Ihtimal

Panduan Workshop Simpul-simpul Jamaah Maiyah Agustus-Oktober 2019 (1)

Ihtimal adalah potensi yang ditentukan, ditakdirkan, ditanazzulkan, diletakkan atau dititipkan oleh Allah pada setiap manusia.

Inilah benih dasar “syu’uban wa qabail”, bahwa manusia diciptakan Allah dengan atau dalam keragaman, bermacam-macam, berjenis-jenis, tanpa bisa dihitung pluralitasnya.

Sehingga setiap manusia bukanlah manusia lainnya, meskipun sama-sama manusia. Setiap manusia adalah tertentu. Unik. Spesial. Khas. Khushushan. Memang pasti ada sejumlah kesamaan di antara manusia, tetapi tidak ada yang benar-benar sama.

Kekhushusan setiap manusia itu bisa sedikit diraba, misalnya bakatnya, jenis kemampuannya, kecenderungan potensialitasnya, minatnya, kesukaannya, hobinya, seleranya, tingkat kesanggupannya menghadapi berbagai pengalaman, bentuk responsnya terhadap berbagai hal yang menimpanya. Dan beribu-ribu bahkan tak terhingga kemungkinan muatan pada setiap manusia.

Sepanjang sejarahnya manusia mencari dirinya, mencoba berbagai pendekatan untuk mengenali dan menemukan dirinya. Dari primbon, ilmu katuranggan, wetan, zodiak, astrologi, hingga ilmu-ilmu psikologi, fingers print dan seterusnya.

Manusia berkaca dan belajar kepada alam, dengan mencoba memahami dirinya berdasarkan ragam ciptaan lain sesama makhluk, baik makhluk hidup seperti Malaikat, Jin, Iblis dan sesama manusia. Atau bercermin kepada makhluk yang disebut tidak hidup, misalnya, tanah, logam, air, udara, api dan bermacam-macam lagi.

Manusia mengidentifikasi dasar kedirian segala sesuatu untuk menemukan indikasi kedirian dirinya sendiri. Masing-masing kedirian itu merupakan dasar sangkan-paran kehidupannya. Manusia butuh menentukan jenis dan arah cita-citanya, gagal dan suksesnya, buntu dan lapangnya, mandek dan pencapaiannya.

Kalau seorang manusia menemukan bahwa kedirian utamanya adalah tanah, maka tidak tepat kalau ia berlaku api, berpendidikan api, bersekolah api, berbudaya api, beragama api, bercita-cita api. Kalau seorang manusia merasakan bahwa ia lebih merupakan air dibanding udara, atau lebih rumput dibanding pohon kelapa, lebih cacing daripada burung, maka ia bisa memformulasikan apa yang akan ia tempuh dalam kehidupannya.

Sesungguhnya manusia yang diberi kepastian oleh Penciptanya sebagai “ahsani taqwim”, mengandung semua anasir itu di dalam dirinya. Tahapnya kemudian adalah mencari kadarnya. Apa potensi yang paling dominan pada dirinya. Apa afdlaliyah-nya, asbaqiyah-nya, aulawiyah atau taqdimiya-nya.

Memandu setiap bayi yang berkembang menjadi manusia untuk mengenali dan menemukan dirinya itulah tugas utama orangtua, Guru, Sekolah, Universitas atau Pesantrennya. Lebih jauh berdasar keperluan asasi manusia itulah manfaatnya didirikan Kerajaan, Kesultanan, Negara, atau bentuk pengelolaan kolektif lainnya.

Lembaga Pendidikan Hidup yang menarik murid dengan disediakan hanya sejumlah kotak, fakultas atau jurusan, dengan kurikulum pengajaran yang sangat terbatas — adalah perilaku Jahiliyah. Adalah pengingkaran kepada hakikat penciptaan Tuhan atas manusia. Meremehkan kehendak dan perintah Pencipta atas ciptaan-Nya.

Seorang Penghulu Ilmu Maiyah, Sabrang MDP, mengemukakan bahwa semua lembaga pendidikan selama berabad-abad sampai hari ini hanya mampu mengajarkan “mencari penghidupan”, tetapi  bukan “memperkenalkan kehidupan dan mendidik bagaimana hidup”.

Itulah landasan, tanah pijak dan dasar keberangkatan Workshop di Simpul-simpul Maiyah selama minimal tiga bulan (dengan variabel dan pemuaiannya yang bisa bertahun-tahun, sesuai dengan hak kreatif setiap Simpul dan per manusia Maiyah) melalui keberangkatan-pandang sederhana: “Manusia Nilai, Manusia Pasar, Manusia Istana”.

14 Agustus 2019
(Mbah Nun)

Buku Cak Nun