Idul Fitri: Penghalalan dan Pemuliaan Hubungan Sosial

Pengalaman dan kenikmatan ber-Idul Fitri bisa diperdalam melalui upaya maksimalisasi atau peluasan pemaknaan atasnya. Dan pemaknaan atas Idul Fitri bisa dilakukan melalui dua tingkat. Pertama, tingkat ahli. Kedua, tingkat awam.

Saya yakin yang bisa saya lakukan adalah tingkat kedua, karena bisa dikatakan saya tidak memiliki legalitas apa pun untuk melakukan yang pertama.

Pemahaman ahli memerlukan referensi mendasar dan komprehensif atas berbagai nash beserta metodologi atau khaifiyah-nya, baik yang bersumber dari Al-Qur`an dan Sunnah maupun dari kepustakaan ilmiah di semua tahap sejarah penafsiran atasnya. Idiom ahli menunjuk subyek yang merupakan ‘tuan rumah’ dari suatu kosmos ilmu.

Sedangkan kaum awam hanya semacam ‘penjenguk’ yang penglihatannya tidak mendalam. Dengan demikian tafsir awam—yang pasti bisa dituturkan hanya dengan catatan ia meresikokan berbagai kelemahan—dan kadangkala hanya dipersyarati oleh tingkat standar pemahaman atas prinsip dasar dari sesuatu yang disentuh; dan selebihnya ia sekedar menggunakan “metode” common sense. Akal sehat.

Untunglah akal sehat manusia juga merupakan “ayat” Allah, yang memang dimaksudkan oleh Allah untuk membedakan para khalifatullah ini dengan makhluk lain yang diletakkan oleh-Nya pada derajat lebih rendah: binatang, tetumbuhan, materi.

Meskipun demikian jangan lupakan ada makhluk lain yang “bukan mandataris Allah”, namun pasti mulia dan suci, yakni malaikat. Sementara ada juga bukan khalifah yang pasti buruk dan hina, yakni iblis atau setan. Adapun kaum jin sama dengan manusia: memiliki kemungkinan untuk mengolah diri ke kesucian dan kemuliaan, atau memerosokkan diri ke dalam keburukan dan kehinaan di hadapan Allah Swt.

***

Saya ingin mengajak Anda memaknai kembali Idul Fitri—atau syukur ini bisa memperluas dan memperdalam penghayatan dan kenikmatan kita—melalui sejumlah idiom populer yang selalu kita gunakan pada saat-saat Idul Fitri.

Misalnya, halal bihalal, pakaian baru, minal ‘aidin wal faizin, serta istilah Idul Fitri itu sendiri. Kata “bi” dalam halal bihalal yang berarti “dengan”, menunjukkan ia berlaku dalam konteks hubungan antar manusia. Mestinya juga tidak tertutup kemungkinan hubungan antara manusia dengan Allah, serta dengan makhluk lain, misalnya dengan alam, tanah, hutan, air, dan seterusnya.

Halal bihalal antara A dengan B maksudnya di antara keduanya sudah tidak ada keburukan, kejahatan, kemunkaran, ketidakbenaran atau ketidakadilan, yang belum dibereskan. A mencuri hak B, sementara B bersih dari kesalahan terhadap A. Itu namanya halal biharam: B sudah halal posisi hubungannya terhadap A, sementara A masih haram terhadap B. Yang harus dilakukan adalah A meminta maaf kepada B, serta mungkin mengembalikan atau membayarkan sesuatu sampai B berada pada posisi obyektif untuk rela terhadap A.

Halal bihalal bisa diidentikkan dengan posisi rodliyah mardiyah—rela terhadap dan direlakan oleh. Di dalam perhubungan satu garis antara manusia, atau hubungan multi-garis antara banyak manusia di dalam suatu lingkaran komunitas, memungkinkan sifat atau posisi halal bihalal, halal biharam, atau halal bimakruh. Yang terakhir ini bermakna adanya suatu masalah antara dua orang atau lebih, yang seandainya tidak dibereskan ia tetap tidak haram, tapi dianjurkan untuk dibereskan.

Halal bihalal horisontal, dalam pada itu, menentukan terjadinya halal bihalal vertikal. Artinya, jika saya memiliki kesalahan kepada Anda, dan apabila tingkat kesalahan saya itu sampai ke kualitas dosa kepada Allah, maka saya tidak akan memperoleh posisi halal bihalal dengan Allah, sebelum saya minta maaf kepada Anda dan Anda bersedia memaafkan saya, atau sebelum posisi saya halal bihalal dengan Anda.

***

Akan tetapi mencapai posisi halal bihalal sosial, terutama pada jenis perhubungan sosial kehidupan modern, tidak gampang. Karena ada seribu garis silang menyilang dengan tingkat komplikasi tinggi, yang menghubungkan antara manusia dengan manusia. Kompleksitas itu ditentukan oleh daya tarik menarik multi-relasi antar manusia dalam masyarakat modern, yang satu sama lain berada pada lingkup sistem dan struktur yang sama.

Kebenaran dan kesalahan setiap manusia berkait secara sistemik dan struktural, langsung maupun tak langsung. Kalau suatu siang saya mencopet di pasar, bisa jadi perbuatan saya itu memiliki logika dan keterkaitan “historis” dengan keseluruhan bangunan perekonomian, sifat pendistribusian modal, ketimpangan struktural, dan seterusnya.

Itu menyebabkan dosa copet saya bisa tidak berdiri sendiri. Di dalam dosa saya terdapat “saham” dosa orang lain, karena saya mencopet itu tidak sama sekali merupakan perbuatan yang hanya berdiri dari niat jahat mencopet saya pada suatu momentum, melainkan juga berkaitan dengan kondisi ekonomi saya, yang notebane merupakan produk sistemik dan struktural dari suatu bangunan makro perekonomian masyarakat dan negara.

Demikian juga keluasan dan relativitas orang-orang yang melakukan korupsi, anak-anak remaja yang ngoplo, atau apapun saja masing-masing berperan secara integral dalam suatu dosa kolektif. Di desa-desa tertentu banyak tokoh-tokoh yang sebenarnya potensial memimpin masyarakat, selalu menghindar dari kemungkinan menjadi kepala desa karena tidak bersedia terpojok dan terpaksa terlibat dalam suatu sindikasi ketidakjujuran dan kejahatan kalangan birokrat tingkat kecamatan yang menindas penduduk. Apalagi dalam spektrum relasi lebih luas dari itu.

Seandainya ia bersedia tenggelam dalam sindikasi, dosanya juga tidak ia tanggung sendirian. Namun sebaliknya bila ada penduduk yang dimelaratkan sindikasi itu pada suatu hari terpaksa mencuri, ia bisa turut menanggung dosa pencurian itu.

***

Akan tetapi yang memiliki kesanggupan mempersepsikan, menakar, menilai, dan menentukan kepastian peta saham dosa dan pahala sistem dan struktural dalam lingkup ruang dan rentang waktu hanya Allah Yang Maha Lathif, Yang Maha Lembut. Setinggi-tinggi dan secanggih-canggih ilmu sosial dan ilmu fiqh manusia tidak akan pernah mampu melakukannya.

Mungkin karena itu maka kebudayaan Idul Fitri kaum Muslimin menggali berbagai cara untuk sejauh mungkin menjangkau kemungkinan pembebasan dosa-dosa sistemik dan struktural di antara mereka. Kita bukan hanya secara tradisional meminta maaf dan memaafkan siapa saja yang kita jumpai. Kita juga saling mengirim surat permohonan maaf. Pun kita menyelenggarakan berbagai acara dan kumpulan halal bihalal untuk memperluas jangkauan mekanisme maaf-memaafkan.

Tetapi pasti itu semua juga tidak cukup. Kita memerlukan waktu sangat lama, dengan prosedur ruwet serta biaya mahal, untuk melaksanakan pemerdekaan kita semua dari kesalahan.

Karena itu sebenarnya ada fenomena lain yang lebih tinggi kualitas dan derajatnya dibanding mekanisme penghalalan, yakni mekanisme pemuliaan. Anda berhak tidak memaafkan seseorang yang tidak meminta maaf kepada Anda, entah karena memang tidak mau, tidak sadar diri, atau tidak punya kemungkinan teknis untuk melakukan itu.

Akan tetapi Anda memiliki peluang memperoleh tingkat kemuliaan tertentu sebagai manusia, bila Anda menjalankan anjuran (sunnah) atau syukur Anda sadari sebagai keharusan (wajib) demi kemerdekaan bersama dari dosa. Maksud saya, Anda bisa memaafkan atau melebur dosa siapapun yang bersalah kepada Anda, meskipun ia tidak meminta maaf kepada Anda.

***

Jika kita lakukan itu, kita bukan hanya telah menolong membebaskan saudara-saudara kita dari kesalahan terhadap kita, sehingga menciptakan peluang ampunan Allah atas mereka tapi juga telah melaksanakan proses pemulihan atas diri sendiri.

Anda telah menapaki naik dari kualitas halal bihalal menuju derajat karamah bikaramah. Keridhaan sosial semacam itu merupakan indikator taqwa. Sebagaimana kita mengerti, taqwa itu pencapaian kualitas tertinggi dari perjalanan iman, perjalanan moral sosial dan akhlak vertikal. Pencapaian taqwa itu juga yang merupakan cakrawala tujuan perbuatan puasa: la`allakum tattaqun.

Sebagaimana Anda—dalam takaran fiqh, juga menurut pasal-pasal hukum negara—tidak wajib memberi makan kepada orang kelaparan. Tapi kalau Anda melakukannya, Anda menjadi manusia akhlaq secara sosial horisontal, sekaligus Anda memperoleh derajat sebagai manusia taqwa dalam konteks hubungan vertikal.

Dicapainya taqwa adalah suatu kemenangan spiritual-vertikal, karena manusia tidak dilahirkan untuk “menang horisontal”, untuk menang atas orang lain; melainkan “menang vertikal”, yakni menang atas diri sendiri sehingga memperoleh derajat spiritual. Di dalam konteks Idul Fitri, dengan keridhaan sosial itu Anda tidak saja menjadi tergolong di antara kaum`aidun, orang-orang yang kembali halal integritasnya bagaikan bayi (Idul Fitri), tapi juga termasuk dalam kumpulan manusia berderajat faizun: orang-orang yang menang melawan diri sendiri. Orang-orang yang memperoleh kemenangan dan keuntungan dalam kriteria Allah Swt.

Dengan demikian Idul Fitri sesungguhnya menawarkan extra cultural and spiritual strategy untuk menerobos kemungkinan dialektika permaafaan dalam peta per-hubungan sistemik dan strutural yang ruwet dan tak terjangkau. Dan itulah “pakaian baru” bagi setiap penikmat hari Idul Fitri.[]

**Diambil dari buku “Tuhan Pun ‘Berpuasa’”, diterbitkan oleh penerbit  Zaituna, 1997.

Buku Cak Nun