikan. Mbah Nun semalam juga mempersilakan kepada jamaah yang hadir di Masuisani untuk naik ke panggung jika berminat memiliki buku tersebut, kemudian menyampaikan alasannya mengapa ia layak mendapat buku tersebut, dan Umbu sendiri yang kemudian menilai apakah ia memang layak mendapatkan buku tersebut.

Maiyah adalah Huma Berhati

Mbah Nun kemudian mengajak personel KiaiKanjeng untuk bergabung di panggung. Teman-teman dair Masuisani kemudian menyerahkan sebuah alat musik khas Bali; Penting (Kecapi Bali), diserahkan oleh Pak Pidekso diterima langsung oleh Mas Ari Blothong KiaiKanjeng. Kemudian, dengan alat musik yang ada, KiaiKanjeng membawakan “Ruang Rindu” dan “Apa ada angin di Jakarta”.

“Pulanglah ke Desa, membangun esok hari, kembali ke Huma berhati”, cuplikan syari Apa ada angin di Jakarta dimaknai oleh Mbah Nun sebagai salah satu spirit yang harus dijalankan oleh peradaban global hari ini, karena cepat atau lambat akan lelah dengan peradaban kapitalisme yang berlangsung secara global. Kembali ke Huma berhati, kembali ke rumah yang memiliki hati. Peradaban kita secara global hari ini telah meninggalkan hati, kita kehilangan hati, menjalankan roda perekonomian, mengelola negara, mengurus partai, organisasi dan lain sebagainya tidak dengan menggunakan hati. Dan Umbu sudah mengingatkan sejak tahun 70-an; kembali ke Huma berhati.

“Ini Maiyah bukan hanya rumah, ini adalah Huma”, ungkap Mbah Nun. Di Maiyah, kita mengembangkan cinta satu sama lain, sehingga di Maiyah kita akan saling mendengarkan, karena alasan untuk mendengarkan kemudian bertanya di Maiyah adalah cinta antara satu dengan yang lainnya. Itulah yang kita bangun di Maiyah, itulah Huma.

Malam di Umah Wisanggeni semakin larut, KiaiKanjeng dan Janardana bergantian dan juga berkolaborasi membawakan beberapa nomor lagu, seperti Man Paman kemudian juga Sholawat Madura – Nothing Compare To You. Sesuai dengan permintaan Umbu Landu Paranggi, KiaiKanjeng kemudian membawakan nomor medley Keluarga Cemara – Sholawat Badar untuk memuncaki Masuisani tadi malam.

Buku Cak Nun