Pengantar Pameran Visual Novi Budianto

Hanya Satu Nevi

(Di Jagat Kaum Spiritualis)

Saya tidak tahu secara akademik lukisan-lukisan “Mbah Geyol” Nevi Budianto ini alirannya apa. Tetapi saya melihat dan menemukannya sebagai peristiwa panjang dialektika ulang-alik impresionistik antara dunia dalam pelukisnya dengan dunia luar yang dialaminya.

Setiap manusia mengalami dialektika semacam itu. Bedanya dengan Nevi adalah pada tipologi, takstur, dan nuansa kejiwaannya. Tidak semua manusia memiliki jenis kejiwaan seperti Nevi. Atau kita pastikan bahwa Tuhan menciptakan hanya satu Nevi dalam kehidupan ini.

Tentu ada anasir psikologis pada Nevi yang mirip atau sama dengan yang terdapat pada sejumlah orang lainnya. Atau mungkin cukup banyak unsur kejiwaan mereka yang mirip Nevi. Tetapi hampir tidak mungkin menemukan satuan, keutuhan komposisi, kemenyeluruhan aransemen, atau kesatuan kejiwaan yang seperti Pak Nevi.

Saya sudah lebih 60 tahun mengenal berbagai jenis manusia. Dan saya mengenal Nevi 46 tahun, dan saya bersaksi bahwa hanya ada satu Nevi. Benar-benar dan sungguh-sungguh hanya ada satu Nevi. Termasuk di planet luar Bumi atau jagat Kajiman: Dunia para makhluk Jin.

Jadi, hari ini, kalau ada karya-karya seni dipamerkan, yang hadir menemui Anda adalah kreatornya. Anda tak punya kewajiban untuk menganalisis atau menilai karya-karya itu, melainkan cukup memasuki dan mengalaminya saja. Menikmati rasa bersentuhan dengan jiwa kreatornya, bersilaturahmi dengan jagat batinnya, syukur menerima dan menikmatinya.

Dan saya hanya bisa bersaksi bahwa Nevi Budianto adalah anugerah dari Allah kepada siapapun yang mengenal Nevi. Anugerah-Nya itu bisa bersentuhan dengan Anda sebagai hanya hiburan, pemancing senyum dan tawa. Tapi bisa juga Anda perlakukan sebagai sumber inspirasi, cakrawala penguak kreativitas. Atau lubuk sangat dalam dari berbagai kemungkinan: ijtihad, fenomenologi, inovasi, tajdid, bahkan invensi.

Bertanyalah kepada semua Pakde dan Paklik KiaiKanjeng: apa bedanya hidup ini kalau ada “Mbah Geyol” dibanding tidak ada. Tidak hanya beda suasana pergaulan dan silaturahmi nya, tapi juga jenis dan pencapaian kreativitas musiknya.

Kalau Anda mengenakan kacamata wacana ilmu rupa dan Anda mendatangi pameran seorang Perupa bernama Nevi Budianto, yang adalah juga seorang inovator musik melalui kiprah Kelompok KiaiKanjeng — mungkin Anda menentukan jenis atau pola goresan dan bentukan garis-garis naturalis atau realis. Kalau mengenal apa yang ditampilkan oleh garis-garis itu, mungkin spontan Anda mengkategorikan itu adalah surealis. Kalau Anda mewacanakan temanya di tengah konstelasi tema-tema seni rupa pada umumnya — Anda akan menyebutnya spontan bahwa ini absurd. Satu jagat batin yang aneh, asing bagi kebanyakan orang, refleksi dari jari-jari tangan seseorang yang mungkin berkelainan dalam kejiwaannya, mungkin semacam suatu jenis autisme, atau pelukisnya adalah kasyif maksyuf : orang yang salah satu tabir pengobatan batinnya dibuka atau sobek, sehingga memakrifati sesuatu yang orang lain tidak bisa menyentuhnya. Atau jenis manusia yang memiliki kemerdekaan imajinasi sedemikian rupa sehingga bisa mengembarai spektrum-spektrum di luar batas imajinasi umumnya manusia, sebagaimana mata burung mampu melihat ribuan warna-warni yang mata manusia tak mampu melihatnya.

Alhasil, semua pada akhirnya terpulang pada kedaulatan Anda masing-masing. Berarti juga pada niat kreatif atau kehadiran konsumtif Anda sendiri-sendiri. Tergantung pada niat Anda dan apa yang Anda siapkan di dalam diri Anda tatkala menghadiri Pameran ini. Terserah Anda bawa spekulasi-spekulasi cara pandang, bekal-bekal akademis, kedalaman ilmu, cakrawala keterbukaan terhadap kemungkinan-kemungkinan, atau apapun yang Anda pilih untuk anda bawa.

Ada dua informasi dari Tuhan, Maha Subjek yang mengkreasi makhluk bernama Nevi Budianto.

Pertama; “yastami’unal qoula wa yattabi’una ahsanahu”. Kedua, “la tudrikuhul abshar wa Huwa yudrikul abshar wa Huwal lathiful Khobir”.

Saya yakin tidak ada manusia dengan ilmu satu jurusan, dengan jiwa sempit dan ilmu dangkal karena belum pernah ikut Maiyahan — yang merespons dua informasi di atas dengan pernyataan: “Untuk apa kutip ayat-ayat Qur`an segala. Ini Pameran Lukisan. Ini kagiatan kesenian. Bukan pengajian Agama”.

Kalau orang itu tidak percaya atau mengakui adanya Tuhan, saya doakan jiwanya gelap inspirasi dan bebal ilham karena ia tidak mengenali atau apalagi menelusuri jiwanya dan mendalami dirinya sendiri.

Kalau yang merespons itu salah seorang yang ber-Tuhan dan memeluk suatu Agama, saya mohon ia kutipkan juga satu dua pernyataan Tuhan (terserah ia disebut ayat, firman, hidayah, petunjuk, qur`any atau qudsy atau apapun yang sudah melewati verifikasi-verifikasi metodologis dari sekian pakar ilmu dengan sanad-sanad dan matannya) dari referensi buku-bukunya.

Seniman dan para penikmat dan pencintanya adalah masyarakat spiritualis. Nevi tidak mungkin menggoreskan apapun yang tertuang di kanvas-kanvas itu tanpa keberangkatan spiritual. Garis dan bentuknya adalah materi, maka ia kasat mata. Tetapi muatannya tidak kasat mata. Tidak bisa disentuh dengan mata wadag. Ia adalah dunia spirit. Ia bagian dari jagat ruh. Berdimensi rohaniah. Dan memang demikianlah setiap dan semua karya seni rupa, seni kata, seni sastra, seni gerak, serta seni apapun. Kreatornya adalah Aktivis Spiritualisme. Juga yang mengapresiasinya, yang menikmati dan menghayatinya.

Maka lukisan Nevi juga adalah ungkapan-ungkapan sastra, andaikan media yang dipakainya bukan garis dan bentuk. Ayat-ayat Allah adalah Maha Lukisan, andaikan “tools” yang digunakannya adalah garis, bentuk dan warna. Maka laksanakan firman “yastamiúl qoula wa yattabi’una ahsanahum”. Dengarkanlah semua perkataan, dan terima kemudian pakailah yang terbaik bagi (pertimbangan)mu.

Kemudian bergeraklah meng-Allah agar ”la tudrikuhul abshar wa Huwa yudrikul abshar wa Huwal lathiful Khobir”. Ia tidak bisa dilihat, diketahui atau dimengerti dengan segala jenis penglihatan (pendengaran, pe-rasa-an, cara pandang, metodologi, teori). Sementara Ia sangat mengenali, mengerti dan sepersis-persisnya memiliki penguasaan atas segala teori, metodologi, cara pandang, sudut pandang, sisi pandang, resolusi pandang, jarak pandang serta apapun thariqat pandangan dan penilaian atas segala sesuatu dalam kehidupan yang memang Ia sendiri Maha Pencipta dan Maha Penyelenggaranya.

Ia memakrifati apa dan siapa saja. Maka bergabunglah siapapun kepada atau dengan atau bersama-Nya, agar Ia menciprati Anda, mengkontaminasi batin Anda. Sebagaimana Nevi dikontaminasi oleh ke-Maha-Absurd-an Allah Swt. Kalau ada lukisan sunyi senyap dengan berbagai ornamen yang seakan-akan ”material”, Anda menemukan jangan-jangan Nevi sedang menuliskan semacam reportase bahwa di sunyi kehidupan ini, yang terdengar hakikinya hanyalah suara anjing. Atau Anda temukan refleksi dialektis yang lain bahwa seluruh riuh rendah kebudayaan, politik dan peradaban yang selama berabad-abad selama ini sesungguhnya adalah ekspresi Anjing-anjing. Atau Nevi itu sendiri adalah anjing yang menyalak-nyalak sendirian. Meskipun kalau Anda belajar kepada Tuhan, Anda akan bisa membedakan antara “asu” dengan “kirik” dengan “Kithmir” dengan “Ar-Roqim”. Atau ambil view lainnya; “Ulaika kal an’am, bal hum adholl”.  Sesunggguhnya di sekitarmu di pemukaan bumi ini adalah hewan-hewan, bahkan lebih hina dari itu.

Terserah Anda. Terpulang pada kedaulatan rohaniahmu masing-masing.****

Jakarta, 21 November 2019
Emha Ainun Nadjib

Buku Cak Nun Majalah Sabana