HardReset Peradaban Islam

Kalau mesin sejarah Peradaban Kaum Muslimin kita amsalkan seperti komputer yang hardware dan software-nya mengalami multi-crash, banyak organnya damaged, program-programnya stuck, hang, malfungsi dan serba error — maka yang selama puluhan tahun yang saya lakukan hanyalah upaya berkali-kali softreset.

Efeknya terbatas, tidak maksimal, sekadar menyisir faktor-faktor dan fungsi-fungsi tertentu agar tidak menjadi sampah yang mubadzir.

Sesungguhnya yang harus dilakukan adalah hardreset atau restore, lantas kita reinstall dengan .iso atau .dmg yang orisinal dari Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Bahkan mungkin dengan memohon kepada Allah Swt agar memperbaharui atau men-supply kembali hardware yang belum terlalu rusak.

Marja’ Maiyah Syeikh kita semua Dr. Nursamad Kamba lah yang memiliki semua keperluan kita untuk hardresetting dan restoring.

Kemudian ketika sampai pada tahap setting up dan installing berbagai detail software aplikasi — kita minta bantuan Marja’ Maiyah ad-Duktur Ahmad Fuad Effendy.

Alhamdulillah di Surah Al-Maidah 54 Allah Swt membuka kemungkinan itu:

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap adzillah terhadap orang yang mu`min, dan bersikap a’izzah terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Jamaah Maiyah sudah lebih 15 tahun tekun menghimpun resetting up hampir semua aplikasi dengan komprehensi Cinta Segitiga dan menguakkan cakrawala “udkhulu fis-silmi kaaffah”, yang tidak sama dan sebangun secara peradaban dengan “udkhulu fil Islami kaaffah”, yang Jamaah Maiyah sudah mempelajarinya tidak sekadar sebagai ‘ilmul ‘ilmi, melainkan sebagai ‘ilmul hayat.

Jamaah Maiyah sudah mengenyam dan menikmati semua eksplorasi komprehensif itu Thariqatul ‘Ilmi hingga Kaifiyatul Hayat. Tanpa pernah khatam, karena khotamul ‘ilmi tidak sama dengan khotamul ‘Ibadah, khotamul hayat, khotamud-din atau tahqiqur-ridlo — meskipun Jamaah Maiyah sudah sedemikian rupa belajar dan berlatih untuk menjalani shirathun-nubuwah.

Jamaah Maiyah mengembarai fakultas-fakultas dalam kesadaran universitas dan universalitas. Titik-titik menuju garis, garis-garis menjadi bidang, bidang-bidang meruang, ruang-ruang dalam gelembung semesta, arasy-arasy di genggaman Sang Maha.

Ilmu debu dan pasir, ilmu tanah dan bumi, ilmu pepohonan dan tetumbuhan, ilmu hewan dan dinamika, ilmu manusia dan ufuk kefanaan, badan dan kebugaran, jiwa dan kesehatan, sosialitas dan pengelolaan, disiplin dan khilafah, hingga keluarga dan Sang Maha Suami, bahkan melebar meluas mendalam sampai apapun saja yang Allah Swt menganugerahkan dengan kegembiraan menjadi dan kepada manusia.

Jamaah Maiyah menelusuri shirathun-nubuwah, tidak hanya Pamungkas Muhammad Saw, tapi juga sejak sangkan hingga parannya, eskalasi nilai sejak “ja’ilun fil ardli khalifah” hingga Progress sejumlah Rasul dan tak terhitung Nabi demi Nabi.

Jamaah Maiyah berjalan melewati hutan rimba jahiliyah, belajar tidak basah oleh hujan deras “dholuman jahula”. Ketika terjadi gegap gempita “tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta” — Jamaah Maiyah menyaksikan dari wilayah sunyi. Tidak kaget atas temanya, karena sudah membuka lembar-lembar sejarah itu jauh sebelumnya. Anak-anak muda yang dirasuki Al-Maidah 54 yang riuh rendah melawan kebodohan kekuasaan, dipahami oleh Jamaah Maiyah sebagai produk kedua dari manajemen melingkar dan memantul dari ijtihad Bumi dan mujahadah Langit yang sudah mereka thariqati dan prihatini sejak lebih 15 tahun silam.

Andaikan Allah Swt mengizinkan bubarnya Peradaban Palsu ummat manusia dan kebudayaan Kaum Muslimin yang penuh talbis dan jahl hari ini atau besok — alhamdulillah Allah Swt menganugerahkan Cak Fuad dan Syeikh Kamba untuk kelahiran dan reaplikasi yang Allah Swt kehendaki tatkala mengambil keputusan untuk menciptakan hibrida manusia ahsanu taqwim Adam As.

(Untuk Syeikh Nursamad Kamba dari Mbah Nun)

Jakarta, 24 September 2019
Mbah Nun

Buku dan Merchandise